UGNP Terima Hand Tractor Berkonverter KIT BBM ke BBG dari Kemenristek Dikti

213

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan (UGNP) melalui Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) menerima bantuan hand tractor berkonverter KIT BBM ke bahan bakar gas (BBG) dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), yang diserahkan oleh Direktur Pengembangan Teknologi Industri di Desa Muara Purba Nauli, Kecamatan Angkola Muaratais, Kamis (21/11/2019) sore.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu dalam sambutannya mengatakan, sesungguhnya ekonomi dunia sedang bermasalah, dan Indonesia merupakan bahagian dari ekonomi global yang akan berdampak besar dari permasalahan ekonomi dunia. Apalagi kita yang di Tabagsel akan berdampak lebih susah dengan masalah ekonomi global tersebut.

“Oleh karena itu sudah saatnya Indonesia memiliki program teknologi ini, sehingga bila dikemas dengan baik, program konversi BBM ke BBG akan ikut berdampak penghematan ekonomi bagi petani. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan BBG sangat menguntungkan karena dinilai lebih hemat. Untuk satu hektare hanya membutuhkan 1 tabung gas elpiji 3 Kg, itu setara dengan 12 liter solar,” tambahnya.

Terlebih lagi, lanjut Gus Irawan Pasaribu, untuk mendapatkan solar saja petani cukup kerepotan. Karena di kawasan pedesaan mencari solar cukup sulit. Dengan menggunakan teknologi ini, gas yang ada di dapur pun bisa dipergunakan sebentar untuk bertani.

Sementara itu Direktur Pengembangan Teknologi Industri, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Hotmatua Daulay mengatakan, sesungguhnya penemu teknologi ini merupakan hasil riset anak bangsa atau uji terap anak-anak Tapsel, karena penemunya berasal dari Tapsel yang bernama Abdul Hakim Pane.

“Satu buah hand tractor berkonverter KIT BBM ke BBG ini masih produk riset yang belum diproduksi massal,” terang Hotmatua.

Adapun yang akan kita terapkan disini adalah hand tractor yang biasanya memakai bahan bakar solar, sekarang bisa dipakai dengan menggunakan gas. Dan teknologi ini baru satu-satunya yang ada di dunia, yaitu Indonesia.

“Karena teknologi ini belum ada di Amerika, Japan maupun Korea. Sedangkan di Indonesia saja tidak semua provinsi ada, cuma di Tapsel yang baru ada diuji terapkan teknologi ini,” terang Hotmatua.

Tractor tangan yang di uji terap ini merupakan model baru, cukup bagus, kalau dulu masih diengkol sekarang cukup distarter. Teknologi ini bisa menghemat devisa banyak sekali, kalau satu hektare bisa menggunakan tabung gas 3 Kg harganya sekitar Rp30 ribu.

“Kalau pakai solar harganya bisa Rp 80-90 ribu, berarti satu hand traktor saja sudah bisa menghemat Rp50 ribuan, itu baru satu tractor kalau ada seribu tractor sudah berapa?. Jadi menghemat banget,” ujar Hotmatua.

Kemudian, Bupati Tapsel yang diwakili Kepala Bappeda Abadi Siregar, menyampaikan permintaan maaf Bapak Bupati karena tidak bisa hadir bersama kita, dikarenakan rangkaian HUT Tapsel.

“Bapak Bupati sedang mempersiapkan lahan pembangunan Kebun Raya Sipirok yang akan dilakukan peletakan batu pertamanya pada tanggal 24 Nopember 2019,” kata dia.

“Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih kepada Kemenristek Dikti yang telah memilih Tapsel dan juga memilih UGNP sebagai tempat uji coba penerapan teknologi yang dihasilkan oleh Ristek. Dan saya juga sangat mengharapkan teknologi-teknologi lainnya agar bisa diterapkan ditempat kami,” harap Abadi yang mewakili Bupati Tapsel.

Setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Ristekdikti dengan UGNP, dan penandatanganan PKS antara PT. CGS dengan Fakultas Pertanian UGNP. Lalu dilanjutkan dengan serah terima dan uji terap hand tractor berkonverter Kit BBM ke BBG dari Ristekdikti/Brin ke UGNP melalui Bupati Tapsel.

Hadir dalam penyerahan hand traktor tersebut antara lain Ketua Fraksi Gerindra Dolly Putra Parlindungan Pasaribu, anggota DPRD Tapsel, Rektor UGNP Mohd Arifin Lubis, Kadis Pertanian Bismark Muaratua, Kadis Ketahanan Pangan Efrida Yanti Pakpahan, Kabag Humas dan Protokol Isnut Siregar, Camat Angkola Muaratais AM Fadhil Harahap, para kades setempat, tokoh adat, tokoh masyarakat dan para kelompok tani. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda