Napi Lapas Kayuagung Ini Ternyata Sebar Berita Hoax

1780

KAYUAGUNG-OKI, BERITAANDA – Penyiksaan yang katanya dialaminya Mus Andrian, warga binaan di Lapas Klas II B Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) akhirnya terungkap. Dan ternyata, itu adalah kabar bohong belaka yang sengaja direkayasa oleh penghuni Lapas kasus penggelapan tersebut.

Mus Andrian akhirnya mengaku nekat menyebarkan berita bohong (hoax), lantaran dirinya terlilit utang hingga Rp83 juta. Jumlah fantastis tersebut diperoleh mantan karyawan BRI ini dari sesama napi Lapas.

“Surat yang beredar diluar yang saya kirim ke kakak melalui ibu tidak benar. Semata-mata supaya kakak saya datang melunasi hutang saya,” tulisnya dalam surat yang ditandatangi dia sendiri.

Mus Adrian sendiri menegaskan bahwa dirinya tak pernah disiksa fisik. Apalagi disiksa hendak dibunuh seperti pengakuannya sebelumnya. Napi yang divonis penjara 7 tahun 6 bulan ini mengaku hanya tertekan batin lantaran penagih utang kerap berkata kasar.

Salah satu penghuni Lapas, Slamet menegaskan, pengakuan Mus disiksa bahkan mengaku hendak dibunuh merupakan akal-akalan pelaku. Dirinya menduga, dengan pengakuan bohong itu, ia bisa dipindahkan di Lapas lainnya sehingga terhindar dari hutang-hutangnya.

“Peraturan di Lapas sini bisa dibilang ketat. Masalah sedikitpun, petugas pasti mengetahuinya. Jadi kalau dibilang dikejar-kejar hendak dianiaya, bahkan dikatakan mau dikencingi, itu bohong belaka,” terang dia

Lanjut dia, ia bersama 11 orang napi lainnya merupakan korban sebenarnya. Karena dirinya sendiri telah terperdaya mulut manis pelaku hingga merelakan tabungannya Rp16 juta digasak Mus.

“Kami korban sesungguhnya. Bukan Mus. Jika diantara kami yang merasa kesal, mungkin wajar. Sekarang siapa yang bertanggung jawab dengan hutangnya,” ujar dia kesal.

Kalapas Hamdi Hasibuan membenarkan surat terbuka yang ditujukan untuk dirinya. Dirinya dengan tegas membantah tuduhan Mus. Baginya, tak mentolerir bentuk kekerasan apapun oleh siapapun.

Menurut Hamdi, surat itu diresponnya dengan mengumpulkan petugas dalam memperkuat bukti tuduhan tersebut. Para napi pun tak lepas dari pantauannya.

“Dari hasil pemeriksaan petugas dan napi, sama sekali tidak ada bukti yang menguatkan atas penyiksaan maupun ancaman hendak dibunuh. Logikanya, jika memang benar diperlakukan tidak baik, masa iya bisa hutang dengan napi lainnya,” terang dia.

Dikatakan Hamdi, tidak hanya napi Lapas Kayuagung yang jadi korban Mus. Sebelumnya, napi Mata Merah jadi korban hingga Rp100 juta. Modusnya hampir sama, setelah korbannya banyak, maka direkayasa seakan diperlakukan tak baik, biar bisa pindah.

“Kira-kira begitulah modusnya. Jadi pemberitaan sebelumya itu tidak benar. Hal ini sudah saya klarifikasi ke pimpinan dan teman-teman wartawan agar berimbang,” tandas dia. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda