Bupati Sergai Kunjungi Wisata Tani di Zanzibar

276

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Disela-sela kegiatan Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir. H. Soekirman yang didaulat sebagai pembicara dengan tajuk ‘how to strengthen potential of religious actors in promoting peace’ di Zanzibar Tanzania.

Sekitar dua jam menjelang keberangkatannya ke bandara untuk kembali ke Indonesia, Soekirman menyempatkan untuk melihat potensi khususnya di bidang pertanian yang ada di negara bebas sampah plastik tersebut. Dibantu guide bernama Juma, yang menawarkan wisata spices tour Zanzibar .

Demikian dikisahkan Bupati Soekirman yang disampaikan kepada Kadis Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Drs. H. Akmal M.Si melalui WhatsApp (WA) langsung dari Zanzibar, Tanzania, Senin (23/9/2019) malam.

Dikatakan Soekirman, saat berbincang-bincang dengan guide dalam bahasa Inggris, sebagai Ketua Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani), ia ingin sekali melihat lapangan.

Rupanya di hotel-hotel Zanzibar ada semua paket tour rempah-rempah.

“Baru saya ingat, bukankah Zanzibar sejak dulu terkenal sebagai pulau penghasil cengkeh. Setelah baca harga dan janji dua jam harus sampai di lobi hotel, tour dadakan itu dimulai. Sebuah mobil telah siap membawa kami ke desa wisata yang dikemudikan sopir bernama Ali,” terang Soekirman.

Seorang remaja telah siap membukakan pintu mobil. Bocah kampung hitam manis, langsung mengucap  ‘Assalamualaikum, I am Syarif, and I will guide you to see this farm’.

Bahasa Inggris bocah ini lancar, sopan, pakaiannya pun rapi.

“Mulanya saya curiga, kok terlalu ramah dan baik ini bocah. Saya tanya Ali, apakah memang dia guide resmi?. Ali mengiyakan, karena dirinya hanya sopir dan guide jalan, untuk di lokasi anak-anak desa yang akan handle tour,” kata dia.

Akhirnya ia ikuti Syarif yang ramah, walaupun banyak bocah sebaya yang duduk di sekitar parkiran. Tidak ada pula petugas parkir, apalagi rebutan tamu.

Di awali lipstik flower.

“Ini namanya pohon lipstik, apakah anda pernah melihatnya?” tanya guide Juma. “Saya jawab ya”.

“Sebagai ketua penyuluh saya kenal, kalau di Indonesia namanya pohon kutek dan kita gunakan sebagai pewarna main-mainan”. Syarif menjelaskan guna buah lipstik.

Setelah selesai buah lipstik, kami dibawa keliling berturut-turut ke pohon belimbing, sereh wangi, belimbing wuluh, lengkuas, kulit manis, vanili, lada, buah pala, kapulaga, dan akhirnya istirahat di bawah pohon kenanga.

Syarif sangat menguasai cerita setiap tanaman, manfaat, sejarah, produksi, prosesing yang ditunjukkan pada kami.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu. Soekirman khawatir terlambat tiba di hotel.

“Saya katakan tidak usah kita lanjutkan, cukup sampai disini. Sepintas saya hanya melirik pohon jati, pisang, ketela, yang ditanam tidak beraturan dan kualitasnya juga tidak baik. Barulah di bawah bunga kenanga ada yang membawa parfum buatan rakyat setempat.”

Mereka bilang bunga-bunga ini setelah dikeringkan diproses di ekspor ke Prancis. Kemudian disana diolah jadi parfum terkenal dan sangat mahal harganya.

Namun di Zanzibar karena mayoritas Muslim tidak suka dengan parfum beralkohol. Silahkan pilih yang mana, vanila, kenanga, rose, dan lainnya.

“Akhirnya karena tidak banyak waktu, saya ambil 3 botol kecil seharga TS (Tanzania Shiling) 30.000. Ada juga minyak cengkeh, sabun dan lainnya buatan masyarakat setempat yang ditawarkan untuk oleh-oleh.

Sebelum meninggalkan lokasi, Syarif minta waktu sejenak karena ada temannya yang ingin memberi kenang-kenangan.

“Apa itu?”. “This is to memorize you to our village, you will wearing tie, crown which hand made from coconut leaf.”

“Saya dan istri kemudian dipakaikan dasi, topi, dan mahkota yang mereka anyam sendiri dari bahan daun kelapa, foto untuk kenangan.”

Sambil dipasangkan dasi, teman Syarif demo kelincahan memanjat pohon kelapa dengan cepat sambil bernyanyi lagu-lagu daerah. Layaknya senandung di desa kita di Indonesia.

Turun dari pohon kelapa, sebuah kelapa muda mereka kupas dengan cepat. Akhirnya, minum air kelapa muda yang segar, dan memakan daging buahnya sekalian.

“Ketika saya tanya Syarif, berapa tarif jasa sebagai pemandu untuknya dan teman-temannya?. Dia jawab, up to you sir, we just want to make you happy visit our place. So, we don’t have any rate for visitor. Bah, sulit juga ini pikir saya. Sistemnya hanya tip saja. Anda puas, kami bangga. Akhirnya untuk mereka bertiga saya beri ST 10.000 per orang, atau sekitar Rp60.000 per orang. Dari mulai masuk pekarangan, parkir mobil, dan guide sampai suguhan air kelapa muda, tidak ada tarifnya.”

Melihat realita di Kota Zanzibar, tentu menjadi tantangan buat Indonesia, terutama para penyuluh pertanian di desa. Potensi kita luar biasa dalam segala hal dibanding Zanzibar.  (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda