Organisasi Pekerja dan Aktifis Asal Sekadau Dukung Berdirinya Partai Buruh

27
Arjuna [kiri] dan Jimy Abraham [kanan]. (Dokumen)

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Berdirinya Partai Buruh Indonesia yang dideklarasikan beberapa hari lalu, mendapat tanggapan positif dari organisasi pekerja dan aktifis asal Sekadau Kalimantan Barat.

Arjuna selaku Ketua Serikat Pekerja Mandiri PLN Sekadau menyatakan harapan dengan terbentuknnya partai buruh menjadi pemersatu dan tempat memperjuangkan nasib buruh kedepanya. “Secara pribadi berharap, khususnya kawan-kawan buruh, ada wadah pemersatu,” kata Arjuna saat dimintai tanggapannya, Kamis (7/10).

Melalui jalur politik, dirinya meletakan harapan untuk perbaikan ekonomi para buruh di Indonesia. “Kawan-kawan buruh diharapkan dapat mendapatkan upah serta hak yang layak untuk dapat menyekolahkan anak dan membangun rumah,” timpal Arjuna.

Ditanya mengenai siapa yang bakal memimpin partai buruh di Sekadau, Arjuna mengatakan sampai saat ini masih menunggu koordinasi dari DPD dan DPW.

Sementara itu, Jimy Abraham yang merupakan aktifis mahasiswa di Fakultas Sosial Politik (Sospol) Universitas Tanjung Pura Pontianak sekaligus putra daerah asal Sekadau mengatakan, terbentuknya Partai Buruh yang dideklarasikan untuk ikut dalam pemilu 2024 serta terpilihnya Said Iqbal sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), menambah warna baru dalam kontestasi politik di Indonesia.

“Dengan terbentuknya Partai Buruh dalam konteks demokrasi, memang hal yang biasa jika terjadi kemunculan partai atau gerakan politik agar terlibat dalam partisipasi demokrasi. Namun yang menarik adalah, khususnya di Indonesia, kemunculan Partai Buruh ini merupakan dampak dari gerakan sosial masyarakat yang dipelopori kelompok buruh dan masyarakat sipil serta mahasiswa dalam upaya melakukan penolakan terhadap omnibus law,” beber Jimy.

Gerakan sosial yang terjadi pada saat penolakan omnibus law telah mendorong suatu gerakan politik. “Yang disampaikan oleh Saiq Iqbal, terbentukan Partai Buruh karena disahkannya omnibus law atas dasar kekalahan kaum buruh dalam memperjuangkan haknya,” timpal Jimy.

Hal tersebut, menurut Jimy, berarti gerakan yang dilakukan oleh kelompok buruh tidak hanya berhenti pada gerakan sosial yang melancarkan protes di jalanan. Tapi gerakan perjuangan kaum buruh harus masuk ke dalam sistem politik secara konstitusi terlibat di dalam eksekutif maupun legislatif.

Dengan dibentuknya Partai Buruh, Jimy berharap permasalahan buruh bisa diperjuangkan sesuai dengan kepenting bersama.

“Saat ini gerakan buruh melalui Partai Buruh memang dalam komponen sistem politik masih masuk dalam bagian infrastruktur yang menggalang massa dalam upaya kontrol terhadap kebijakan pemerintah. Namun jika Partai Buruh bisa masuk dan memenangkan kontestasi politik, artinya ada tokoh atau figur yang akan masuk dalam komponen sistem politik suprastruktur yang langsung terlibat dalam pembuatan peraturan ataupun legislasi yang berpihak terhadap kaum buruh,” papar pemuda yang berasal dari Kecamatan Sekadau Hulu itu. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda