Kawasan Batangtoru Tapsel Rawan Bencana Geologis

585

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Ahli Geologi dan Gempa Sumatera Utara, Jonathan Tarigan menyebut, kota kecil Batangtoru di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sangat rawan terhadap bencana longsor.

“Ada tambang berjarak sekitar dua kilometer di utara Kota Batangtoru. Secara geologis, kota ini labil dan rawan terhadap ancaman longsor,” tulis Jonathan dalam postingan berjudul ‘Kewajiban Moral’ di akun media sosialnya belum lama ini.

Tahun 2005 lalu, kata Jonathan, dia pernah menyampaikan tentang potensi ancaman bencana geologis di Tapanuli Selatan. Tepatnya pada saat sosialisasi mitigasi bencana geologis, yang dilaksanakan pemerintah daerah setempat di Tor Sibohi Nauli Hotel, Sipirok.

“Usai acara sosialisasi, saya diundang oleh Kapolres Tapsel bertandang ke kantornya di Padangsidimpuan. Tujuannya untuk memberikan penjelasan secara lebih terperinci lagi, seputar potensi ancaman bencana geologis di Tapsel,” urainya.

Tahun 2010, Dinas Pertambangan Kabupaten Tapsel meminta Jonathan untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang banjir bandang yang menyapu kawasan pertanian di sekitar lokasi tambang.

Tentu bukan perkara mudah memberikan penjelasan ilmiah kepada masyarakat yang menyimpan kegusaran akibat areal pertaniannya disapu banjir bandang. Pasalnya, warga menuding bencana itu muncul akibat akitivitas tambang.

“Pakar-pakar yang didatangkan dari Bandung tidak berani menjelaskannya. Sementara saya sendiri saat itu tidak tahu ternyata akan berhadapan dengan masyarakat yang diselimuti rasa gusar,” ungkap Jonathan.

Namun, berangkat dari dasar panggilan hati nurani serta tanggung jawab moral bagi seorang ahli geologi, Jonathan tetap mencoba memberanikan diri untuk tetap memberikan penjelasan tentang duduk perkara sebenarnya kepada masyarakat.

“Berangkat dari kejujuran, rasa tulus dan berempati dibarengi kesabaran mendengar suara masyarakat, akhirnya penjelasan ilmiah yang saya sampaikan itu dapat mereka terima. Batangtoru memang rawan bencana longsor,” jelasnya.

Kemudian di waktu berbeda, dimana pihak tambang memaparkan Amdal pertambangan emas mereka dihadapan Komisi Amdal Pemkab Tapsel. Lagi-lagi Jonathan mengingatkan betapa Kota Batangtoru sangat rawan terhadap bencana longsor.

Bagi Jonathan, kewajiban moral benar-benar sangat mengusiknya untuk menyampaikan informasi bahaya ancaman tersebut. Tujuannya jelas, guna menghindari adanya korban jiwa dikemudian hari.

Keberadaan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru juga tak luput dari kekhawatiran Jonathan. Bendungan yang dibangun PT. NSHE di Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan kawasan tektonik aktif, yang secara geologis merupakan daerah tidak stabil.

“Ketidakstabilan geologis DAS Batangtoru ditandai dengan terdapatnya gerakan tanah yang terus berlangsung, sebagaimana dapat dicermati di kawasan Aek Latong yang berjarak beberapa kilometer dari rencana lokasi bendungan itu,” katanya.

Tegas sebut Jonathan kepada BERITAANDA, Senin (18/3/2019), bahwa kawasan PLTA Batangtoru berada pada jalur tektonik sangat aktif patahan Sumatera, dari ruas/segmen Toru dan juga berada dalam jangkauan pengaruh kegempaan bersumber dari Patahan Angkola.

Malah, tambah dia, kegempaan dari jalur ‘Megathrust Nias’ juga sangat mempengaruhi mengguncang kawasan bendungan. Berbagai guncangan gempa akan dapat menimbulkan amplifikasi dan likuafaksi terhadap batuan dan tanah yang terdapat di kawasan pembangunan bendungan PLTA Batangtoru.

Menurut Jonathan, pergerakan patahan dapat mengancam stabilitas pondasi bendungan. Selain itu, simulasi jebolnya bendungan juga harus dilakukan untuk menilai risiko bencana yang mungkin ditimbulkan, mengingat keterdapatan pemukiman dibagian hilir lokasi rencana bendungan PLTA Batangtoru.

“Bercermin kejadian yang meminggirkan aspek kestabilan geologis bendungan. Ada banyak bangunan bendungan yang rusak dan jebol di kawasan geologis tidak stabil, kerusakan yang timbul mulai dari kerusakan kecil hingga kerusakan yang memunculkan katastrofa dan merenggut banyak jiwa,” jelasnya.

Dia mencontohkan, bendungan Malpaset di Perancis, dibangun pada tahun 1954. Empat tahun kemudian bendungan ini jebol dan runtuh, memunculkan limpasan air bah bagai tsunami dengan kecepatan 70 km/jam setinggi 40 meter. Letupan air menyapu bersih semua pemukiman di hilir bendungan, dan merenggut 400 jiwa tewas.

Padahal, beber Jonathan, bendungan Malpaset kala itu, oleh perancangnya diyakini memiliki kontruksi bendungan yang teramat kuat dan sangat aman. Sebab bendungan yang dibangun adalah tipe busur dengan konstruksi beton bertulang dengan ketebalan hampir 2 meter.

“Bendungan Malpaset bertulang diyakini sangat aman, sehingga tidak memerlukan advis-advis teknis lainnya, terlebih advis geologi sama sekali tidak diperlukan. Faktanya bendungan ini runtuh, dikarenakan kebocoran yang terjadi,” kata Jonathan.

Bendungan Malpaset yang dibangun pada kawasan geologi yang tidak stabil itu, akhirnya jebol dan runtuh oleh faktor-faktor geologis tanpa dipicu oleh guncangan gempa. Ditengarai akumulasi tekanan di waduk memicu instabilitas geologis kawasan bendungan Malpaset.

Sehingga menimbulkan pergeseran-pergeseran bidang patahan serta pelemahan kohesi batuan yang menimbulkan kebocoran-kebocoran yang dimulai dari bocor halus, hingga kebocoran meruntuhkan keseimbangan geologis kawasan daerah bendungan,” ungkap Jonathan.

“Sedikit saja salah perhitungan, pandang remeh (under estimate), ditambah kondisi geologi yang tidak stabil, maka bisa saja meruntuhkan bendungan. Jangan sampai dalih pembangunan infrastruktur justru menciptakan potensi bom waktu bagi kehidupan manusia, akibat pengabaian faktor alam,” pungkasnya. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda