Dapat Surat Panggilan Selaku Tersangka, Amrina Menuntut Keadilan

571
korban

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Karena tak terima dirinya mendapat surat panggilan untuk didengar keterangannya selaku tersangka, sehubungan dengan perkara tindak pidana penganiayaan yang terjadi di Dusun 1 Desa Sungai Menang Kecamatan Sungai Menang Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada Rabu (6/7/2022) lalu sekitar pukul 09.00 WIB. Amrina (49) menuntut keadilan.

Pasalnya, menurut ibu rumah tangga (IRT) ini, saat peristiwa yang terjadi di dalam rumahnya tersebut, dirinya lah yang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh Debi, yang kala itu sengaja datang menuai perkara hingga terjadi peristiwa tersebut.

Saat dibincangi BERITAANDA, Selasa (20/9/2022), Amrina menceritakan awal mula hingga terjadinya peristiwa naas yang dialaminya.

Menurut dia, hal itu imbas dari kejadian yang terjadi pada tanggal 4 Juli 2022 sekira pukul 15.30 WIB yang dialami oleh suaminya, Rahmat Hidayat.

“Kala itu, suamiku sedang berada di kebun miliknya sendiri, melihat ekskavator yang dia sewa, lagi menggembur tanah untuk menanam sawit. Tiba-tiba datang 2 orang mengendarai sepeda motor, yakni Sukma, wanita tak lain saudara kandung suamiku, ditemani pria bernama Sabda,” cerita dia.

Keduanya saat itu langsung menghampiri Rahmat Hidayat, sambil marah-marah. Yang intinya tidak memperbolehkan kebun digusur ekskavator. Tapi saat itu, Rahmat Hidayat sempat bilang, ‘sudahlah balek lah, dak usah nak ribut’, dengan nada tinggi.

“Hingga akhirnya Sukma dan Sabda mau beranjak pulang, tiba-tiba datanglah Debi dengan mengendarai sepeda motor langsung menyetop ekskavator sambil berkata, ‘stop berenti kamu kerjo. Ini tanah uwak aku, kagek kamu aku laporkan’,”ujar dia menirukan ucapan Debi kala itu.

Sedangkan Debi ini tidak ada hubungan waris dengan kebun itu, hanya ingin menjadi pahlawan kesiangan. Kemudian karena hari sudah sore, maka berentilah ekskavator bekerja, dan Rahmat Hidayat juga pulang.

“Perlu kami tegaskan, tanah kebun yang di gembur pakai ekskavator itu sudah sertifikat atas nama suamiku, Rahmat Hidayat,” tandas dia seraya mulai menceritakan peristiwa penganiayaan yang terjadi pada tanggal 6 Juli 2022 di rumahnya.

Pagi itu sekira pukul 09.00 WIB, saat ia berada di dapur rumah sedang menggoreng pempek, datanglah Debi masuk rumah tanpa izin sambil berteriak, ‘hei Amrina, ngape kau nyuruh laki kau gusur kebun’.

“Atas teriakan itu, lalu saya jawab, ‘aku dak tahu, temui bae laki aku di kebun’. Kemudian Debi langsung marah dan memaki-maki dengan perkataan kasar serta emosi yang tinggi,” ucap dia.

Karena mendengar cacian tersebut, ia langsung meninggalkan dapur menuju ruang tamu yang sekaligus dijadikan toko, lalu berucap, ‘ngape kau ngomong mak itu’. Lalu Debi langsung mengambil botol air mineral daira dari atas etalase yang masih berisi air, memukul kepalanya.

“Akibatnya, botol air mineral tersebut pecah sampai airnya berhamburan. Usai memukul kepala, Debi juga langsung menarik baju saya sampai merobek dan mencekik serta mencakar leher sebelah kiri saya. Tak hanya itu, dia juga merangkul dan menjatuhkan saya ke lantai sampai membuat saya tersungkur,” tandas dia.

Karena sudah tak berdaya, ia cuma bisa berteriak beberapa kali minta tolong, namun lambat dapat pertolongan. Akibatnya, baju robek, leher sebelah kiri luka – luka, tangan sebelah kanan memar, jari tengah serta jari manis keseleo dan gigi palsunya sampai lepas.

“Saat kejadian, di rumah kami ada Abdul Hamid dan Eka Saputra yang saat itu sedang berada di ruang makan, jaraknya sekira 3 meter dan terlindung estalase kaca antara ruang tamu (ruang toko) dengan ruang makan tersebut, dimana ketika itu keduanya sedang makan,” tukas dia.

Namun karena mendengar teriakannya, Abdul Hamid langsung beranjak dari meja makan. Ketika melihat Debi membabi buta menganiaya Amrina, lantas Abdul Hamid menolong dengan cara menarik tangannya yang sedang dalam posisi keadaan tersungkur serta dalam rangkulan Debi.

“Sedangkan Eka Saputra, hanya melihat saja sambil terbungkam. Ketika Abdul Hamid menarik saya, Kala itu Debi masih berusaha untuk menganiaya. Kemudian muncul Yusuf sambil berteriak, ‘sudahlah Debi berentilah’,” ucap dia menirukan perkataan Yusuf.

Karena mendengar perkataan Yusuf, barulah Debi secara bertahap meninggalkan lokasi sambil berteriak memaki – maki, lalu naik motor pergi.

“Jadi, Debi yang menyatroni saya, sebab jarak antara rumah Debi dan rumah kami lebih kurang 2 kilometer dengan RT berbeda. Sebelum merelai, saat itu Yusuf dan Abdul sedang duduk di luar atau di teras rumah kami, tapi pandangan keduanya ke dalam terhalang pintu kayu yang sedang terbuka setengah. Yusuf tahu setelah mendengar teriakan minta tolong dari saya, ketika dianiaya oleh Debi,” jelas dia.

Usai Debi pergi, lalu ia pun melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sungai Menang, dan diterima oleh anggota polisi bernama Briptu Haucen SH. Sambung dia, saat itu ia tak diberikan surat tanda bukti lapor, hanya diberi surat penghantar visum et revertum.

“Setelah itu, saya langsung menuju ke Puskesmas Sungai Menang untuk visum. Dan pada hari yang sama sekira pukul 14.00 WIB, saya kembali menuju kantor Polsek Sungai Menang untuk minta surat tanda bukti lapor hingga akhirnya mendapatkannya,” jelas dia.

Lalu proses berlanjut, mulai dari panggilan pertama dan kedua. Dimintai keterangan, baik ia selaku korban maupun Abdul Hamid, Eka Saputra dan Abdul selaku saksi, menghadap Briptu Haucen.  Sambung dia, hingga akhirnya pada 8 September 2022, dirinya mendapat surat panggilan.

“Dalam surat ini, disuruh datang Sabtu 17 September 2022 menghadap penyidik Briptu Haucen. Kali ini saya untuk didengar keterangan selaku tersangka sehubungan perkara tindak pidana penganiayaan yang terjadi pada hari Rabu 6 Juli 2022 atas dasar laporan Debi tertanggal 19 Agustus 2022,” ujar dia.

Atas adanya surat panggilan ini, tentu ia pun bingung sehingga langsung berkonsultasi ke penasihat hukum.

“Menurut penasihat hukum, tidak tepat dan tak beralasan jika saya dijadikan sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana penganiayaan. Oleh karena itu demi hukum, saya dan penasihat hukum, meminta agar kepolisian membebaskan saya dari sangkaan atau tuduhan penganiayaan tersebut,” pungkas dia seraya berharap agar keadilan ditegakkan dengan seadil-adilnya. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda