PMU Kemitraan Sumsel Sosialisasikan Perhutanan Sosial di OKI

459

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Project Managemen Unit (PMU) Kemitraan Sumatera Selatan (Sumsel) sosialisasikan perhutanan sosial, merupakan program salah satu fokus utama yang sedang dijalankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia (RI).

Kegiatan sosialisasi dan edukasi tentang program tersebut dilaksanakan di 3 desa wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang merupakan desa peduli gambut, antara lain di Desa Lebung Gajah, Sungai Lumpur dan Simpang Tiga Abadi. Dimana pesertanya berasal dari pemerintah desa juga masyarakat setempat.

“Yang melatarbelakangi program perhutanan sosial ini sendiri, karena pemerintah pusat melalui KLHK memiliki dua agenda besar, yakni peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan juga penciptaan model pelestarian hutan yang efektif,” ungkap Ketua PMU Kemitraan Sumsel Amir Faisal, Sabtu (7/12/2019).

Ia juga menjelaskan, program perhutanan sosial ini memiliki paradigma bahwa pembangunan tidak hanya dilakukan mulai dari kota, tetapi juga dari pinggiran. Yakni oleh masyarakat sekitar hutan, dimana tiga pilar dalam pelaksanaannya antara lain lahan, kesempatan berusaha dan sumber daya manusia.

“Komitmen KLHK tidak main-main, buktinya telah ada lahan seluas 12,7 juta hektare lahan yang siap untuk dijadikan objek program unggulan KLHK tersebut. Dan berdasarkan Permen LHK Nomor 83 Tahun 2016, tentang pedoman dan edukasi kepada masyarakat tentang pemberian hak pengelolaan, perizinan, kemitraan dan hutan adat di bidang perhutanan sosial,” kata dia.

Program ini, kata dia lagi, juga bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan teritorial dan keadilan bagi masyarakat setempat serta masyarakat hukum adat yang berada dalam atau sekitar hutan, dalam rangka kesejahteraan masyarakat dan pelestarian fungsi hutan.

“Program ini memiliki berbagai skema yang memiliki inti sama. Skema yang diusung dalam program ini adalah HUTAN DESA (HD), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR/IPHS), Hutan Adat (HA) dan kemitraan kehutanan,” jelas dia.

Sementara itu, Tenaga Ahli Perhutanan Sosial Sigid Widagdo mengatakan, bahwa tujuan sosialisasi program perhutanan sosial dan proses perizinan ini untuk meningkatkan hubungan harmonis antara pengelolaan hutan.

“Tujuan acara sosialisasi ini juga sekaligus menyampaikan program pemerintah kepada masyarakat agar bisa memanfaatkan dan mengelola hutan dengan baik dan benar, karena selama ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya,” ujar dia.

Oleh karena itu masyarakat diharapkan sadar akan pentingnya merawat serta menjaga hutan. Lanjut dia, sebab selama ini banyak potensi hutan yang belum dipahami oleh masyarakat, termasuk salah satunya Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

“Manfaat dan potensi hutan itu masih banyak harus kita gali, contohnya dari HHBK yang bisa kita manfaatkan, yakni rotan, jereunang, madu dan lain-lainnya. Itu juga hasil hutan selain dari kayu. Intinya kita memberikan pemahaman, karena selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa hasil hutan itu hanya kayu saja,” tandas dia.

Menurut dia, selain dari kayu, ojek wisata juga merupakan salah satu hasil dari hutan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Jadi, lanjutnya, fungsi dan kegunaan hutan itu selain kayu masih banyak yang lainnya.

“Kita akan terus berupaya memberikan edukasi dan pemahaman terhadap masyarakat bahwa manfaat hutan itu sangat besar, dan kita juga mengingatkan agar hutan terus dijaga dengan baik oleh masyarakat,” imbuh dia.

Ia juga berharap agar masyarakat menjaga dan terus melestarikan hutan dengan baik dan benar, dengan prinsip hutan lestari masyarakat sejahtera.

“Kita berharap kedepan masyarakat bisa terus menjaga dan melestarikan hutan dengan baik dan benar, supaya bisa menghasilkan sumber pendapatan kepada masyarakat itu sendiri,” pungkas dia. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda