Polres OKI dan Serdik Sespimmen Bedah Akar Persoalan Karhutla

20

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap terlihat dari kobaran api di permukaan. Namun, persoalan sebenarnya jauh lebih kompleks. Bara yang tersimpan di lahan gambut, keterbatasan sumber air, sarana pemadaman yang belum memadai, hingga kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar menjadi sejumlah faktor yang terus dihadapi dalam penanggulangan karhutla.

Berbagai persoalan tersebut dibedah Polres Ogan Komering Ilir (OKI) bersama peserta didik Sespimmen Polri Dikreg ke-67 Pokjar XIV melalui Focus Group Discussion (FGD) di Kampung Damar Sari, Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kamis (10/9/2026).

FGD yang merupakan bagian dari Kuliah Kerja Profesi (KKP) tersebut membahas penanggulangan karhutla dari berbagai aspek. Mulai dari koordinasi lintas sektoral, dukungan anggaran, sarana dan prasarana, pengelolaan lahan gambut dan sumber air, hingga keterlibatan masyarakat, pemerintah desa, serta korporasi.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto mengatakan, upaya pencegahan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Menurutnya, kolaborasi seluruh pihak dan pencegahan sejak dini menjadi kunci untuk menekan potensi kebakaran.

“Karhutla tidak bisa ditangani sendiri oleh kepolisian. Kuncinya kolaborasi dan pencegahan sejak dini, terutama dengan melibatkan masyarakat yang berada paling dekat dengan wilayah rawan kebakaran,” katanya.

Sejumlah praktik penanganan karhutla yang telah berjalan di OKI turut dibahas dalam FGD tersebut. Salah satunya pemanfaatan Grup WhatsApp ‘OKI Peduli Api’ untuk mempercepat komunikasi dan koordinasi ketika ditemukan potensi maupun kejadian kebakaran. Selain itu, dilakukan pula pembangunan sekat kanal dan sumur bor serta penguatan kapasitas masyarakat agar mampu melakukan pencegahan dan pemadaman awal.

Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi. Keterbatasan anggaran dan peralatan, sulitnya mendapatkan sumber air, karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar, serta kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan cara membakar membuat pencegahan karhutla membutuhkan kerja yang konsisten dan berkelanjutan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bakti sosial kepada masyarakat Kampung Damar Sari. Bagi Polres OKI dan Serdik Sespimmen, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda penyerahan bantuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan sekaligus mengajak masyarakat terlibat langsung dalam pencegahan karhutla.

Di wilayah yang rawan karhutla, masyarakat menjadi mata pertama yang dapat melihat kemunculan asap. Mereka juga dapat menjadi tangan pertama dalam mencegah api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Sebab, karhutla tidak selalu dimulai dari kobaran api yang besar. Tidak jarang, semuanya bermula dari api kecil yang terlambat dideteksi dan dicegah. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda