Dari STAIN ke UIN Syahada: Syahrul Pasaribu Ungkap Rekam Jejak Perjuangan Panjang

72

PADANGSIDIMPUAN, BERITAANDA – Tokoh masyarakat Sumatera Utara yang juga Bupati Tapanuli Selatan dua periode (2010–2015 dan 2016–2021), H. Syahrul M. Pasaribu SH, kembali mengenang rekam jejak perjuangannya dalam proses transformasi perguruan tinggi Islam di Padangsidimpuan.

Kisah ini mencuat saat ia diminta menyampaikan sambutan dihadapan ratusan wisudawan S1 dan S2 Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (Syahada) Padangsidimpuan, Sabtu (24/1/2026).

Syahrul dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam proses peningkatan status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Padangsidimpuan menjadi IAIN hingga bertransformasi menjadi UIN Syahada seperti saat ini. Banyak karya visioner yang ia torehkan semasa menjabat, dan hingga kini masih terus dinikmati masyarakat luas.

STAIN Padangsidimpuan didirikan pada 21 Maret 1997 di Kelurahan Sihitang, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara. Enam belas tahun kemudian, tepatnya pada penghujung 2013, perguruan tinggi negeri satu-satunya di kawasan Pantai Barat Sumatera Utara tersebut resmi naik status menjadi IAIN Padangsidimpuan.

Pada masa itu, STAIN dipimpin oleh Dr. Ibrahim Siregar. Syahrul yang baru menjabat sebagai Bupati Tapanuli Selatan selama tiga tahun turut memainkan peran penting. Koordinasi intensif antara keduanya mempercepat pemenuhan berbagai syarat administratif dan teknis yang diperlukan.

Tak hanya memberikan rekomendasi, Syahrul juga menghibahkan lahan seluas 4 hektare di kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan di Sipirok untuk perluasan kampus. Lahan tersebut ketika itu direncanakan sebagai lokasi gedung pascasarjana atau fakultas, sesuai dengan karakter Sipirok sebagai ibu kota Tapanuli Selatan.

“Pada suatu hari di tahun 2012, saya harus pulang-pergi Medan–Jakarta untuk menyatakan kesanggupan mendukung peningkatan status STAIN kepada pejabat Kementerian Agama. Ketua STAIN Pak Ibrahim bersama para pejabat kampus sudah menunggu lebih dahulu,” kenang Syahrul.

Peresmian IAIN Padangsidimpuan sekaligus pelantikan rektor pertama, Prof. Dr. Ibrahim Siregar, dilakukan langsung oleh Menteri Agama saat itu, Surya Dharma Ali, yang ditandai dengan pengguntingan pita di depan gedung auditorium.

Transformasi selanjutnya, dari IAIN menjadi UIN Syahada, mulai digagas pada 2017 ketika Prof. Ibrahim Siregar menjabat sebagai Rektor IAIN dan Syahrul memasuki periode kedua sebagai Bupati Tapanuli Selatan.

Kolaborasi keduanya bersama civitas akademika kembali menempuh perjalanan panjang, memperbaiki berbagai kekurangan hingga akhirnya pada 8 Juni 2022, IAIN resmi beralih status menjadi UIN Syahada.

“Dalam rangka peningkatan kualitas generasi muda, kita fokus pada pendidikan. Semua ini murni untuk kepentingan bangsa, agama, dan daerah,” ujar Syahrul.

Dalam acara wisuda tersebut, Syahrul mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati S1 maupun S2, seraya berharap ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor UIN Syahada, Prof. Dr. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag, yang akan segera mengakhiri masa jabatannya. Menurut Syahrul, Prof. Darwis berhasil menjaga serta meningkatkan kualitas dan reputasi UIN Syahada di tengah masyarakat.

Sementara kepada para kandidat calon rektor yang berjumlah lima orang, Syahrul berpesan agar berkontestasi secara sehat.

“Hampir semua calon adalah sosok yang ikut berjuang sejak STAIN naik status menjadi IAIN hingga menjadi UIN,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Padangsidimpuan, Harry Pahlevi Harahap, turut menyampaikan sambutan. Ia mendorong para lulusan S1 untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana guna memperkuat kompetensi di era persaingan global.

Wisuda tersebut dihadiri anggota senat UIN Syahada, civitas akademika, serta para orang tua mahasiswa yang menyaksikan langsung prosesi kelulusan putra-putri mereka. [Anwar]

Bagaimana Menurut Anda