Nyaris Rata dengan Tanah, SDN 2 Rantau Lurus di Tulung Selapan Tak Kunjung Diperbaiki

137

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Begini nasib bangunan SD Negeri 2 Rantau Lurus Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dimana bangunan sekolah yang nyaris rata dengan tanah karena musibah angin puting beliung terjadi tahun lalu, tak kunjung juga diperbaiki hingga saat ini.

Akibatnya, bukan hanya mengganggu proses pembelajaran saja, kondisi psikologis mental siswa dalam memperoleh pendidikan juga mengalami hambatan tersendiri.

Namun demikian, disinyalir anggaran renovasi sekolah ini terkendala kepentingan yang lebih tinggi. Kebutuhan pendidikan dianggap bukan hal utama ketimbang sejumlah proyek yang terkadang bukan termasuk skala prioritas.

Disisi lain, pihak sekolah mengaku telah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten OKI. Bahkan proposal pengajuan permohonan perbaikan bagi 9 ruang kelas yang terdiri dari 6 lokal kelas serta 3 kelas sekolah filial tersebut, juga telah dilayangkan ke DPRD OKI, dan ditembuskan ke Wakil Bupati OKI.

“Sejak sekolah itu berdiri sekitar tahun 2012, dimana bangunan tersebut merupakan eks transmigrasi, tidak pernah ada renovasi sama sekali. Kecuali, secara swadaya dan itu pun terbatas,” terang Kepala SDN 2 Rantau Lurus, Amir Hamzah, Rabu (11/5).

Diakui dirinya, bahwa beberapa tahun lalu memang telah ada pembangunan sarana prasarana sekolah seperti ruang guru, perpustakaan, dan lainnya. Namun ia mengatakan, saat ini memang telah dialifungsikan sesuai kebutuhan kelas belajar.

“Bangunan yang ada justru bukan ruang kelas baru. Melainkan sarana prasarana sekolah. Itu pun sudah berubah fungsi,” terangnya.

Mirisnya sekolah filial saat ini, dengan kondisi rata dengan tanah, ia mengaku terpaksa mengalihkan proses pembelajaran di balai desa setempat. Terlebih saat ini memasuki sekolah tatap muka.

“Begitu pun melihat kondisi sekolah induk. Bila diperkenankan, rasanya ingin untuk tidak menerima siswa baru di tahun mendatang. Resiko keselamatan siswa menjadi prioritas kami untuk lebih didahulukan,” ungkap dia.

Keinginan Amir Hamzah tersebut cukup beralasan. Dengan keseluruhan memiliki 186 siswa, yang terdiri dari 80 siswa untuk sekolah filial, sedangkan 106 siswa menempati sekolah induk, ia mengharapkan pihak terkait peduli dengan kondisi yang terjadi di sekolahnya.

“Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang berhak memperoleh pendidikan layak. Baik ilmu pengetahuan maupun sarana pendukung yang terbaik,” harap dia.

Di tempat berbeda, Ketua LSM Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Kabupaten OKI, Welly Tegalega mengutarakan kekecewaannya terhadap sikap pemda yang menurutnya seolah menyepelekan bidang pendidikan.

Dirinya beranggapan, negara seperti tidak hadir mengakomodir kepentingan anak-anak bangsa dalam memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan di pusat pendidikan dasar tersebut.

“Ironisnya, keterbatasan anggaran senantiasa didengungkan demi menambal ketidaksiapan pemerintah daerah. Terlebih, kondisi terdampak puting beliung di pusat pendidikan tersebut merupakan bencana alam dengan alokasi khusus dana tidak terduga,” ujarnya di Kayuagung.

Disambung dia, anggaran dana tidak terduga (DTT) seharusnya mencover kebutuhan dana renovasi sekolah tersebut. Dampak bencana angin puting beliung menjadi penyebab utama robohnya bangunan sekolah filial itu. Diskresi khusus dapat digunakan bila memang diperlukan.

Hal tersebut, menurut dirinya, jauh lebih baik ketimbang membiarkan anak-anak kita belajar dengan ruang belajar rawan roboh, baik dari ancaman bencana angin puting beliung maupun ancaman runtuhan gedung lantaran semakin lapuk termakan usia.

“Kepekaan pemerintah daerah sepertinya hanya berjalan disaat pilkada saja. Membangun dari desa pun tidak mampu hadir disaat puluhan anak-anak kita membutuhkan pendidikan bermutu, termasuk bangunan sekolah yang layak,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, Muhammad Amin, melalui Kabid Sarpras Romli mengaku cukup kesulitan membangun kembali bangunan sekolah yang roboh tersebut.

Meski tidak mengungkapkan secara rinci, namun ia beralasan dana yang telah diajukan pihaknya telah dipangkas, sehingga perencanaan pembangunan terpaksa ditunda hingga tahun mendatang.

“Kami cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Namun, keinginan membangun kembali sekolah tersebut harus berbenturan dengan anggaran lainnya, sehingga terpaksa ditunda,” tandasnya.

“Kami sangat prihatin dengan sekolah tersebut. Untuk tahun 2022 memang telah dianggarkan. Namun belum terakomodir. Sedangkan tahun lalu, melalui anggaran DAK 2021, telah dibangun ruang guru yang saat ini dialifungsikan menjadi ruangan belajar,” tandasnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda