Sekian Tahun Dibuka, Jalan Menuju Gang Jungkong Masih Tanah Kuning

591
Kondisi ruas jalan menuju Gang Jungkong belakang Pasar Rayat Komplek Pasar Baru Sekadau yang bagai bubur saat hujan. (BERITAANDA)

SEKADAU-KALBAR, BERITAANDA – Melempemnya serapan anggaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sekadau sampai dengan kuartal ketiga tahun anggaran 2019 tak hanya menjadi sorotan dewan di DPRD.

Di tengah-tengah masyarakat, belum nampaknya pelaksanaan pekerjaan fisik pembangunan oleh dinas yang memiliki anggaran besar itu juga dipertanyakan.

Contoh masyarakat di Gang Jungkong Desa Mungguk juga menantikan kerja dari dinas yang berkecimpung di bidang pembangunan sipil itu. Pasalnya, akses jalan dari ruas Jalan Panglima Naga Komplek Pasar Baru menuju Gang Jungkong dan pertigaan simpang Jalan Abadi sampai saat ini masih belum ada realisasi pelaksanaan pengecoran dan masih berupa tanah kuning.

“Jalan disini seperti tidak terlihat oleh dinas terkait. Sudah berapa tahun dibuka jalan, belum ada pengecoran, apalagi mau diaspal,” ujar Rida, salah satu warga di Gang Jungkong.

Keluhan warga tersebut bukannya tak beralasan. Pasalnya, dari puluhan rumah dan ratusan warga yang berdomisili di Gang Jungkong dan daerah sekitarnya, saat ini masih mengakses jalan hamparan tanah kuning.

Parahnya lagi, jika hujan turun, maka ruas jalan tersebut secara otomatis berubah menjadi ‘bubur’ tanah yang dirasakan warga sangat sulit dilewati, baik berjalan kaki maupun kendaraan roda dua.

Akibatnya, puluhan anak-anak warga Gang Jungkong yang berangkat ke sekolah harus membungkus kaki mereka dengan kantong plastik agar sepatu meraka tidak terkena lumpur saat melewati jalan itu. Padahal, jika dilihat dari posisi strategis jalan itu, keberadaannya masih masuk dalam ruang lingkup Kota Sekadau Hilir.

“Kita ini masih dalam kota, tapi akses jalannya lebih parah dari di desa-desa pedalaman,” sambung Rida.

Anehnya lagi, di bagian selatan jalan menuju Gang Jungkong tersebut sudah sejak beberapa tahun lalu, jalan setapak yang banyak melintasi perkebunan karet dan beberapa rumah warga sudah tertata baik dengan adanya jalan rabat beton. Kondisi ini tentunya kontras dengan pemandangan jalan yang menurut informasi saat ini diberi nama Jalan Candramidi.

“Di belakang sana rumah warga masih sedikit, banyakan kebun karet warga, tapi jalannya sudah rabat beton. Namun jalan menuju gang kami sampai sekarang masih tanah kuning, sangat kontras,” sambung salah satu warga lainnya saat ditemui BERITAANDA.

Kesal dengan perhatian dinas terkait, warga Gang Jungkong berasumsi tidak diprioritaskannya pembangunan jalan menuju rumah – rumah mereka dilatar belakangi tidak adanya rumah pejabat di daerah tersebut.

Kesimpulan ini jika dilihat dari kondisi kontras jalan dan gang di Jalan Abadi yang diketahui cukup banyak rumah pejabat di Pemerintah Kabupaten Sekadau, yang meski terbilang baru sebagai pengembangan kawasan pemukiman penduduk namun telah terlapisi beton dan aspal.

“Kita di Gang Jungkong hanya masyarakat biasa, tidak ada rumah pejabat. Tetapi di belakang gang kami, jalan dan Gang Abadi, banyak rumah pejabat, jadi pembangunan jalan disana juga cepat,” ungkap warga. (Arni)

Bagaimana Menurut Anda