Keren! Karang Taruna Angkola Muaratais Produksi Pupuk Kompos

615

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Karang Taruna memang dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam merespon isu lingkungan, terutama pertanian. Apalagi mengingat sebagian besar warga Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) adalah petani.

Merespon kondisi lingkungan ini, Karang Taruna Kecamatan Angkola Muaratais Kabupaten Tapsel berhasil menciptakan inovasi berupa pembuatan pupuk ramah lingkungan, yang merupakan kombinasi antara pupuk organik dan pestisida nabati.

“Tujuan yang ingin dicapai adalah menghasilkan wirausaha pupuk organik (kompos) sebagai komoditas unggulan melalui pemberdayaan karang taruna,” kata Indra Marpaung, Ketua Karang Taruna Kecamatan Angkola Muaratais kepada BERITAANDA, Jumat (3/5/2019).

Indra menceritakan, inisiatif pembuatan pupuk kompos ini bermula dari rembug warga karang taruna kecamatan bersama pengurus Karang Taruna Kelurahan Bintuju. Dimana salah seorang warga mencetuskan ide pembuatan kompos.

“Kebetulan salah satu peserta musyawarah mengaku cukup paham atas pertanian dan pupuk, hingga diambil kesimpulan bahwa kita akan mencoba terobosan baru,” kisah Indra dan dibenarkan Ketua Karang Taruna Kelurahan Bintuju, Andri Saputra.

Indra mengatakan, berbekal tekat bulat dan keteguhan hati seluruh warga Karang Taruna, rencana inipun mereka sampaikan kepada pihak Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Desa Huta Holbung, yang ternyata bersedia memberikan pendampingan.

“Tak hanya pihak BPP, bahkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tapsel juga turut serta memfasilitasi kami berupa sarana kenderaan dan pengadaan mesin produksi kompos, berikut pembimbingan dalam proses penggilingan,” ujar Indra.

Sedangkan sebagai sumber pendanaan kegiatan, menurut dia, pihaknya sesama warga Karang Taruna patungan dana ditambah uluran tangan dermawan guna pembelian sejumlah peralatan berupa alat pengukur suhu, sarung tangan dan terpal.

“Dan alhamdulillah, meski ada kendala disana sini, perjuangan kami terhitung mulai bulan Januari hingga Maret 2019 akhirnya membuahkan hasil. Tercatat sudah ada pupuk kompos sebanyak 400 kilogram yang sukses diproduksi hasil karya tangan sendiri,” urainya.

Untuk pemasaran memang belum dijual di pasaran umum, hanya lewat jaringan komunitas saja. Dimana sasarannya baru sebatas para petani di seputaran wilayah Kecamatan Angkola Muaratais. Dan harga dipatok lebih murah dari pasaran yakni Rp1.500/Kg.

Disinggung apa target dan harapan kedepan, Indra menyebut proses pembuatan pupuk kompos masih bersifat manual. Sehingga, berdampak pada lambannya produktivitas akibat ketiadaan mesin (peralatan pendukung) seperti mesin pencacah jerami.

“Selain bantuan alat perlengkapan memadai guna peningkatan produksi, kami sangat berharap kiranya pihak pemerintah daerah turut serta mempromosikan pupuk kompos ramah lingkungan ini terutama di daerah Tapsel,” pungkas Indra. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda