Harga Ayam Ras Melonjak, Telur Anjlok di Bawah Biaya Produksi

23
Ilustrasi

PALEMBANG, BERITAANDA – Harga ayam ras atau ayam pedaging disejumlah pasar di Kota Palembang mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Di pasar tradisional besar, harga ayam mencapai Rp40.000 per kilogram, sedangkan di pasar kecil, pasar mingguan, hingga warung sayur telah menembus lebih dari Rp40.000 per kilogram.

Ketua Asosiasi Masyarakat Perunggasan Sumatera Selatan, Ismadi, mengatakan kenaikan harga ayam dipicu oleh meningkatnya biaya produksi yang diperparah cuaca panas ekstrem.

Menurutnya, harga day old chick (DOC) atau bibit ayam terus meningkat, diikuti kenaikan harga pakan yang menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi peternak.

“Pemicu utamanya harga DOC yang tinggi, kemudian harga pakan juga terus naik. Ini bukan lagi sekadar isu, tetapi memang kondisi yang sedang dihadapi peternak,” ujar Ismadi, Selasa (4/8/2026).

Selain menambah beban biaya, cuaca panas juga berdampak pada pertumbuhan ayam. Suhu tinggi menyebabkan ayam mengalami heat stress atau stres akibat panas, sehingga nafsu makan menurun, metabolisme terganggu, dan pertumbuhan bobot badan tidak optimal.

“Biasanya ayam umur 31 hari beratnya bisa mencapai 2,3 kilogram. Sekarang rata-rata hanya sekitar 1,6 hingga 1,8 kilogram,” ungkapnya.

Ismadi menjelaskan, secara populasi stok ayam sebenarnya masih mencukupi. Namun, bobot ayam yang belum memenuhi standar pasar membuat pasokan efektif menjadi berkurang.

“Pembeli melalui broker membeli berdasarkan berat badan ayam, bukan jumlah ekor. Jadi meskipun jumlah ayam cukup, kalau beratnya belum memenuhi standar, pasokan tetap kurang,” jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan ayam siap jual menurun di tengah permintaan yang tetap tinggi, sehingga harga di tingkat pasar ikut terdongkrak.

Berbeda dengan ayam pedaging, peternak ayam petelur justru menghadapi tekanan yang lebih berat. Harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp21.500 per kilogram, jauh di bawah break even point (BEP) atau biaya produksi yang hampir mencapai Rp26.000 per kilogram.

“Harga telur tidak tinggi, malah turun jauh di bawah BEP. Saat ini harga on farm hanya Rp21.500 per kilogram, sementara BEP hampir Rp26.000 per kilogram,” kata Ismadi.

Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat seiring kenaikan harga pakan dan bahan baku pakan. Kondisi tersebut membuat banyak peternak kesulitan mempertahankan usahanya.

“Pelaku usaha sudah tidak sanggup. Banyak yang hampir bangkrut bahkan berencana menjual kandang mereka,” ujarnya.

Ismadi menilai anjloknya harga telur tidak semata-mata disebabkan berkurangnya permintaan saat program makan bergizi gratis (MBG) sempat berhenti selama libur sekolah. Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar adalah melemahnya daya beli masyarakat.

“Saya melihat yang terjadi adalah menurunnya daya beli masyarakat. Uang yang dimiliki masyarakat sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan minimal keluarganya,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat juga ikut mendorong kenaikan biaya produksi peternakan karena sebagian besar bahan baku pakan masih bergantung pada impor.

“Memang masyarakat tidak membeli dengan dolar, tetapi banyak bahan baku yang diimpor menggunakan dolar. Ketika kurs naik, terjadi penyesuaian harga yang kemudian memengaruhi biaya produksi secara keseluruhan. Ini menimbulkan efek berantai atau multiplier effect,” pungkasnya. (Febri)

Bagaimana Menurut Anda