Soal Bebas Pungutan di Aek Sijorni, Kadis Pariwisata Tapsel Lakukan Pembohongan Publik

1636
Kiri: Plang merek plat besi milik Dinas Pariwisata Tapsel tertulis 'bebas pungutan'. Kanan: plang merek karton bekas milik warga bertulis 'bayar'.

TAPSEL-SUMUT, BERITAANDA – Kadis Pariwisata Tapanuli Selatan (Tapsel), Abdul Saftar, meradang dan sontak melakukan manuver. Ia tegaskan, bebas pungutan di sepanjang objek wisata alam Aek Sijorni, di Desa Aek Libung, Sayurmatinggi, Tapsel, bukanlah sebuah kebohongan namun merupakan fakta di lapangan.

Penegasan itu dilansir melalui sebuah rekaman video Kadis Abdul Saftar didampingi Camat Sayurmatinggi, Emmy Farida, yang tampak turun langsung, sekaligus mewawancarai salah satu pengunjung Aek Sijorni, asal Tarutung. Saftar terlihat kenakan kaos oblong biru menanyai seorang lelaki berkemeja warna putih.

Dalam video berdurasi 3 menit 10 detik tersebut, usai menanyai dan mendengar pemaparan si pengunjung, Saftar menegaskan informasi yang beredar di laman jejaring sosial yang menyebutkan bahwa wisata alam Aek Sijorni ada banyak kutipan dan cenderung kurang bersahabat dengan wisatawan telah terbantahkan.

“Kami di sini ini tim, yang memang kita berharap di sini para pengunjung itu bisa nyaman. Dan, pungli-pungli yang mungkin bapak dengar atau bapak tahu dari media sosial, itu (adalah pebuatan) orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Saftar dalam video, sembari sarankan pengunjung untuk men-share indahnya destinasi wisata Aek Sijorni di medsos.

Penasaran dengan kebenaran video yang menurut sumber akurat dinyatakan direkam Sabtu (4/1/2020), awak media ini coba melakukan cek lapangan dan sengaja memilih waktu pada hari kerja kantor, atau dua hari setelah perekaman video, Senin (6/1/2020). Tiba di lokasi sekira pukul 17.00 Wib, kendaraan roda dua kami parkirkan di sisi kiri jembatan gantung.

Plang merek bercat hijau bertuliskan bebas pungutan di sepanjang jalan objek wisata berdiri kokoh di sisi kanan titian dipastikan menyambut wisatawan yang akan melalui akses utama menuju lokasi wisata alam Aek Sijorni. Informasinya, pengadaan plank/merk/himbauan di lokasi objek wisata (sejenis) bersumber dari APBD Tapsel, melalui Dinas Pariwisata tahun 2019.

Hingga berada di ujung jembatan, tidak ada seorang pun yang meminta kutipan kepada kami. Tapi, mengambil rute kanan ujung titian sejauh 25 meter, atau setelah plang merek kedua bebas pungutan kami lewati, tiba-tiba keberadaan kami dihampiri seorang perempuan paruh baya. Ia meminta kami membayar karena telah berjalan dan lewat dari lahan miliknya.

Kami yang berjumlah empat orang terus melangkah dan tidak menghiraukan permintaannya. Sempat juga kami utarakan ke perempuan itu bahwa plang merek menyebut bebas pungutan, dan dijawab olehnya hal itu cuma berlaku di sepanjang jembatan saja. Kami tak bergeming sembari melangkah pergi meneruskan perjalanan menuju lokasi dimana air terjun berada.

Belum sampai di pemandian air terjun yang banyak digandrungi pengunjung. Di perjalanan menanjak, kami pun melirik keberadaan tiga orang pemuda yang mangkal di sebuah gubuk kecil mirip pos jaga ukuran 1×1 meter. Tidak ada terdengar ucapan apapun dari mereka, pun kepada pengunjung lain yang mengekor di belakang sedari bertemu di persimpangan jalan.

Namun, hal yang membuat kami sangat terperanjat dan cukup mengusik hati, seorang dari sekelompok pemuda itu seolah asyik mengasah pisau belati yang sepertinya sudah berlinang karena keseringan diasah terus menerus. Timbul kesan, hal itu mereka lakukan cuma untuk menakuti-nakuti ataupun mengintimidasi tiap pengunjung yang lewat dihadapan mereka.

Awak media ini setelah berpisah dengan tiga kerabat yang masuk ke lokasi pemandian khusus berbayar, melanjutkan penelisikan ke puncak lokasi Aek Sijorni. Di sini, perjalanan saya hentikan setelah menemui sebuah karton bekas bertulis ‘masuk ke pemandian air terjun bayar’ terpampang di pintu masuk air terjun. Terlihat seorang perempuan paruh baya menunggui.

Kelompok pelajar yang masih mengenakan seragam yang ada di belakang saya masuk begitu saja tanpa ada dimintai sepeser rupiah alias gratis. Belakangan diketahui, para pelajar tersebut merupakan penduduk setempat, terdengar dari ocehan si ibu penjaga pintu yang mengumbar satu persatu nama dari orang tua muda-mudi itu. Bersamaan keluar rombongan lain.

Giliran saya mengekor rombongan yang baru saja keluar dari lokasi air terjun dan bermaksud pulang dari jalan yang sama. Jalur yang saya lewati tatkala mendaki bersama-sama dengan para pelajar yang ternyata adalah putra daerah setempat dan mengajak teman sekolahnya berwisata ke Aek Sijorni sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Menapaki jalan pulang sebelum pos jaga tadi, tempat mangkal pemuda pengasah pisau belati. Berdiri pula plang merek bebas pungutan ketiga yang saya temui disepanjang lokasi objek wisata Aek Sijorni. Berjalan terus bersama rombongan sebuah keluarga, terdiri dari ibu, ayah serta anak dan menantu ditambah seorang cucu laki-laki berusia lebih kurang tiga tahun.

Setibanya di dataran rendah berada persis di depan pemandian khusus berbayar Aek Sijorni, saya lantas mencegat dan mewawancarai rombongan keluarga yang mengaku berasal dari Kota Siantar itu. Dimintai penjelasan apakah di sepanjang perjalanan mereka di lokasi Aek Sijorni tidak dikenakan pungutan, kompak mereka jawab ada dan bahkan sampai tiga kali.

“Tadi sehabis jembatan kami dikutip bayaran sebesar Rp2 ribu per orang, di tengah-tengah pun (di pos jaga) juga dimintai Rp2 ribu per orang. Ditambah kutipan di atas, saat memasuki lokasi air terjun, kami bayar lagi sedikitnya Rp3 ribu per orang,” kata ibu tersebut yang minta namanya tidak di publish, diaminkan anaknya yang ikut menyimak pembicaraan.

Padahal, lanjut keduanya, disimak dari laman jejaring sosial, juga di salah satu media online bahwa banyak pengutipan di lokasi wisata Aek Sijorni, dan ternyata itu memang benar. Disumber lain, kata mereka lagi, disebutkan tidak ada kutipan, tapi sesampainya di lokasi Aek Sijorni pungutan liar itu benar dan nyata adanya serta tidak terbantahkan kebenarannya.

Merujuk pernyataan pengunjung asal Siantar tersebut yang juga diperkuat dengan rekaman video tanpa ada potensi unsur setingan sedikitpun, patut diduga kuat video pembenaran ‘telah bebas pungutan’ versi Kadis Pariwisata saat mewawancarai pengunjung lain sarat dengan intrik tersembunyi. Sebab, bagaimana bisa di lokasi objek sama terjadi pengalaman berbeda.

Hal itu pun mengundang reaksi keras dari pemerhati kinerja pemerintahan, Saleh Harahap.

Menurut dia, perilaku Kadis Pariwisata Tapsel itu sudah mengarah kepada pembodohan publik melalui informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Bahkan, cukup menjurus kepada pembohongan publik yang itu tidak etis dan tidak patut dilakukan seorang pejabat publik.

“Menurut hemat kami, Bupati Tapsel selaku atasan yang bersangkutan sudah semestinya ambil sikap dengan mengevaluasi kinerja anak buahnya seperti demikian itu. Jangan karena bawahan yang tidak becus bekerja, reputasi Bupati Tapsel yang dikenal konsen membangun kepercayaan publik terciderai,” ujar Saleh mendesak ketegasan bupati. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda