BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Provinsi Lampung terus mendorong penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, rumah sakit rujukan, serta komunitas guna memastikan anak-anak yang terdeteksi mengidap penyakit jantung bawaan (PJB) dapat segera memperoleh tindak lanjut dan akses layanan kesehatan yang dibutuhkan.
Komitmen tersebut ditegaskan Ketua YJI Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, dalam kegiatan Congenital Heart Disease (CHD) Awareness Week atau Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan 2026 yang digelar di Klinik Pahlawan Medical Center (PMC), Bandar Lampung, Senin (9/2/2026).
CHD Awareness Week 2026 dilaksanakan secara serentak di 27 kota di Indonesia. Dalam peringatan ini, YJI bersama mitra kesehatan menyelenggarakan pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung) gratis bagi anak usia 0 hingga 18 tahun sebagai upaya deteksi dini penyakit jantung bawaan, disertai edukasi kesehatan bagi orang tua dan masyarakat.
Purnama Wulan Sari Mirza menegaskan, penyakit jantung bawaan masih menjadi tantangan serius karena kerap tidak terdeteksi sejak dini. Hal ini dipengaruhi keterbatasan edukasi, baik di kalangan orang tua maupun masyarakat awam.
“Penyakit jantung bawaan merupakan salah satu kelainan bawaan yang sering kali tidak terdeteksi. Bukan karena tidak ada, tetapi karena orang tua belum memahami gejala-gejala yang muncul pada anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kelainan jantung bawaan sejatinya sudah dapat dideteksi sejak bayi baru lahir, bahkan sejak usia nol bulan. Namun keterlambatan deteksi menyebabkan penanganan juga menjadi terlambat.
“Bagaimana mau ditanggulangi jika tidak terdeteksi. Padahal semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang anak-anak kita untuk tumbuh normal, sehat, dan produktif,” lanjutnya.
Melalui kegiatan screening ini, YJI bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Lampung berupaya meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan dilakukan menggunakan ekokardiografi dan disertai edukasi langsung dari dokter spesialis jantung subspesialis anak.
“Ini bentuk kepedulian kami untuk mendeteksi sejak awal apakah ada kelainan jantung bawaan pada anak. Pengobatannya bukan proses singkat, tetapi proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama,” tegasnya.
Selain aspek medis, Purnama juga menyoroti pentingnya dukungan psikososial bagi anak penyandang PJB. Menurutnya, peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak.
“Kami mendengar ada anak yang tidak mau sekolah karena mengalami perundungan. Artinya, persoalan ini tidak hanya soal medis, tetapi juga psikologis. Anak-anak ini harus dibantu agar tetap percaya diri dan mampu tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Diakhir, Purnama mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama bergerak menyelamatkan masa depan anak Indonesia melalui jantung yang lebih sehat.
“Kegiatan ini kami harapkan tidak hanya menjadi sarana pemeriksaan dan edukasi, tetapi juga langkah nyata membangun kepedulian bersama. Setiap anak berhak atas kehidupan yang sehat dan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PERKI Cabang Lampung dr. Terrance Ransun Sp.JP(K) menyampaikan, bahwa penyakit jantung bawaan masih menjadi masalah kesehatan anak yang membutuhkan perhatian serius.
“Diperkirakan dari setiap seribu kelahiran hidup, sekitar 9 hingga 10 bayi memiliki penyakit jantung bawaan. Secara global, ini berarti sekitar 1,3 hingga 1,4 juta bayi lahir dengan kelainan jantung setiap tahunnya,” jelasnya.
Menurut dr. Terrance, tantangan utama saat ini bukan hanya tingginya angka kejadian, tetapi juga keterbatasan deteksi dini dan akses layanan kesehatan yang belum merata, termasuk di Provinsi Lampung. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi serius hingga meningkatkan angka kematian pada anak dengan PJB berat.
Dalam kegiatan screening ini, tercatat sekitar 70 peserta mengikuti pemeriksaan di Klinik PMC dengan rentang usia 3 bulan hingga 17 tahun. Sementara di RSUD Abdul Moeloek ditargetkan sekitar 50 pasien untuk menjalani pemeriksaan serupa.
“Program ini bertujuan mengidentifikasi dini kelainan jantung pada bayi dan anak, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan lokal dalam deteksi awal, serta membangun sistem rujukan yang efisien untuk perawatan lanjutan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan wujud komitmen PERKI Lampung bersama YJI dan mitra kesehatan lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan serta pengetahuan masyarakat, khususnya orang tua, mengenai deteksi dini penyakit jantung bawaan.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat besar dan menjadi momentum peningkatan pelayanan kesehatan jantung bawaan di Provinsi Lampung,” pungkasnya.
Sebagai bentuk empati dan dukungan nyata, YJI Provinsi Lampung juga menyerahkan bantuan pendampingan kepada pasien penyandang penyakit jantung bawaan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban orang tua serta menegaskan bahwa mereka tidak menghadapi perjuangan ini sendirian.
Kegiatan ini juga diisi dengan penyuluhan kesehatan terkait penyakit jantung bawaan yang disampaikan oleh dr. Dwi Krisnawati Sp.JP FIHA, Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. (Katharina)




























