Film ‘Demi Waktu’ Shooting Perdana di Tanah Kelahiran Prof. Lapran Pane

1174

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Shooting perdana film ‘Demi Waktu’ yang mengangkat kisah perjalanan hidup Prof. Lafran Pane mulai digarap di Desa Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel), Rabu (9/10/2019).

“Tentunya pemilihan lokasi shooting di Desa Pangurabaan Sipirok dikarenakan, mengingat bahwa disiniah seorang Prof. Lapran Pane lahir dan dibesarkan,” kata Sekdakab Tapsel Parulian Nasution, saat meninjau lokasi shooting.

Menurut Parulian yang juga Koordinator MD KAHMI Tapsel itu, selaku tokoh nasional, Prof. Lapran Pane juga telah dianugerahi pemerintah sebagai pahlawan nasional. Ia merupakan sosok sentral dan punya andil besar terhadap awal mula sepak terjang HMI.

“Prof. Lapran Pane adalah tokoh pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang semasa hidupnya selalu menggaungkan nama HMI dan tak pernah sejengkal pun melupakannya, sampai berkembang dan menjadi organisasi terbesar di seantero Asia Tenggara,” ujar Parulian.

Prof. Lafran Pane mendirikan HMI pada 5 Februari 1947 dan menjadi organisasi mahasiswa pertama di Indonesia. Dasar pendirian HMI adalah mencapai tujuan besar dalam perjuangan NKRI, serta membangun Islam bersamaan dengan dinamika ke Indonesiaan saat itu.

Diangkatnya kisah hidup Prof. Lapran Pane ke dalam sebuah film, diharapkan menjadi sumber inspirasi, aspirasi dan motivasi bagi semua orang. Tak cuma bagi warga KAHMI atau HMI, juga bagi para generasi milenial ke depan.

Prof. Lafran Pane selalu mengarahkan HMI dengan mengedepankan pengkaderan sebagai jantung organisasi. Melalui pengkaderan itulah, yang menjadi pengembangan tradisi intelektual dalam membedakan HMI dengan organisasi lainnya.

Dikesempatan itu, kekaguman dan rasa bangga serta ucapan terimakasih, sekda sampaikan kepada Dr. Ir. Akbar Tanjung sang inisiator pembuatan film ‘Demi Waktu’. Sekda yakin, hal itu merupakan wujud rasa cinta Akbar Tanjung kepada organisasi KAHMI dan HMI.

“Kakanda Akbar Tanjung adalah kader HMI militan terhadap KAHMI dan HMI. Beliau tak pernah berhenti berpikir dan terus menerus berbuat demi kemajuan dan membesarkan organisasi KAHMI dan HMI ke depan,” ungkap Parulian.

Semangat kerja keras Akbar Tanjung dalam mempertahankan identitas organisasi, diharapkan bisa diteladani anggota keluarga KAHMI dan HMI lainnya. Ia mengingkatkan eksistensi organisasi dengan kedepankan soliditas dan solidaritas antara sesama keluarga.

HMI itu majemuk dalam kebersatuan dan bersatu dalam kemajemukan. Ketika muncul perbedaan tetap bersatu, karena HMI dan KAHMI lahir dari rumah pusaka yang sama, dan tidak ada bapak dan ibu akan tetapi memiliki abang.

Parulian pun megucapkan terimakasih kepada produser film ternama dengan nama besarnya Rizal Mantovani, yang juga peran terbaiknya Mathias Muchus dan Ibu Ratna serta yang tidak kalah pentingnya peran aktor Dimas Anggara.

“Semoga film ini menjadi film terbaik dan bisa menjadi pembelajaran bagi generasi milenial kedepan, untuk bagaimana merencanakan masa depan yang bermodalkan kemauan, kecerdasan, dan dedikasi yang tinggi,” imbuh sekda. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda