Lampung Tancapkan Pondasi Kemandirian Energi Lewat Bioetanol Development Center

0

PESAWARAN, BERITAANDA – Dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung Asta Cita Presiden, Provinsi Lampung menancapkan pondasi awal pembangunan melalui peluncuran Bioetanol Development Center di Masgar, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin (14/09/2026).

Tiga kegiatan dimulai sekaligus. Pertama, penandatanganan MoU para pihak. Kedua, penanaman simbolis sorgum. Ketiga, pembangunan pabrik seluas 10 hektare dengan target pengembangan hingga 20 hektare di Tegineneng, Pesawaran. Tindak lanjut ini merupakan hasil dari penandatanganan Joint Declaration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province.

Deklarasi tersebut menjadi landasan kolaborasi antara Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Wamen BKPM Todotua Pasaribu mengatakan, kegiatan tersebut berkaitan erat dengan upaya memperkuat ketahanan energi, hilirisasi, transisi dan bauran energi, serta ketahanan ekonomi.

“Pada konteks bioetanol ini atau solar (B50), sebenarnya negara kita sebagai penghasil CPO dengan luas sawit terbesar di dunia. Artinya, sangat besar potensinya,” katanya.

Menurutnya, bahan baku dan sumber daya untuk pengembangan bioetanol sebenarnya sangat berlimpah di dalam negeri. Tinggal bagaimana institusi terkait mau atau tidak memberdayakannya.

“Berbagai riset dan otomotif menyebutkan, di Jepang sorgum ini unggul sekali. Saya bahkan langsung ke lokasi meninjaunya, sehingga ini sangat ekonomis,” lanjutnya.

Pihaknya juga membahas pengembangan sorgum untuk diterapkan di Indonesia.

“Ternyata awal riset juga di Lampung. Basis utama bagi kami yang menjadi pertimbangan adalah saat ini penggunaan bensin di negara kita 36 juta kiloliter per tahun. Jadi, sudah sangat diperlukan pengembangan etanol,” terangnya.

Ekosistem ini mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.

Lampung memiliki 430 ribu hektare lahan dengan strategi utama reaktivasi, sinergi PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi 1G dan 2G, pilot bioethanol development center, hilirisasi singkong, hilirisasi jagung, dan konversi pabrik.

Sebagai dukungan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, peluncuran Bioethanol Development Center merupakan potensi energi yang sangat kuat.

“Beberapa waktu lalu kita mendengar ini, tapi hari ini kita siapkan fasilitas pendukungnya. Saya apresiasi apa yang dikerjakan kementerian, Pertamina, serta Toyota ini,” katanya.

Dilanjutkannya, Lampung memiliki kawasan luas untuk sektor pertanian sekitar 3 juta hektare.

“Tinggal pertanyaannya, apakah masyarakat siap untuk menanam sorgum ini? Maka inilah dukungan yang akan kita berikan,” demikian Rahmat Mirzani Djausal.

Sorgum merupakan tanaman budidaya yang memiliki siklus panen 90 hari. Adapun potensi bioetanol 1G sekitar 2,5 KL/ha, ditambah potensi bioetanol 2G sebanyak 4,7 KL/ha.

Adapun area kultivasinya berada di masyarakat, Tegineneng, Pesawaran, Lampung.

Senada, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, mengatakan, kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun kemandirian energi nasional.

“Presiden sudah mengingatkan bangsa besar, soal pengadaan energi bukan sekadar pilihan kebijakan, tapi syarat utama bertahan, bertumbuh, dan berdaulat,” ujar Iwan.

Ia juga memberikan semangat untuk menciptakan kemandirian energi nasional.

“Bangun Asta Cita jadi aksi, sumber daya jadi energi untuk memperkuat kedaulatan bangsa,” tutupnya.

Mesin kultivasi yang akan dibangun ini memiliki kapasitas produksi sebesar 60 KL per tahun, dengan potensi bahan baku inti berupa jagung, nira sorgum, singkong, pelepah sawit, tandan kosong, sorgum, dan bonggol jagung.

Ditambahkan Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto, saat ini Indonesia tengah memasuki fase penting dalam pengembangan teknologi.

Upaya pemerintah melalui bioetanol merupakan langkah strategis, sejalan dengan komitmen Toyota terhadap pengembangan teknologi rendah karbon.

“Mobilitas yang berkelanjutan diperlukan. Ini memerlukan kolaborasi pemerintah, industri, petani, dan seluruh stakeholder,” katanya.

Pihaknya menyatakan siap membantu mengembangkan teknologi dan ekosistemnya.

“Ini akan memberdayakan sumber daya lokal secara optimal. Kolaborasi adalah kunci sebagai solusi ketahanan energi nasional Indonesia,” tutupnya.

Diketahui, turut hadir Ketua DPRD Lampung, Sekdaprov Lampung, Bupati Pesawaran, Kodam II/Sriwijaya? Raden Intan, Kapolda Lampung, Kajati, Pertamina dan Toyota, serta Forkopimda. (*)

Bagaimana Menurut Anda