300 Kg Rastra Untuk Warga Miskin Diduga Sengaja Diendapkan Sekdes dan Mantan Kades Ini

399
Foto beras rastra yang diduga diendapkan di Balai Desa Tetehosi Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara.

GUNUNGSITOLI-SUMUT, BERITAANDA – Beras sejahtera (rastra) sebanyak sekitar 300 Kg yang diperuntukkan kepada warga miskin, diduga sengaja diendapkan Sekretaris Desa (Sekdes) dan mantan Kepala Desa (Kades) Tetehosi Afia di balai pertemuan umum Desa Tetehosi Afia Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli.

Menurut salah seorang warga Desa Tetehosi Afia yang namanya tidak mau dipublikasikan ketika ditemui oleh awak media menyampaikan, kalau beras tersebut seharusnya sudah tersalurkan kepada keluarga penerima manfaat ( KPM) pada bulan Desember 2018 lalu, namun sampai sekarang ini beras tersebut masih berada di balai desa tersebut.

“Persoalan ini juga sudah pernah disampaikan kepada anggota DPRD Kota Gunungsitoli ketika melaksanakan reses bersama perangkat Pemkot Gunungsitoli pada bulan Desember 2018 lalu. Namun saat itu belum diklarifikasi oleh perangkat desa. Jadi kami menduga kalau sekdes dan juga mantan Kades Tetehosi Afia sengaja mengendapkan beras tersebut untuk kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Gunungsitoli Asieli Zega ketika ditemui di kantornya, Jalan Pancasila, Desa Mudik, Gunungsitoli, Selasa (22/1/2019) mengatakan, bahwa pendistribusian rastra tahun 2018 kepada 302 KPM di Desa Tetehosi Afia Kecamatan Gunungsitoli Utara sudah terealisasi 100 persen. Hal itu berdasarkan laporan yang diterima oleh Dinas Sosial dari Desa Tetehosi Afia.

“Pada waktu saya menghadiri reses di Desa Tetehosi Afia bersama anggota DPRD Kota Gunungsitoli pada bulan Desember 2018 lalu, memang ada warga yang mempertanyakan atas keberadaan rastra di balai desa tersebut, tetapi waktu itu belum ada klarifikasi. Laporan secara lisan sekdes ketika saya tanya usai reses mengatakan kalau rastra tahun 2018 sudah terealisasi dan masalah beras yang ada di balai desa tersebut itu cuma yang penerima tidak berada ditempat,” terangnya.

Asieli menjelaskan kalau warga penerima rastra ini bisa digantikan dengan warga lainnya, kalau KPM pindah desa, meninggal dunia, dan tidak ada ahli waris, memiliki data ganda dan menolak menerima rastra melalui musyawarah desa.

“Kalau dibilang kelebihan itu tidak mungkin, karena pihak Bulog menyalurkan sesuai data KPM. Terkait persoalan ini, kita tidak bisa berandai-randai apa sebenarnya terjadi, namun ini menjadi tanggung jawab kita, dan kita akan menelurusi apa yang sebenarnya terjadi. Kalau memang bisa disalurkan kepada warga lain yang belum mendapatkan rastra kenapa harus ditahan-tahan,” ujarnya.

Sementara itu, tiga orang warga Dusun V Desa Tetehosi Afia, ditemui awak media Selasa (22/1/2019) malam, mengaku sudah bertahun-tahun belum pernah menerima bantuan beras rastra. Ketiga janda yang tergolong miskin ini, selain rastra beberapa bantuan lainnya contohnya Program Keluarga Harapan (PKH) serta Keluarga Indonesia Sehat (KIS) juga belum diterima.

Dua warga janda miskin yang tidak mendapatkan rastra di Desa Tetehosi Afia, Kecamatan Gunungsitoli Utara.

Seperti yang diungkapkan Ina Sorina, nenek yang sudah berumur 75 tahun ini semenjak suaminya meninggal dunia 25 tahun yang lalu, segala bentuk bantuan dari pemerintah tidak pernah ia terima.

“Pernah saya tanya, namun jawab kepala desa lama nama saya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan,” kata Ina Sorina, yang mengaku hidup sebatang kara di rumahnya, sedangkan selama ini dia hidup dari belas kasihan tetangganya.

Begitu juga Ina Julianus (58) dan Ina Emuri (63) yang bertetangga dengan Ina Sorina, mengaku sudah bertahun-tahun beras rastra belum mereka terima. Saat dipertanyakan kepada perangkat desa, namun jawaban yang didapatkan tidak jelas.

Ketiga janda ini mengharapkan kepada pemerintah agar memperhatikan nasib rakyat miskin di desa-desa, mengingat aparat desa kurang memperhatikan warganya.

“Kami berharap kepada pemerintah, bantuan yang sudah menjadi hak kami, bisa kami dapatkan. Kami ini miskin pak, dan kami sangat membutuhkan bantuan,” kata  Ina Julianus yang diamini oleh Ina Emuri. (Ganda)

Bagaimana Menurut Anda