Ini Penjelasan Pemilik 5 Truk Ternak Babi yang Ditahan Karantina Pelabuhan Gunungsitoli

205

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – Terkait penahanan 5 truk yang bermuatan 165 ekor babi yang ditahan oleh pihak Karantina Pelabuhan Gunungsitoli karena tidak memiliki surat sertifikat dari Karantina Sibolga. Binahati Ziliwu selaku pemilik ternak babi menjelaskan kronologi perjalanan ternaknya dari Bali sampai ditahan di Pelabuhan Gunungsitoli.

Kata dia, pada bulan Mei 2022 yang lalu, pihak Karantina Sibolga menyampaikan bahwa sesuai surat edaran, ternak babi yang bisa masuk ke Pulau Nias harus berasal dari pulau bebas PMK (penyakit mulut dan kuku).

“Sebagai warga yang taat peraturan dan mengikuti instruksi dari Karantina Sibolga, saya memesan ternak babi yang berasal dari Pulau Bali dari seseorang yang berdomisili di Lampung, dan meminta kepada yang bersangkutan untuk melengkapi semua dokumen sesuai peraturan yang berlaku,” kata Binahati Ziliwu di Kota Gunungsitoli.

Selanjutnya, setiba di Pelabuhan Sibolga, Binahati mengurus surat sertifikat karantina dengan melampirkan surat hasil uji laboratorium karantina hewan, SKKH dari Bali, SKKH dari Poskewan Pemerintah Kota Sibolga, dan surat bebas dari PMK. Namun pihak karantina tidak mengeluarkan surat sertifikasi tersebut dengan alasan yang tidak jelas.

“Berkali-kali saya tanya apa alasan mereka tidak mau mengeluarkan surat sertifikat karantina, sementara dokumen yang dibutuhkan telah diserahkan. Tapi mereka tida bisa memberikan jawaban yang pasti,” kata dia.

“Saya juga bertanya kepada Kepala Karantina Gunungsitoli yang kebetulan berada disitu juga. Saya tanyakan kepadanya, apakah ternak saya bisa berangkat ke Nias atau tidak. Kalaupun tidak bisa saya meminta agar hewan ternak saya ditahan di Sibolga, supaya saya tidak terlanjur membeli tiket. Tetapi Kepala Karantina Gunungsitoli hanya diam saja,” tambah dia.

Karena tidak ada keputusan maupun jawaban, dan juga tidak ada tindakan penahanan dari pihak karantina, maka ia membawa ternaknya ke kapal. Dan hal ini diketahui oleh Kepala Karantina Gunungsitoli.

“Karena kami sama-sama berangkat dari Kantor Karantina Sibolga menuju kapal. Hingga kapal berangkat dari Sibolga menuju Gunungsitoli tidak ada hambatan, walaupun ada Kepala Karantina Gunungsitoli berada di kapal itu juga,” terangnya.

Sesampainya di Pelabuhan Gunungsitoli pada hari Senin (13/6), pihak Karantina Gunungsitoli melakukan pemeriksaan dokumen. Namun karena tidak memiliki dokumen surat sertifikat karantina dari Sibolga, akhirnya pihak karantina menahan 5 truk yang mengangkut 164 ekor babi milik Binahati Ziliwu.

“Setelah dilakukan pemeriksaan, Karantina Gunungsitoli mengeluarkan surat penolakan hewan ternak karena tidak memiliki dokumen sertifikasi karantina dari Sibolga. Saat itu saya tidak mau menerima surat penolakan, dan meminta mereka untuk mengeluarkan surat penahanan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000, dan akhirnya mereka menerbitkan surat penahanan,” paparnya.

Binahati sangat menyayangkan sikap Karantina Gunungsitoli yang diduga menelantarkan dan tidak memberlakukan dengan baik ternak babi sesuai SOP karantina, sehingga banyak ternaknya yang mati selama proses penahanan.

“Setelah surat penahanan keluar, ternak saya dibawa ke sebuah kandang. Dan selama penahanan banyak ternak saya yang mati karena diperlakukan tidak sesuai SOP karantina. Lalu keesokan harinya tanggal 14 Juni 2020, pihak karantina menyampaikan kepada saya bahwa ternak saya harus ditolak dan dikembalikan ke Sibolga,” ujarnya.

Lebih lanjut kata dia, sehingga malam harinya sekira pukul 23.00 WIB, pihak karantina memuat ternak Binahati ke atas truk. Dan sesampainya di atas dermaga, pihak karantina meminta Binahati untuk membeli tiket kapal sebanyak 5 lembar dengar harga sekitar Rp 11 juta lebih.

“Sebagai masyarakat yang taat peraturan, saya ikuti saja apa yang mereka suruh yakni membayar tiket kapal yang sebenarnya itu masih tanggung jawab mereka. Setelah tiket dibayarkan, mereka baru serahkan surat perintah penolakan, tetapi sekitar 15 menit kemudian mereka perintahkan untuk menurunkan lagi 5 truk tersebut dari kapal dan memarkirkan di atas dermaga. Setelah itu, mereka tinggalkan begitu saja, karena tidak jadi berangkat uang saya dikembalikan. Saya sudah tanya kenapa diturunkan lagi, mereka tidak memberikan jawaban yang pasti,” jelas dia lagi.

“Melihat kondisi ternak yang mulai lemas karena kurang makan dan minum, serta dikarenakan sudah ada surat penolakan, artinya itu sudah menjadi tanggung jawab saya, makanya sekitar pukul 04.00 WIB dini hari saya membawa ternak keluar dari pelabuhan menuju ke rumah untuk mencegah ternak ada yang mati, apalagi selama masa penahanan banyak ternak yang mati,” pungkas dia. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda