Batik Petule, dari Meja Makan Menjadi Fashion Elegan Khas Muara Enim

39

MUARA ENIM, BERITAANDA – Sebuah inovasi budaya lahir dari kearifan lokal masyarakat Muara Enim. Sayur petule atau oyong, yang biasanya hadir di meja makan sebagai hidangan sehat, kini bertransformasi menjadi motif batik yang elegan dan sarat makna.

Batik bernama batik petule ini merupakan hasil kreasi Ketua TP PKK Kabupaten Muara Enim, Hj. Heni Pertiwi Edison S.Pd. Batik tersebut resmi diluncurkan oleh Bupati Muara Enim H. Edison SH M.Hum pada puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-53 yang digelar di Balai Agung Serasan Sekundang, Selasa (11/11/2025).

Peluncuran batik petule juga dimeriahkan dengan fashion show busana batik petule oleh Finalis Bujang Gadis Muara Enim, serta penyerahan sertifikat HAKI dan cap tembaga motif batik petule kepada para pengrajin batik di Kabupaten Muara Enim.

Dalam sambutannya, Bupati Muara Enim mengapresiasi kreativitas TP PKK di bawah kepemimpinan Hj. Heni Pertiwi Edison. Ia berharap kehadiran batik petule tidak hanya memperkaya khasanah batik daerah, tetapi juga menjadi simbol sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

“Batik petule bukan hanya karya seni, melainkan representasi identitas budaya Muara Enim yang dapat memperkuat sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. Inilah wujud cinta terhadap budaya lokal yang diharapkan menjadi ikon baru Muara Enim, mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Bupati.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Muara Enim, Hj. Heni Pertiwi Edison menjelaskan, bahwa batik petule sebelumnya telah diperkenalkan pada ajang Kriya Sriwijaya Fashion Show (KSFS) 2025 di Palembang dan menarik perhatian wisatawan mancanegara saat tampil di Wakatobi WAVE 2025.

Keunikan motif serta filosofi yang terkandung di dalamnya menjadikan batik petule sebagai produk unggulan khas Muara Enim yang layak dipromosikan lebih luas. Heni berharap peluncuran ini menjadi momentum penting bagi TP PKK untuk terus mendorong kreativitas, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian budaya lokal melalui kegiatan yang berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga. (Angga)

Bagaimana Menurut Anda