Kadis Pariwisata Tapsel Dituding Atraksi ‘ABS’ Hingga Kibuli Wisatawan Aek Sijornih

1932
Kadis Pariwisata Tapsel Abdul Saftar (topi putih) bersama petugas lainnya saat melakukan pemasangan plang merek 'bebas pungutan disepanjang objek wisata' di wisata alam Aek Sijornih, baru-baru ini.

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Masyarakat dibuat geram dengan klaim Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) yang menyatakan tidak ada lagi bentuk kutipan apapun bagi wisatawan yang datang berekreasi ke objek wisata alam Aek Sijornih, Kamis (2/1/2020).

Pasalnya, pernyataan kadis yang juga pernah dimuat di salah satu portal media online tersebut justru berbanding terbalik dengan kondisi rill di lokasi wisata Aek Sijornih. Pengunjung menggerutu harus merogoh kocek dalam, memenuhi kutipan uang di setiap jengkal tanah yang dilewati.

Kritikan tajam pun mulai bermunculan dari berbagai elemen. Salah satunya Ketua Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (Satma AMPI) Kabupaten Tapsel, Lukman Hakim Daulay. Menurutnya, Kadis Pariwisata Tapsel sedang melakukan manuver pencitraan kepada atasan.

“Kami menilai apa yang digaungkan Kadis Pariwisata terkait bebas kutipan di Aek Sijornih hanya pepesan kosong, bahkan pernyataan yang dibarengi aksi penancapan plang merek bertulis ‘bebas pungutan disepanjang jalan objek wisata’ itu menjurus ke atraksi ‘ABS’ (asal bapak senang),” ujarnya.

Lukman pun mengaku heran, hal apa yang mendasari Kadis Pariwisata sedemikian serampangan membuat sebuah item kegiatan tanpa melalui tahapan observasi. Artinya, menurut dia, sebelum kebijakan itu diinformasikan, semestinya ada semacam uji coba apakah benar-benar bisa diterapkan.

“Yang terjadi bisa kita lihat bersama. Apa yang dia katakan ternyata tidak benar adanya, masyarakat merasa dikelabui. Setiap kaki melangkah di lokasi tersebut, maka sejauh itu pula mereka harus membayar pungutan demi pungutan. Lalu mana bebas pungutan yang dimaksud,” tanya Lukman.

Ditambahkannya, kalaupun Kadis Pariwisata mengatakan upaya membebas kutipan yang dilakukan pihaknya itu gagal dikarenakan ada oknum-oknum nakal yang memanfaatkan situasi, justru hal itu pula yang menguatkan bahwa si kadis memang pencitraan serta mencari pembenaran tindakan.

“Kami menunggu langkah bupati mengganjar perbuatan anak buahnya yang diduga sudah mengkibuli masyarakat tersebut. Hal seperti ini jangan dipandang persoalan sepele. Kita tidak mau imej destinasi wisata Tapsel tercoreng dikarenakan ulah pejabat SKPD-nya yang bermental ‘ABS’,” tegas Lukman.

Di sisi lain, salah satu wisatawan asal Padangsidimpuan, pun mengungkapkan kekesalannya. Setahun tidak menginjakkan kaki di objek wisata alam Aek Sijornih, Rina mengaku datang kembali mengunjungi lokasi wisata berlimpah air jernih yang memang menarik untuk mengisi hari libur bersama keluarga.

“Hampir setahun sudah, kami tidak lagi berkunjung kemari. Kami datang kembali karena informasinya berwisata di Aek Sijornih dinyatakan bebas dari kutipan. Tapi kenyataannya, semua masih seperti kemarin-kemarin, banyak pungutan tak menentu,” kesal Rina yang datang bersama anak dan suami.

Setahu Rina, dulu begitu masuk ke jembatan gantung menuju lokasi wisata maka akan dikenakan biaya Rp10 ribu per orang. Kemudian lebih kurang berjalan perlima meter jengkal tanah, maka siap-siap pula menyetor uang dengan dalih kebersihan yang besarannya bervariasi, Rp2 ribu – Rp5 ribu per orang.

“Parahnya lagi, kita yang datang menaiki dan memarkirkan kenderaan roda empat, suka atau tidak wajib membayar uang parkir yang besarannya di luar kewajaran, Rp25 ribu. Menyesal kami datang kemari. Kalau tahu begini, pastinya kami akan memilih berwisata ke lokasi lain saja,” imbuhnya.

Sementara Kadis Pariwisata Kabupaten Tapsel, Abdul Saftar, yang coba ditemui oleh awak media ini terkait polemik bebas pungutan di lokasi wisata alam Aek Sijornih di Kecamatan Sayurmatinggi, hingga berita dikirim ke meja redaksi, masih belum berhasil mendapatkan penjelasan. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda