Pagelaran Budaya Sriwijaya di Yogyakarta Tidak Dihargai Pemprov Sumsel

2825

JOGJA, BERITAANDA – Sprit of Sriwijaya Riwayatmu Kini dan Nanti’ merupakan tema pagelaran budaya yang diadakan di Yogyakarta, Senin (10/12/2019).

Sanggar Sriwijaya di bawah naungan IKPM Sumsel bersama-sama 17 komisariat kota/kabupaten beserta warga Sumsel-Yogyakarta melaksanakan kegiatan pagelaran budaya yang diawali simposium kebudayaan pada Sabtu (7/12/2019), dilaksanakan di Gedung Teaterikal Syariah UIN Sunan Kalijaga. Menghadirkan pembicara Dr. Erwan Surya Negara, Drs. Refani Igama, M.Si san Mulyadi S,Fil.

Dilanjutkan pada Senin (9/12/2019), pementasan karya seni berupa pameran lukisan, pameran makanan khas, pakaian khas seluruh Sumsel, dan tari kreasi yang menceritakan budaya yang ada di Sumsel.

Pegelaran budaya ini diadakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa Sumsel di Jogja terhadap pelestarian budaya, sekaligus kritik kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan. Dimana sebagai pemangku kekuasaan tidak ada sama sekali bentuk apresiasi terhadap kesenian dan budaya, terutama para penggiat seni dan mahasiswa Sumsel yang ada di Jogja.

Pagelaran ini juga diadakan berdasarkan pada kegelisahan para mahasiswa Sumsel-Jogja akan perkembangan budaya yang ada di Sumsel sendiri. Selain itu, kegiatan ini salah satu bentuk promosi budaya.

Berangkat dari kegelisahan para mahasiswa Sumsel-Jogja menciptakan ruang sendiri untuk teman-teman penggiat seni, aktivis intelektual dan seluruh elemen masyarakat Sumsel-Jogja yang hanya bermodalkan keyakinan, melestarikan budaya dan memperkenalkan kerajaan Sriwijaya.

Dalam proses penggarapan pagelaran ini, tidak ada satu rupiah pun dapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Sumsel. Dana yang para mahasiswa dapat berupa bantuan-bantuan dari senior, dana usaha dan beberapa perusahaan yang ada di Jogja dan Sumsel.

Sudah hampir empat kali mahasiswa Sumsel-Jogja yang diwakili oleh IKPM Sumsel-Jogja untuk audiensi dengan Pemerintah Provinsi Sumsel, namun selalu ditolak, baik dalam bentuk proposal atau undangan acara.

Dari pihak birokrasi pemerintahan pun tidak dapat menjelaskan secara transparansi kenapa hal tersebut bisa terjadi. Sampai para mahasiswa berasumsi bahwa setiap surat yang mereka kirimkan kepada pemerintah provinsi berakhir di tong sampah.

Mahasiswa merasa bahwa pemprov tidak serius dalam melestarikan seni dan budaya yang ada di Sumsel, karena dalam acara pemerintah hanya diwakilkan oleh Kepala Taman Budaya Sumatra Selatan.

Para mahasiswa ini pun mengaku kecewa kepada pemerintah provinsi atas sikap yang sangat arogan tersebut.

“Kami bukan ingin bantuan dalam bentuk dana atau pun lainnya, yang kami harapakan hanyalah bentuk perhatian, setidaknya Bapak Gubernur Sumatra Selatan hadir dan memberikan senyuman kepada anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan di tanah rantau ini,” kata perwakilan mahasiswa. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda