Tipu Hingga Rp69 Juta Lebih, Oknum PNS Ini Diganjar 2,6 Tahun Penjara

987

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Dengan sesekali tundukkan kepala dan wajah menengadah ke depan tanda rasa penyesalan, terdakwa Indariso (56) mendengarkan amar putusan dari majelis hakim dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Kayuagung, Rabu (18/12/2019).

Dalam persidangan itu, hakim ketua Eddy D. Sembiring SH MH bacakan putusan bagi terdakwa warga Dusun II Desa Petaling Rt 04 Rw 02 Kecamatan Tulung Selapan Ogan Komering Ilir (OKI) ini, telah terbukti secara dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan.

“Perbuatan terdakwa berdasarkan proses persidangan dinyatakan bersalah melanggar dalam Pasal 378 KUHP, menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 2 tahun 6 bulan penjara,” kata hakim ketua dengan anggota Lina Safitri Tazili SH dan Firman Jaya SH.

Hukuman untuk terdakwa yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wendy Anggraini SH, yakni selama 3 tahun penjara. Usai dibacakan amar putusan, terdakwa yang tanpa didampingi oleh penasihat hukum ini langsung menerima.

Terungkap, kata Jaksa, perbuatan terdakwa terjadi dan mulai dilakukan pada Jumat 8 November 2013 hingga bulan Juli 2014. Sekira pukul 10.WIB Wib, di rumah korban Asmir Dusun II Desa Pulau Betung Kecamatan Pampangan Kabupaten OKI.

Sambung Jaksa, yakni bermula dari saksi Asharudi merupakan adik korban berkenalan dengan anak terdakwa yakni Winda. Lalu terdakwa menawarkan Asharudin untuk menjadi PNS OKI tanpa jalur tes walaupun Asharudin ijazah SMP.

“Selain itu, terdakwa juga menjanjikan akan mengurusi ijazah SMA Asharudin dengan ikut paket C, sehingga membuat Asharudin memberitahukan kepada korban Asmir dan keluarga bahwa terdakwa bisa urus masuk PNS asal disiapkan uang,” ungkap Jaksa.

Selanjutnya, pada 8 November 2013 sekira pukul 10.00 Wib, terdakwa mendatangi rumah korban Asmir. Kata Jaksa lagi, dari pertemuan itu terdakwa meyakinkan Asmir dan keluarga bisa mengurusi Asharudin dapat masuk PNS, karena banyak kenalan pejabat di lingkungan Pemda OKI dengan menyiapkan sejumlah uang, tapi bila tidak lulus maka uang dikembalikan.

“Rupanya, korban yakin dan percaya kepada terdakwa dan meminta uang Rp15 juta dan korban menyanggupi Rp12.500.000. Tak hanya disitu pada 26 November 2013 terdakwa kembali lagi datangi rumah korban meminta sejumlah uang senilai Rp35 juta. Dengan alasan untuk ketahui bocoran kelulusan pengumuman dan untuk pejabat OKI,” tandas Jaksa.

Lalu, terdakwa kembali minta uang Rp3 juta untuk mengikuti paket C agar dapat ijazah SMA. Kemudian kembali mendatangi korban pada 31 Desember 2013 meminta uang Rp 6 juta. Lanjut Jaksa, setelah itu terdakwa minta uang melalui telepon pada 10 Januari 2014 sebesar Rp3.250.000, dikirimkan melalui wesel pos. Maka oleh korban Asmir dikirim melalui wesel pos SP Padang.

“Kemudian, 28 Januari 2014 Rp 2,5 juta, pada 6 Februari 2014 minta senilai Rp273.00 dan 1 Juli 2014 senilai Rp450 ribu. Terdakwa mendatangi rumah korban minta uang Rp6,5 juta pada 16 Januari 2014. Dan setelah ada pengumuman PNS tahun 2014, nama Asharudin ternyata tidak ada dalam kelulusan CPNS,” imbuh Jaksa

Dilanjutkan Jaksa lagi, sehingga korban langsung menghubungi terdakwa yang saat itu beralasan, agar korban untuk bersabar, masih menunggu kelulusan kedua. Tetapi sekian lama ditunggu tidak ada.

“Maka korban mendatangi rumah terdakwa, minta uang yang telah diberikan agar dikembalikan. Terdakwa berjanji akan mengembalikan, namun tak mengembalikan. Akibat perbuatan terdakwa, korban Asmir mengalami kerugian senilai Rp69.473.000,” pungkas Jaksa. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda