OKI Sumbang Devisa dari Ekspor Olahan Bubur Kertas

159

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) H. Iskandar, SE optimis daerahnya mampu menyumbang penerimaan yang besar bagi negara dari ekspor hasil pengelolaan bubur kertas, seiring telah beroperasionalnya terminal khusus (tersus) OKI Pulp and Paper Mills di Tanjung Tapa Ogan Komering Ilir.

“Tentu dengan beroperasionalnya pelabuhan ini kita optimis mampu meningkatkan PDRB Sumsel dan penerimaan negara dari sektor industri kertas,” ungkap Iskandar saat menghadiri undangan PT OKI Pulp and Paper Mills dalam rangka meninjau operasional dermaga samudra Tanjung Tapa PT OKI Pulp, Senin (20/7/2020).

Iskandar mengapresiasi atas investasi besar yang ditanamkan Sinar Mas Group di Bumi Bende Seguguk. Dia berharap, buah pembangunan itu dapat dirasakan masyarakat Sumsel dan OKI khususnya. “Kita bangga ada industri sebesar ini di Sumsel, harapannya dapat mendongkrak PDRB yang muaranya untuk kesejahteraan masyarakat,” kata dia.

Selain dampak ekonomi, Iskandar juga menekankan pentingnya menjaga aspek lingkungan dan tenaga kerja. “Jadi penting juga agar perusahaan mampu menjaga kelestarian lingkungan, menjaga konsesinya dari kebakaran hutan dan lahan, termasuk prioritaskan tenaga kerja lokal untuk pekerjaan unskill,” pintanya.

PT OKI Pulp and Paper Mills telah membangun terminal khusus internasional (tersus) untuk kebutuhan ekspor produk olahan bubur kertas. Dermaga modern tersebut terletak di Desa Simpang Tiga Jaya Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel.

“Ini adalah kawasan terintegrasi dari HTI, pulp hingga transportasi pelabuhan,” jelas Head Publik Affair PT OKI Pulp and Paper Mills, Gadang Harto Hartawan.

Pelabuhan ini, dijelaskan Gadang, dibangun dalam rangka menunjang pemasaran produk OKI Pulp and Paper menuju pasar internasional. “Industri pulp akan survive jika memiliki sarana transportasi memadai. Kita salah satunya dengan target eksvansi pasar internasional,” tegas dia.

Pembangunan terminal khusus ini, ungkap dia, memakan waktu 18 bulan masa konstruksi dan telah mendapat izin operasi dari Kementerian Perhubungan pada awal Juli 2020. “Jadi sudah beroperasional. Kita tunggu alat berat bongkar muat crane yang kini sedang diinstalasi di Boom Baru,” ungkapnya.

Gadang menambahkan, pembangunan dermaga laut itu menghabiskan dana mencapai US$200 juta atau senilai Rp2,91 triliun.”Investasi besar untuk sebuah pelabuhan khusus, makanya untuk kepentingan hilirisasi. Jadi produk tisu bisa berjalan lancar sampai keluar melalui kapal pakai kontainer,” jelasnya.

Terkait hitung-hitungan PDRB yang dihasilkan dari eksport olahan bubur kertas ini, Gadang belum bisa menyebutkan. “Kita baru mulai di Juli ini, dan perusahaan komitmen untuk pembangunan daerah dan masyarakat sekitar,” tutupnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda