Ini Alasan Banyak Warga Banting Setir Jadi Penebang Tebu

1671
Tampak beberapa warga sedang beraktifitas sebagai penebang tebu milik PTPN VII.

INDRALAYA-OI, BERITAANDA – Musim kemarau yang kerap terjadi setiap tahun di Indonesia, selain menimbulkan kekeringan serta rawannya hutan terbakar, ternyata juga berimbas kuat terhadap penurunan produksi bagi petani karet.

Misalnya yang terjadi di Desa Tebedak Kecamatan Payaraman Kabupaten Ogan IlirĀ (OI) Sumsel dan sekitar. Imbas penurunan produksi getah karet serta harga yang juga tak kunjung naik, membuat banyak petani karet di desa tersebut banting setir menjadi buruh tebang tebu milik PTPN Nusantara VII yang berlokasi di Desa Ketiau Kecamatan Lubuk Keliat OI.

Salah satunya yang dialami oleh Amrul (41), warga Desa Tebedak I ini. Dirinya terpaksa menjadi buruh kasar parang tebu demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya yang kian hari makin mencekik.

ā€œPenghasilan dariĀ menyadap karet saat ini tidak memadai. Harga karet rendah, cuaca panas akibat kemarau, dan produksi getah karet (tetesan getah) juga kurang, terpaksa saya beralih menjadi kuli tebang tebu,ā€ ucapnya ketika dibincangi BERITAANDA, Sabtu (17/8/2019) malam.

Meski menjadi kuli tebang tebu juga terpaksa, sambung dia, paling tidak bisa menambah sedikit nafas perekonomian keluarganya.

ā€œUntuk sekarang nyadap karet nomor dua pak, kebanyakan saya bekerja di kebun tebu saja. Sebab harga karet saat ini Rp7.800 per Kg yang dijual per pekan, dan produksi getah jugaĀ kurang. Untuk perekonomian saat ini sangat dirasa tidak memadai,ā€ pungkasnya.

Diketahui, saat ini hampir 50 persen warga desa ini banyak bekerja menjadi kuli tebang tebu. Penghasilan rata-rata Rp70 ribu, bahkan lebihĀ per hari menjadi alasan mereka. Sementara dengan menyadap karet, mereka hanya mendapat penghasilan sekitar Rp30 – Rp45 ribu per hari. (Adie)

Bagaimana Menurut Anda