Pemprov Lampung Jajaki Kerja Sama Dagang dengan Tiongkok, Bidik Pasar Global untuk Komoditas Desa

6

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menjajaki kerja sama perdagangan internasional dengan Tiongkok. Upaya ini ditandai dengan penerimaan 13 delegasi perdagangan asal Tiongkok di Bandar Lampung, Selasa (13/10/2026), guna membuka peluang pasar global bagi komoditas unggulan desa.

Penjajakan tersebut sejalan dengan komitmen Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam memperkuat perekonomian masyarakat berbasis desa melalui program prioritas Desaku Maju.

Gubernur menekankan pentingnya mengubah paradigma pembangunan ekonomi daerah, dari pendekatan trickle-down economy atau efek tetesan ke bawah menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan saling menguatkan (two-way growth).

Kebijakan ini berlandaskan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 serta selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Melalui penguatan ekonomi perdesaan, potensi lokal diharapkan mampu memberikan nilai tambah nyata bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha di tingkat akar rumput.

Kepala Disperindag Provinsi Lampung, Mohammad Zimmi Skil, memimpin langsung audiensi tersebut. Pertemuan itu turut dihadiri tim Hagakawa Trading House Lampung serta sejumlah akademisi dan praktisi, yakni Ardiansyah, Prof. Ayi Ahadiat, Roby Herdian, David Kurniawan, Aswin Tama, Steven, dan Meizano.

Dalam penjajakan ini, Hagakawa Trading House Lampung berperan sebagai katalisator dalam mendorong pengembangan ekspor komoditas unggulan desa ke pasar internasional.

Delegasi Tiongkok menyampaikan ketertarikan terhadap potensi komoditas Lampung, khususnya pada dua sektor utama, yakni ekonomi biru (blue economy) dan ekonomi hijau (green economy).

Pada sektor ekonomi biru, komoditas perikanan dan kelautan menjadi salah satu peluang yang dibahas. Produk yang menarik perhatian antara lain ikan, kepiting soka, kepiting bakau, tiram, kerang putih, dan bawal bintang.

Sementara itu, pada sektor ekonomi hijau, Lampung menawarkan berbagai komoditas pertanian dan perkebunan strategis, termasuk aneka rempah-rempah dan tepung tapioka yang berpotensi memenuhi kebutuhan industri di Tiongkok.

Untuk memastikan kesiapan rantai pasok dan distribusi, delegasi Tiongkok juga meninjau fasilitas pelabuhan peti kemas di Lampung. Peninjauan tersebut bertujuan melihat kesiapan infrastruktur logistik daerah dalam mendukung kelancaran pengiriman komoditas ekspor dalam skala besar.

Penjajakan kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal bagi produk unggulan masyarakat desa untuk memperluas jangkauan pemasaran, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga ke pasar internasional.

Pemprov Lampung berkomitmen menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut menuju kemitraan yang konkret. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing daerah, memperluas akses pasar, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. (Katharina)

Bagaimana Menurut Anda