Kepsek SMKN 2 Gunungsitoli Bantah Tahan Raport Siswi Gara-gara Tunggakan Uang Komite

1101

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – Terkait pemberitaan yang beredar di media sosial dan media daring mengenai penahanan rapor siswi dikarenakan belum melunasi uang komite sekolah. Pihak Sekolah SMKN 2 Gunungsitoli mengatakan bahwa kami tidak pernah menahan raport siswi tersebut.

Kepala Sekolah (Kepsek) SMKN 2 Gunungsitoli Tedeus Talialulu Ndruru, S.Pd mengatakan, kalau pihak sekolah tidak pernah menahan raport siswi seperti pernyataan orangtua siswi berinisial AM di media daring maupun media sosial.

“Kami dari pihak sekolah tidak pernah menahan raport siswi kami, apalagi alasan penahanan raport tersebut dikarenakan masih ada tunggakan uang sumbangan orangtua siswa selama 6 bulan sebesar Rp360 ribu, hal itu tidak benar,” papar kepala sekolah ketika ditemui di ruang Tata Usaha SMKN 2 Gunungsitoli, Kamis (25/7/2019).

“Memang benar di sekolah ini ada uang sumbangan orangtua siswa sebesar Rp60 ribu/bulan. Dan besaran uang sumbangan tersebut yang menetapkan adalah orangtua siswa sendiri, bukan sekolah. Hal itu bisa kita buktikan berdasarkan hasil rapat yang telah ditandatangani orangtua siswa yang hadir, termasuk orang tua AM. Namun harus saya tegaskan, kalau masalah raport tidak ada hubungannya dengan uang sumbangan orangtua siswa,” jelasnya lagi.

Pada saat pembagian raport, lanjut kepsek, pihak sekolah tidak akan menyerahkan raport tersebut kepada siswa yang punya sangkutan, kecuali kalau orang tuanya yang datang untuk mengambil. Hal itu bertujuan supaya pihak sekolah bisa melakukan klarifikasi kepada orangtua siswa yang memiliki tunggakan.

“Karena berdasarkan pengalaman kita sebelumnya, ada beberapa siswa yang sengaja tidak menyerahkan uang sumbangan tersebut, sementara orang tuanya sudah menyerahkan kepada siswa untuk dibayarkan ke sekolah. Makanya, kami menahan raport sebelum orangtua siswa datang,” terang dia.

Di tempat yang sama, wali kelas X jurusan OTKP, Yulizato Halawa, mengatakan hal yang sama.

Dia menjelaskan bahwa pada saat pembagian raport, AM tidak masuk sekolah, begitu juga dengan orangtuanya tidak datang untuk mengambil raport tersebut, sehingga raport dia bawa ke rumah.

“Memang dua hari sebelum pembagian raport, saya sempat memanggil 3 orang siswa yang masih memiliki sangkutan supaya menyampaikan kepada orangtua untuk melunasi. Keesokan harinya, 2 orang siswa membayarkan uang sumbangan tersebut, sementara 1 orang siswi lagi (AM) masih belum melunasi, sehingga saya menyampaikan kepada AM supaya menyuruh orangtuanya datang pada hari Sabtu untuk mengambil raport tersebut,” kata dia menjelaskan.

“Tetapi saat pembagian raport, AM tidak masuk sekolah, dan orangtuanya juga tidak datang pada saat pengambilan raport, sehingga saya membawah pulang ke rumah dan berpesan kepada siswa yang lain untuk memberitahukan kepada AM kalau raportnya ada sama saya, kalau ingin mengambil raport tersebut,” ungkapnya.

Satu bulan kemudian, orangtua AM baru datang ke sekolah untuk mengambil raport anaknya yang belum diambil pada saat pembagian raport.

“Waktu itu dia mengeluh kepada saya kalau dirinya belum bisa melunasi sangkutan anaknya karena tidak ada uang, dan saya memakluminya. Sehingga saya menyuruhnya kembali besok, untuk mengambil raport anaknya itu, karena kebetulan hari itu saya tidak membawa rapor tersebut,” terang dia lagi.

“Lalu, keesokan harinya, setelah saya tunggu sampai sore hari ternyata orang tuasiswa tersebut tidak datang. Jadi raport tersebut bukannya tidak saya serahkan, tetapi orangtua siswa yang tidak datang untuk mengambil rapor,” ungkap wali kelas.

Selanjutnya, pada hari Kamis (17/7/2019), Kepsek SMKN 2 dihubungi oleh pegawai UPT Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara cabang Kota Gunungsitoli menyampaikan kalau orangtua AM melaporkan kalau raport anaknya ditahan pihak sekolah karena belum melunasi uang sumbangan sebesar Rp360 ribu.

“Hari itu juga saya mendatangi kantor UPT Pendidikan Provinsi Sumut cabang Gunungsitoli untuk menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Saya juga menyampaikan kalau pihak sekolah tidak pernah menahan rapor anaknya, dan besok juga bisa diambil kepada bendahara karena kebetulan raport tersebut sudah saya titipkan. Karena siapa tau saya tidak datang besok, jadi orang tua siswa bisa mengambil sama bendahara II komite sekolah.”

“Setelah mendengarkan penjelasan saya, pegawai UPT hari itu juga menghubungi orangtua AM agar besok datang ke sekolah untuk mengambil raport anaknya.Tetapi setelah kami tunggu keesokan harinya, ternyata orangtua siswa tersebut tidak datang,” ujarnya.

Dia menjelaskan, pada saat orang tua siswa datang pada hari Sabtu (19/7/2019), kepala sekolah menyarankan supaya mereka kembali pada hari Senin, karena rapor anaknya telah dititipkan oleh wali kelas kepada Aluizaro Telaumbanua (bendahara komite II) yang bertepatan waktu itu belum masuk.

Sementara itu, Aluizaro Telaumbanua menambahkan kalau dirinya tidak ada maksud menahan raport AM. Tetapi karena bersangkutan tidak sabar menunggu, makanya dia tidak jadi mengambil dan langsung pulang.

“Memang yang bersangkutan datang pada hari Senin, namun karena yang memegang kunci lemari tempat raport itu disimpan belum datang, saya menyuruh mereka menunggu. Mungkin karena tidak sabar menunggu akhinya mereka pulang,” terangnya.

Aluizaro mengakui sempat emosi dan bernada kasar kepada orangtua AM, hal itu dikarenakan yang bersangkutan membuat status di media sosial yang mengkait-kaitkan masalah ini dengan masalah di luar sekolah.

“Ketika dia datang pada hari Senin untuk mengambil raport, saya menyuruh dia menunggu sebentar karena yang pegang kunci lemari masih belum datang. Pada saat itu saya mempertanyakan apa alasannya membuat status di media sosial yang mengkait-kaitkan masalah ini dengan jabatan saya sebagai kepala desa, dan saya juga sempat bertanyakan apa latar pendidikannya. Namun pada waktu itu dia menjawab, itu bukan urusan bapak, dan lalu meninggalkan sekolah. Jadi artinya, saya emosi bukan karena masalah tunggakan uang sumbangan itu, tetapi karena status dia di media sosial,” pungkas dia. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda