Diarak di Atas Bade Setinggi 24 Meter, Bupati Egi Targetkan Balinuraga Jadi ‘Penglipuran’ Lampung pada 2027

14

LAMPUNG SELATAN, BERITAANDA – Desa Balinuraga kembali mencatatkan sejarah melalui penyelenggaraan Ngaben Massal Terbesar di Indonesia, Jumat (7/8/2026).

Di tengah ribuan masyarakat yang memadati jalannya prosesi sakral tersebut, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menerima penghormatan istimewa dengan diarak di atas bade setinggi sekitar 24 meter, simbol penghormatan tertinggi masyarakat adat kepada seorang pemimpin daerah.

Momen yang disebut baru pertama kali terjadi itu tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian prosesi adat, tetapi juga menandai eratnya sinergi antara Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan masyarakat Balinuraga dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya leluhur.

Dari penghormatan tersebut lahir komitmen besar Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan untuk mengembangkan Balinuraga sebagai desa wisata berbasis budaya pada 2027 dengan konsep yang terinspirasi dari Desa Penglipuran, Bali.

Dihadapan masyarakat, Bupati Egi menyampaikan keyakinannya bahwa Balinuraga memiliki seluruh potensi untuk menjadi destinasi wisata budaya unggulan. Menurutnya, kekuatan utama desa ini terletak pada kekompakan masyarakat dalam menjaga kebersihan, keamanan, keindahan lingkungan, serta kelestarian adat dan budaya.

“Kalau kita sepakat, insyaallah tahun 2027 Balinuraga akan saya jadikan desa wisata seperti Desa Penglipuran di Bali. Syaratnya satu, masyarakat harus tetap kompak menjaga kebersihan, keamanan, keindahan, dan kelestarian budayanya,” ujar Egi.

Bagi Egi, kesempatan menaiki bade raksasa menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti prosesi adat seperti itu dan merasakan langsung makna penghormatan yang diberikan masyarakat Balinuraga.

“Saya merasakan pengalaman yang luar biasa. Ini pertama kalinya saya mengikuti prosesi seperti ini. Perasaan saya campur aduk antara haru, bangga, dan bahagia. Saya sangat mengapresiasi masyarakat Desa Balinuraga yang terus menjaga tradisi dan budaya ini,” katanya.

Menurut Egi, kekayaan budaya yang masih terpelihara, semangat gotong royong masyarakat, serta kuatnya kepedulian terhadap adat istiadat merupakan modal besar dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya. Potensi tersebut diyakini tidak hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas Lampung Selatan sebagai daerah yang kaya akan keberagaman budaya.

Untuk mewujudkan target tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyatakan siap mendukung melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan akses jalan menuju desa, penataan kawasan, hingga penguatan ekosistem pariwisata.

Namun, Egi menegaskan keberhasilan pembangunan desa wisata tidak dapat bergantung pada pemerintah semata. Peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mempertahankan budaya menjadi kunci utama.

“Kalau Balinuraga menjadi desa wisata, akses jalannya akan kita perbaiki, lingkungannya dipercantik. Tetapi pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ini harus menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Balinuraga, melainkan aset berharga Kabupaten Lampung Selatan yang memiliki nilai strategis sebagai daya tarik wisata sekaligus warisan yang harus dijaga lintas generasi.

Sementara itu, salah seorang panitia pembangunan bade, Wayan Mantra, menjelaskan bahwa keputusan mengarak Bupati Lampung Selatan di atas bade merupakan bentuk penghormatan tertinggi masyarakat adat kepada pemimpin daerah yang dinilai memberikan perhatian besar terhadap pelestarian budaya.

“Ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami. Bupati bersama jajaran kami arak di atas bade sebagai simbol penghormatan masyarakat adat sekaligus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Desa Balinuraga,” ujar Wayan Mantra.

Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, Ketua PHDI Provinsi Lampung Dr. I Nyoman Setiawan, Camat Way Panji Raden Permata Marga, serta tokoh agama dan pemuka adat setempat.

Perpaduan kemegahan prosesi Ngaben Massal, penghormatan adat kepada kepala daerah, serta komitmen pemerintah mengembangkan desa wisata berbasis budaya menjadikan perhelatan tahun ini tidak hanya bermakna sebagai upacara keagamaan, tetapi juga menjadi tonggak awal transformasi Balinuraga menuju destinasi wisata budaya unggulan di Lampung.

Dengan kekayaan tradisi yang tetap lestari dan dukungan pemerintah daerah, Balinuraga kini menatap masa depan sebagai ikon wisata budaya baru Kabupaten Lampung Selatan yang diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (Kmf)

Bagaimana Menurut Anda