Lagi, 3 Pelaku Pembakar Lahan Diamankan Tim Satgas Karhutbunla Polres OKI

826

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Kasus kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunla) saat ini memang marak terjadi di beberapa provinsi di wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa hingga Kalimantan. Dimana pelakunya dilakukan penahanan untuk jalani penegakan hukum.

Untuk di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, selama kurun waktu dua bulan, sedikitnya telah ada 12 orang pelaku pembakar hutan, kebun dan lahan yang ditangkap serta akan jalani penegakan hukum atas perbuatannya.

Seperti diungkapkan Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi didampingi Kapolres OKI AKBP Donni Eka Syaputra dan Kasat Reskrim AKP Agus Prihardinika saat press release digelar di pendopo rumah dinas Bupati OKI, Jumat (27/9/2019) sore.

Menurut Supriadi, dari bulan Agustus hingga September 2019, ada 9 orang pelaku yang kasusnya sudah ditangani dan terbaru ada 3 orang pelaku lagi diamankan. Jadi totalnya 12 orang.

Untuk 9 pelaku sebelumnya, kata dia, ada 4 berkas perkaranya sudah dapat petunjuk dari pihak kejaksaan.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat, 4 berkas perkara ini akan terpenuhi, hingga bisa dikembalikan lagi ke kejaksaan. Dan mudah – mudahan juga bisa segera P21 hingga tersangkanya berikut barang bukti dapat dilimpahkan ke kejaksaan,” ungkap Supriadi.

Sementara, 3 orang pelaku pembakar lahan yang baru diamankan yaitu Suradi alias Bandot (42), Sutarno (45), keduanya warga Desa Sukapulih Kecamatan Pedamaran, serta Sunaryo alias Sunar (42), warga Desa Mulyaguna Kecamatan Teluk Gelam OKI.

Suradi dan Sutarno ditangkap di dua lokasi dalam wilayah Desa Sukapulih Pedamaran, sedangkan Sutarno di Desa Mulyaguna Teluk Gelam dengan total luas lahan yang terbakar lebih kurang 2 hektare. Ketiganya tertangkap tangan melakukan pembakaran oleh Tim Satgas Karhutbunla Polres OKI yang sedang melakukan patroli.

“Ketiga pelaku tertangkap tangan di lokasi yang berbeda, saat Tim Satgas Karhutbunla Polres OKI melakukan patroli hunting di wilayah masing-masing, hingga mendapati 3 orang tadi sedang melakukan pembakaran. Motifnya membakar lahan untuk digunakan menanam padi,” tukas Supriadi.

Pasal yang disangkakan terhadap 3 pelaku yakni, Pasal 108 Jo Pasal 69 ayat (1) huruf h UU RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Lanjut dia, setiap orang dilarang melakukan pembukaan Iahan dengan cara membakar, ancaman hukuman paling singkat penjara 3 tahun dan paling lama 10 tahun serta denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.

“Dengan ditangkapnya para pelaku pembakar hutan dan lahan, baik milik pribadi ataupun orang lain, diharapkan sebagai efek jera agar masyarakat yang lain tidak melakukan pembakaran lahan, sehingga harus berurusan dengan hukum,” jelasnya menegaskan.

Ke-12 orang pembakar lahan yang kasusnya sudah ditangani ini, tambahnya, tertangkap dari bulan Agustus sampai dengan September 2019. Kesemuanya itu adalah masyarakat perorangan yang membakar lahan di kebun/sawah milik mereka dan untuk korporasi sejauh ini tidak ada.

Ditambahkan Kapolres OKI AKBP Donni Eka Syaputra, untuk pemerintah dan kepolisian telah berusaha keras dalam menangani masalah kebakaran hutan dan lahan, namun masih saja ada masyarakat yang melakukan pembukaan lahan/kebun/sawah dengan cara dibakar, sehingga membuat udara kurang sehat.

“Masyarakat membakar hutan/lahan/sawah/kebun milik mereka, karena menurut mereka hal tersebut sebagai solusi, namun hal itu justru salah. Dan setelah dikroscek di lapangan, ternyata kurangnya sosialisasi agar tidak melakukan pembakaran ketika membuka lahan,” katanya sembari menghimbau kepada masyarakat agar tidak membakar lahan.

Salah satu pelaku pembakaran lahan, Sutarno mengungkapkan, sangat menyesali perbuatannya. Dan ini menjadi pelajaran baginya, karena oleh perbuatannya tersebut harus menanggung akibatnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda