Miris! Siswa SDN Aek Tuhul Padangsidimpuan Belajar di Lorong

549
Proses belajar mengajar di SDN 200301 Pudun/ Aek Tuhul Padangsidimpuan terpaksa digelar di lorong sempit sekolah.

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Suasana proses belajar mengajar di SD Negeri 200301 Pudun/Aek Tuhul Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan terbilang sangat memprihatinkan dan kurang layak.

Berdiri sejak tahun 1959, sekolah ini selalu menampung siswa lebih. Selain lokasinya berada di tengah pemukiman penduduk, masyarakat ataupun orang tua siswa lebih mempercayakan anaknya belajar di sekolah ini, termasuk dari Desa Aek Tuhul, Aek Bayur, Pudun Julu, Pudun Baru, Siloting, bahkan dari Kelurahan Silandit.

Namun, sayangnya kondisi sarana dan prasana sekolah terlihat masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Sehingga tak heran, jika sebagian siswanya bertahun-tahun terpaksa mengikuti proses belajar dan mengajar di lorong sekolah.

“Jumlah siswa saat ini mencapai sekira 340 orang plus 20 orang tenaga pengajar. Tadinya ruangan ada 7, ruang kelas ada 6, ditambah 1 ruangan para guru yang kini diubah menjadi ruangan belajar karena kebutuhan mendesak,” kata Awaluddin Hasibuan, ketua komite sekolah setempat kepada BERITAANDA, Selasa (18/6/2019).

Keputusan ini, kata dia, diambil setelah komite sekolah bersama kepala sekolah berikut para guru menyepakati untuk menggunakan ruangan guru sebagai tempat belajar. Dan selanjutnya disusun jadwal masuk siswa dengan tiga gelombang.

“Kelas 1 siswanya cukup banyak, oleh karena itu dijadikan dua gelombang, dan jam masuknya dijadwal bersamaan dengan siswa kelas 2. Sedangkan sisanya, mereka belajar serta ditempatkan di bagian lorong sekolah,” jelasnya.

Menurut Awaluddin, pihak sekolah dan komite sudah berulangkali menyampaikan keluhan ini ke Dinas Pendidikan Pemkot Padangsidimpuan, baik itu melalui lisan maupun tulisan semacam proposal. Diharapkan, akan ada solusi tepat untuk mengatasi permasalahan kekurangan ruang belajar mengajar, termasuk di dalamnya pembangunan ruang kelas baru dari pemerintah. Sayangnya, harapan yang diinginkan ini hingga kini belum juga terealisasi.

Ironisnya, tambah Awaluddin, terhitung sudah 11 tahun lamanya SD Negeri 200301 Aek Tuhul/Pudun tak lagi pernah menerima bantuan. Terakhir adalah bantuan pembangunan gedung perpustakaan pada tahun 2007 silam.

Belajar di lorong sekolah memang tak salah. Hanya saja, bila kondisi ini terus berkelanjutan, maka dipastikan akan sangat mengganggu konsentrasi siswa maupun guru dalam hal menyampaikan materi pelajaran.

Ironi lembaga pendidikan di SD ini tidak sampai disitu. Jika musim penghujan tiba, pemandangan tak lazim dengan banyaknya para siswa yang melepas sepatu akan tersuguhkan. Lantai lorong terendam air setinggi 10 Cm atau semata kaki adalah musababnya.

Seperti penuturan Sami Pendika, salah seorang siswa yang mengaku merasa sangat tidak nyaman belajar dengan suasana sumpek seperti itu.

“Susah menjaga kebersihannya, karena pintu keluar cuma satu, dan ditambah posisi kelas berdekatan dengan toilet,” keluhnya.

Pantauan BERITAANDA di lokasi, lorong sekolah dengan bidang sekira 3×18 meter dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi 3 ruang kelas. Sebagai pemisah, antara ruangan diberi sekat pembatas dengan triplek seadanya.

Di ruangan pengap tanpa ventilasi (saluran udara) inilah berkumpul kelas III/a, III/b, dan kelas V/a. Sempitnya ruangan praktis membuat suara dari sudut ke sudut kelas lainnya jelas-jelas sangat terdengar. Kegiatan belajar mengajar di sekolah ini mungkin dapat dikategorikan jauh dari kata layak.

Lebih parahnya, lagi-lagi dengan diberi sekat triplek sebagai pembatas. Gedung perpustakaan seluas 4×6 meter pun terpaksa disulap menjadi 4 ruangan. Ruangan kepala sekolah, guru, usaha kesehatan sekolah (UKS), dan ruangan perpustakaan itu sendiri. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda