Setahun di Tengah Badai, ‘Bagusi’ Menenun Perubahan dari Puing Bencana

16

TAPANULI SELATAN, BERITAANDA – Setahun pertama pemerintahan Gus Irawan Pasaribu bersama Jafar Syahbuddin Ritonga, yang dikenal dengan ‘Bagusi’, berjalan jauh dari kata mudah. Alih-alih menikmati masa awal kepemimpinan dengan konsolidasi yang tenang, mereka justru dihadapkan pada ujian besar: bencana datang bertubi-tubi ketika roda pemerintahan baru saja mulai berputar.

Belum genap setahun, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor melanda hampir seluruh wilayah, yakni 14 dari 15 kecamatan di Tapanuli Selatan. Situasi ini memaksa pemerintah daerah bekerja dalam dua medan sekaligus: membenahi tata kelola pemerintahan yang selama ini stagnan, sembari bergerak cepat menyelamatkan dan memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.

Perlahan, indikator kinerja pemerintahan menunjukkan perbaikan. Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), yang selama lima tahun bertahan di level CC, akhirnya naik menjadi B pada 2025. Peningkatan ini mencerminkan tata kelola yang semakin terukur dan akuntabel.

Perbaikan juga terlihat dalam upaya pencegahan korupsi. Indeks Monitoring Center for Prevention (MCP) dari Komisi Pemberantasan Korupsi melonjak signifikan, beranjak dari zona merah menuju zona hijau. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa transparansi dan integritas mulai menjadi fondasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Di sisi pelayanan publik, masyarakat mulai merasakan perubahan nyata. Nilai pelayanan yang sebelumnya berada di kategori C meningkat menjadi B. Seiring itu, Indeks Masyarakat Digital Indonesia juga mengalami kenaikan, menandakan adaptasi teknologi yang semakin baik dalam kehidupan sehari-hari.

Menariknya, di tengah masa pemulihan akibat bencana, prestasi justru hadir di tingkat nasional. Program Gerakan 1.000 Kolam mengantarkan Tapanuli Selatan meraih penghargaan dalam ajang Indonesia’s SDGs Action Award yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Pengakuan ini menegaskan bahwa inovasi tetap tumbuh, bahkan dalam situasi krisis.

Capaian lainnya turut menguatkan narasi perubahan. Pengendalian inflasi daerah menempatkan Tapanuli Selatan sebagai salah satu yang terbaik di tingkat nasional. Di sektor kesehatan, keberhasilan mengeliminasi filariasis menjadi tonggak penting, mengakhiri status endemis yang selama ini membayangi masyarakat.

Namun dibalik angka dan penghargaan, perubahan paling terasa justru hadir dalam kehidupan sehari-hari warga.

Pasca-bencana besar pada 25 November 2025, pemerintah daerah bergerak cepat melakukan pendataan korban. Langkah ini membuka akses terhadap berbagai bantuan dari pemerintah pusat, mulai dari Dana Tunggu Hunian, bantuan perbaikan rumah, hingga program pemulihan ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat secara bertahap.

Hunian sementara dibangun, dan tenda-tenda pengungsian perlahan ditinggalkan. Kini, warga tak lagi bertahan di bawah terpal. Mereka mulai kembali ke ruang hidup yang lebih layak, menata ulang kehidupan yang sempat porak-poranda.

Menjelang Idul Fitri, suasana haru pun terasa. Lebaran kali ini bukan sekadar perayaan usai berpuasa, melainkan simbol kemenangan melawan keadaan, tentang pulang, tentang kebersamaan yang kembali dirajut setelah melewati masa sulit.

Dukungan dari berbagai pihak turut mempercepat pemulihan. Pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memberikan perhatian, yang diperkuat dengan sinergi bersama TNI, Polri, pemerintah provinsi, BUMN, hingga para relawan di lapangan.

Meski demikian, kekuatan terbesar tetap datang dari masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai kearifan lokal seperti Dalihan Na Tolu, Siriaon, dan Siluluton hidup dalam keseharian, menjadi perekat sosial di tengah suka dan duka. Gotong royong hadir bukan sebagai slogan, melainkan sebagai praktik nyata: saling membantu, menguatkan, dan menjaga satu sama lain.

Di tengah dinamika tersebut, pemerintah daerah juga mulai menanam harapan jangka panjang. Melalui program Sekolah Rakyat, akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu diperluas—sebuah langkah yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan masa depan generasi mendatang.

Genap setahun sejak pelantikan kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2024 oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada 20 Februari 2025, pasangan Bagusi memimpin Tapanuli Selatan dengan 15 kecamatan, 212 desa, dan 36 kelurahan.

Waktu satu tahun mungkin terasa singkat untuk menghadirkan perubahan besar. Namun, di Tapanuli Selatan, perjalanan itu telah menunjukkan arah yang jelas. Bahwa di tengah badai, selalu ada ruang untuk bertahan. Dan dari puing bencana, perubahan dapat ditenun, pelan namun pasti. [Anwar]

Bagaimana Menurut Anda