Wow, Olahan Kelabang Asal Desa Ini di Ekspor ke Mancanegara

1083

SERGAI-SUMUT, BERITAANDA – Luar biasa, keluarga Ricky Santri Kurniawan (21) asal Dusun Belimbing Desa Melati II Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) ini bisa hasilkan pundi-pundi rupiah dari mengolah lipan (kelabang). Bahkan hasil olahan lipan tersebut mereka jual ke luar daerah, hingga sampai mancanegara.

“Hampir 10.000 ekor lipan dioleh dan diproses setiap hari untuk siap di ekspor,” kata Ricky kepada BERITAANDA, Rabu (28/8/2019).

Ia juga mengatakan bahwa proses pengolahannya sendiri dimulai dengan pencucian ribuan lipan. Setiap ekor lipan diukur panjangnya untuk dikelompokkan sesuai permintaan pembeli. Ukuran ideal 10 hingga 15 centimeter, dan lebar 1 hingga 1,5 centimeter.

Kemudian lipan ditusuk pada bagian kepala dan ekornya dengan potongan pelepah kelapa sawit, seperti sate. Lipan yang telah ditusuk disusun berbaris dalam keranjang pengasapan.

Di atas tungku berbahan bakar sabut kelapa, sate lipan diasapi sebanyak 12 keranjang hingga kering. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk memperoleh lipan kering siap ekspor. Setelah diasapi, lipan bisa disimpan selama 4 sampai 5 bulan.

Ricky mengatakan, bahwa usaha tersebut sudah berjalan selama 30 yang telah dirintis oleh kedua orang tuanya yang kini telah tiada. Dan sejak 4 tahun lalu, mereka terus merintis usaha bisnis keluarga pengelolaan lipan tersebut.

“2.000 lipan ada yang hanya dijual dalam keadaan hidup untuk makanan ikan arwana di Kota Medan Sumatera Utara dan Jakarta. Dulu ada 4 toko ikan, sekarang tinggal satu toko yang membeli 1.000 ekor selama 2 hari sekali. Ditambah penjualan lipan kering ke tiga toko obat China yang ada di Kota Medan, yaitu di Jalan Gatot Subroto simpang Jalan Nibung Raya, Jalan Cirebon dan di Pajak Beruang di Jalan Madong Lubis. Setiap 6 bulan, 6.000 ekor lipan terjual. Kemudian pada tahun 2015, lipan kering dengan penjemuran panas matahari, sudah dikirim ke Surabaya Jawa Timur,” kata dia menjelaskan.

Setelah dikelola oleh Ricky, lipan yang telah dikeringkan ini dapat menembus pasar mancanegara.

“Pada tanggal 3 Agustus 2019 lalu, kami berhasil mengekspor 100.000 ekor lipan atau 460 kilogram lipan ke negara Vietnam,” kata dia.

Setiap 3 bulan, ratusan ribu ekor lipan dapat mereka olah. Lipan yang dibeli dari pemburu senilai Rp1.500 per ekor, kemudian dijual ke luar negeri seharga Rp2.500 – Rp 3.000 per ekor atau sekitar Rp1.200.000 per kilogram.

“Keuntungan akan dikurangi biaya cargo pesawat udara internasional Rp56.000 per Kg, serta biaya PNBP Rp100.000,” jelas dia.

Berburu lipan merupakan mata pencarian tambahan bagi masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Perbaungan. Umumnya warga desa berprofesi sebagai petani atau buruh kebun.

Lipan atau kelabang adalah hewan arthropoda yang tergolong dari kelas chilopoda dan upafilum myriapoda. Binatang ini memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya, juga termasuk hewan yang berbisa, dan beraktivitas utama pada malam hari.

Setiap hari, warga berburu lipan di semak belukar perladangan, hingga tumpukan daun kering di perkebunan kelapa sawit. Mereka menangkap binatang yang beraktivitas pada malam hari ini dengan tangan. Kemudian membuang dua buah taring besar pada mulut lipan tersebut agar tidak tersengat. Meski tak jarang, sengatan lipan mengenai mereka.

Kemudian, lipan dijual kepada para belasan pengepul yang ada di desa mereka. Para pemburu lipan berasal dari Desa Lestari Dadi, Suka Sari, Bingkat, Jati Mulia dan Desa di Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Deli Serdang.

Meski ratusan ribu ekor lipan dapat dikumpulkan, para warga juga khawatir jumlah lipan di alam dapat semakin sulit ditemukan. Namun hingga saat ini, belum ada warga Perbaungan yang dapat membudidayakannya, karena sifatnya yang kanibal.

“Kalau budi daya pernah sekali, tapi tidak berhasil karena lipan itu kanibal,” tambah Ricky.

Penjualan yang masih terbatas pada lipan kering juga menjadi tantangan bagi penjual. Mereka berharap semoga dapat bantuan dari pihak Pemkab Sergai untuk mengolah lipan menjadi produk yang punya nilai jual lebih mahal, agar Desa Melati II Kecamatan Perbaungan bisa menjadi daerah pemasaran lipan di pasar ekspor mancanegara. (Dipa)

Bagaimana Menurut Anda