Bahas Idul Fitri, Bupati Jarot Pimpin Rapat Bersama Forkopimda dan Alim Ulama

109

SINTANG-KALBAR, BERITAANDA – Bupati Sintang Jarot Winarno memimpin rapat dalam rangka membahas berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah bersama unsur forkopimda, ormas Islam, alim ulama dan tokoh pemuda, bertempat di Pendopo bupati setempat, Senin (18/5/2020) malam.

“Alhamdulillah malam ini kita sudah ketemu para alim ulama, forkopimcam dan forkopimda, bahas seperti apa kita kita nanti melaksanakan sholat Ied, takbiran keliling, takbiran di masjid atau surau, tradisi menembak meriam karbit dan sejumlah kegiatan lainnya,” kata Jarot usai rapat.

Beberapa hal disepakati, kata Jarot, dimana pemkab akan menyiapkan data terkait zona penyebaran Covid-19. Seperti dimana daerah yang zona merah, zona kuning mendekati merah, zona kuning dan zona hijau. Sehingga data zona penyebaran Covid-19 itu akan menjadi rujukan dalam pelaksanaan Idul Fitri, baik itu sholat, takbiran keliling, takbiran di masjid atau surau, dan sejumlah tradisi lainnya saat lebaran tiba.

“Data yang kita miliki akan dijadikan rujukan untuk menentukan mana daerah yang boleh melaksanakan sholat Ied dan kegiatan lainnya. Yang zona merah itu sudah lockdown parsial, yang sudah kita lakukan disejumlah tempat seperti di daerah Binjai, Rarai, Menyumbung. Sekarang masih berlaku semi lockdown di Gang Keramat Teluk Menyurai. Itu tidak boleh ada sholat Ied di zona merah,” ujar Jarot.

Kemudian, lanjut Jarot, di zona kuning juga diimbau untuk tidak melaksanakan sholat Ied dan kegiatan lain yang bersifat mengumpulkan massa. Tapi kalau sebagian masih tetap melaksanakan, harus mengikuti dua protokol, yakni protokol kesehatan dimana harus ada thermogun, tidak menggunakan sajadah masjid atau karpet tapi bawa masing-masing, dilakukan penyemprotan disinsfektan, ada fasilitas cuci tangan di depan masjid, tempat wudhunya yang baik.

“Lalu ada protokol pelaksanaan ibadanya yang kami ambil dari masukan majelis ulama, shafnya diatur jaga jarak, Meskipun mulitafsir terkait jaga jarak sholat itu, yang penting dia harus jaga jarak, lalu khutbahnya pendek-pendek supaya tidak terlalu lama kumpulnya, kira begitu, kita akan keluarkan edarannya,” jelas Jarot.

Selanjutnya, terang Jarot, untuk tradisi takbiran keliling tidak dilaksanakan atau tidak dizinkan, karena hal itu bisa berpotensi menyebabkan kerumanan masyarakat dan bisa menyebabkan penyebaran transmisi penyakit. Terlebih memang kita tidak mungking mengikuti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) soal kendaraan roda empat yang harus separuh saja kapasitasnya, dimana supir di depan penumpang di belakang.

“Kita ganti dengan takbir keliling menggunakan Sampan Bidar Pelangi Jubair, kita pakai itu, akan berkeliling sepanjang tepian sungai ini berapa kali, sehingga tidak mengurangi kemeriahan,” beber Jarot.

Masih kata Jarot, untuk tradisi meriam karbit diperbolehkan, asal tetap menerapkan protokol jaga jarak, karena sering saat malam takbiran juga menyulut meriam karbit dan letaknya rapat-rapat. Nah, kami meminta sekarang harus diatur jarak antara meriam yang satu dengan yang lainnya, jaga jarak manusianya juga diatur, dan harus menggunakan masker.

“Saya biasa kalau malam Idul Fitri ini nembak meriam karbit lah ya, itu biasanya dia rapat-rapat tu, sekarang diatur longgar-longgar ya, manusianya pun diatur, menggunakan masker, kira-kira gitu,” tukasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sintang H. Ulwan mengatakan, selama masa Covid-19 ini, pihaknya sudah melakukan tiga kali pertemuan, dan dimana pertemuan-pertemuan tersebut tidak ada diambil keputusan yang bersifat fatwa. Karena fatwa sudah diputuskan oleh MUI Pusat. “Langkah yang kami ambil di Sintang ini adalah sifatnya imbauan, dan imbauan itu sifatnya dinamis dan situasional,” jelas Ulwan.

Dijelaskan Ulwan, pihaknya mengimbau dimana daerah-daerah yang sudah dinyatakan zona merah tidak usah melaksanakan sholat Idul Fitri dan kegiatan menyambut lebaran lainnya. Kalau untuk yang zona kuning dipersilahkan, tapi harus mengikuti protokol yang ada. Dan zona hijau pun demikian, tetap harus ada protokolnya.

“Zona kuning dan hijau diserahkan kepada pengurus ormas yang ada di lingkungan setempat untuk menjadi pertimbangan, kemudian koordinasi dengan pihak pemerintah setempat. Yang zona merah ibadah di rumah masing-masing saja. Ini yang kami sudah sampaikan kepada umat muslim Sintang,” ungkap Ulwan.

Kepala Kemenag Kabupaten Sintang H. Anuar Akhmad mengatakan, Menteri Agama sampai saat ini belum mencabut surat edaran Nomor 6 Tahun 2020 tentang segala aktivitas itu dilaksanakan di rumah, seperti belajar di rumah, bekerja di rumah, ibadah juga di rumah. Untuk itulah, ia menyarankan pelaksanaan sholat Ied 1441 Hijriah ini di rumah saja.

“Kalaupun ada ormas-ormas Islam, pengurus masjid melaksanakan kegiatan ibadah di masjid, kita berharap benar-benar mematuhi protokol kesehatan Covid-19 yang sudah ditentukan, karena memang kita tidak tahu penyebaran penyakit ini dari siapa, entah dari depan kita, kiri kanan kita, belakang kita atau entah kita ketemu dimana dan sebagainya, virus ini bisa menjangkiti kita,” pesan Anuar.

Sebab itulan, Anuar memohon pengurus masjid harus bertanggung jawab terhadap jamaah yang masuk ke dalam masjid dalam pelaksanaan kegiatan ibadah yang memang harus menerapkan protokol yang ada.

“Kalau saya masih berpegang pada surat edaran Nomor 6 Tahun 2020 tadi dari Menteri Agama, pelaksanaan sholat Idul Fitri itu di rumah. Bagaimana cara pelaksanaannya sudah ada dalam fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 itu sangat jelas sekali, kalau berjamaah begini, kalau empat orang begini, kalau di bawah empat orang begini. Ada yang pandai khutbah silahkan, kalau di rumah tidak ada yang pandai khutbah walaupun jamaahnya lebih dari empat orang, ya tidak usah pakai khutbah tidak apa, fatwanya sudah jelas sekali,” tuturnya.

Anuar juga berpesan kalau melaksanakan sholat Idul Fitri di rumah, masyarakat jangan berpikir bahwa ibadah itu lalu tidak diterima, karena situasi dan kondisi seperti inilah keringanan yang diambil untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kalau yang melaksankan sholat Idul Fitri dan lainnya sesuai zona yang telah ditentukan boleh apa tidak, saya persilahkan, tapi harus benar-benar mengikuti protokol kesehatan, jangan sampai kita mencederai, jangan sampai keputusan yang diambil oleh kita, masyarakat kita, jamaah kita justru semakin parah dengan situasi dan kondisi yang sudah ada ini,” pesan Anuar.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Sintang Gusti Ardania menambahkan, dalam menyemarakankan hari besar Islam seperti Idul Fitri yang beberapa hari lagi kita laksanakan, kami sudah mengambil suatu kesepakatan bersama sesuai dengan imbaun dan beberapa petunjuk. Untuk tahun ini, PHBI mengambil kesimpulan tidak melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan, seperti biasa dilaksanakan di lapangan sepakbola Kodim 1205/Sintang.

“Lalu di tengah-tengah masyarakat kita hanya mengimbau kepada masjid-masjid, manakala mau melaksanakan sholat Idul Fitri harus ikuti peraturan pemerintah, ikuti petunjuk dari Dinas Kesehatan. Sepanjang memang itu dapat kita laksanakan, saya kira itu mungkin tidak ada permasalahan,” pungkas Gustu Ardania. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda