Perkuat Penyerbukan Kelapa Sawit, PT Prime Agri Resources Introduksi Serangga Asal Tanzania

1

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – PT Prime Agri Resources Tbk (PAR) secara resmi melaksanakan pelepasan serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania di wilayah operasional perkebunan PAR di Sumatera Selatan, Rabu (12/8/2026).

Pelepasan serangga penyerbuk tersebut dilakukan oleh Direktur/Chief Technology Officer PT Prime Agri Resources Tbk, Dr. Dwi Asmono, dan disaksikan oleh jajaran manajemen Prime Agri Resources Region Sumatera Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program riset strategis nasional yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program riset ini dipimpin oleh PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) serta didukung GAPKI sebagai mitra strategis.

Program ini juga mengintegrasikan peran Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian sebagai pengarah kebijakan dan Badan Karantina Indonesia sebagai pengawas keamanan hayati, guna memastikan pelaksanaan introduksi dilakukan secara aman, bertanggung jawab, dan mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.

Introduksi serangga penyerbuk kelapa sawit menjadi langkah nyata perusahaan dalam mendukung penguatan sistem penyerbukan alami sekaligus membangun ketahanan ekosistem perkebunan kelapa sawit terhadap dinamika lingkungan dan perubahan iklim.

Tiga spesies serangga penyerbuk yang diperkenalkan, yaitu Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus, merupakan serangga yang dikoleksi dari Tanzania dan telah melalui rangkaian pengujian sebelum diintroduksikan ke Indonesia. Pelepasan di Sumatera Selatan selanjutnya diarahkan untuk membangun kompleks polinator yang lebih beragam sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan dan stabilitas penyerbukan di ekosistem perkebunan kelapa sawit.

Memperkuat Ketahanan Penyerbukan di Tengah Dinamika Iklim

Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah penting dalam produksi kelapa sawit nasional yang menghadapi dinamika kondisi lingkungan, termasuk perubahan curah hujan, suhu, kelembapan, dan ketersediaan air.

Perubahan kondisi lingkungan, termasuk periode kering yang lebih panjang dan peningkatan suhu, dapat memengaruhi berbagai proses fisiologis tanaman maupun aktivitas serangga penyerbuk. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting untuk memperkuat pendekatan adaptasi berbasis ekosistem dalam pengelolaan perkebunan.

Selama ini, Elaeidobius kamerunicus menjadi spesies utama yang berperan dalam penyerbukan alami kelapa sawit di Indonesia. Kehadiran beberapa spesies dalam satu kompleks polinator diharapkan dapat memberikan keragaman ekologis yang lebih baik dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga efektivitas penyerbukan.

Melalui program ini, PAR berfokus pada empat tujuan utama:

  1. Diversifikasi polinator, melalui pengembangan kompleks beberapa spesies serangga penyerbuk di ekosistem kelapa sawit.
  2. Penguatan ketahanan ekologis, dengan mempelajari kemampuan dan respons masing-masing spesies terhadap kondisi lingkungan perkebunan.
  3. Integrasi riset dan praktik perkebunan, melalui pemantauan populasi, perilaku, dan efektivitas penyerbukan secara terukur.
  4. Menjaga stabilitas produksi, dengan mendukung proses penyerbukan alami yang berkontribusi terhadap pembentukan buah (fruit set) dan kualitas tandan buah segar (TBS).

Dari Riset Nasional ke Implementasi di Tingkat Kebun

Pelepasan ini merupakan contoh bagaimana kolaborasi antara sektor swasta, peneliti, dan pemangku kepentingan perkebunan dapat menghasilkan langkah konkret di tingkat kebun.

“Introduksi serangga penyerbuk ini merupakan bagian dari komitmen PT Prime Agri Resources Tbk untuk terus mendorong inovasi berbasis sains dalam menghadapi tantangan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit. Kami melihat penguatan kompleks polinator bukan sekadar sebagai program introduksi spesies, tetapi sebagai investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem perkebunan yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan dan dinamika iklim. Kami akan terus mendukung kolaborasi antara perusahaan, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk memastikan setiap tahapan program dilaksanakan secara bertanggung jawab, terukur, dan berlandaskan prinsip biosafety,” kata Dr. Dwi Asmono, Chief Technology Officer PT Prime Agri Resources Tbk.

Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pelepasan serangga, tetapi juga pada pembangunan basis data dan pengetahuan mengenai interaksi antara tanaman, serangga penyerbuk, dan lingkungan perkebunan. Hasil pemantauan di lapangan akan menjadi bagian penting dalam menentukan efektivitas dan keberlanjutan program.

Pendekatan Berbasis Riset dan Data

Pengembangan kompleks polinator membutuhkan proses penelitian dan pengamatan yang berkelanjutan. Setiap spesies memiliki karakteristik biologis dan respons ekologis yang berbeda terhadap kondisi lingkungan.

Karena itu, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari keberadaan atau peningkatan populasi serangga, tetapi juga dari kemampuan spesies tersebut beradaptasi, berinteraksi dengan ekosistem setempat, mengunjungi bunga kelapa sawit, dan berkontribusi terhadap proses penyerbukan.

“Secara biologis, keberadaan lebih dari satu spesies penyerbuk memberikan peluang untuk membangun kompleks polinator yang lebih beragam di perkebunan kelapa sawit. Namun, kita tidak boleh langsung mengasumsikan bahwa introduksi spesies akan otomatis meningkatkan penyerbukan atau produktivitas. Karena itu, aspek terpenting dari program ini adalah pemantauan dan evaluasi berbasis data, mulai dari kemampuan adaptasi, dinamika populasi, perilaku kunjungan ke bunga, hingga kontribusinya terhadap fruit set dan pembentukan buah. Hasil pemantauan di Sumatera Selatan akan memberikan bukti ilmiah mengenai bagaimana kompleks polinator tersebut berinteraksi dengan kondisi agroekosistem setempat,” tambah Dr. Ruli Wandri, Peneliti Senior PT Prime Agri Resources Tbk.

Data yang diperoleh dari kegiatan pemantauan selanjutnya diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai pengelolaan polinator pada perkebunan kelapa sawit Indonesia serta menjadi dasar bagi pengembangan strategi pengelolaan biodiversitas yang lebih efektif.

Pemantauan Berkelanjutan

Pelaksanaan program akan disertai dengan pemantauan lapangan secara berkala untuk memastikan perkembangan populasi dan efektivitas serangga penyerbuk dalam mendukung proses penyerbukan kelapa sawit.

Tim agronomi PAR bersama tim peneliti dalam konsorsium akan melakukan pemantauan terhadap populasi, distribusi, perilaku, interaksi antarpopulasi, serta efektivitas penyerbukan secara berkala.

Data hasil pemantauan akan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan adaptasi masing-masing spesies dan menentukan strategi pengelolaan kompleks polinator yang sesuai dengan kondisi agroekosistem kelapa sawit di Sumatera Selatan.

Program ini diharapkan menjadi rintisan jangka panjang dalam pengembangan sistem penyerbukan yang lebih beragam, adaptif, dan berbasis bukti ilmiah, sekaligus memperkuat kontribusi sektor perkebunan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda