Panen Raya di Trimurjo, Lampung Siap Jadi Garda Terdepan Ketahanan Pangan Nasional

51

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui berbagai program kolaboratif bersama Kejaksaan dan pemerintah daerah.

Hal itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri panen raya sekaligus tanam padi musim tanam ketiga di Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, Kamis (14/8/2025).

Kegiatan di lahan binaan Kejaksaan Negeri Lampung Tengah ini dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi H. Yandri Susanto, Jaksa Agung Muda Intelijen Prof. Dr. Reda Mantovani, Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Danang Suryo Wibowo, Bupati Lampung Tengah dr. H. Ardito Wijaya, unsur Forkopimda serta ratusan petani.

Gubernur Mirza menegaskan, 67 persen masyarakat Lampung menggantungkan hidup pada sektor pertanian, terutama padi, jagung, dan singkong. Namun selama puluhan tahun, petani belum meraih pendapatan maksimal akibat harga jual rendah, akses pupuk yang sulit, serta keterbatasan modal dan teknologi.

“Kebijakan Presiden Prabowo menetapkan harga gabah minimal Rp6.500 per kilogram menjadi angin segar bagi petani. Dengan kenaikan harga ini, pendapatan mereka bisa melampaui Upah Minimum Regional, sehingga anak petani bisa sekolah, membeli pupuk, dan memperbaiki taraf hidup,” ujar Gubernur Mirza.

Pemprov Lampung, lanjutnya, mendukung penuh kebijakan tersebut dengan mengawal proses dari hulu hingga hilir, mulai penyediaan bibit, pendampingan modal, hingga penyerapan hasil panen. Menurutnya, kolaborasi dengan Kejaksaan melalui program Petani Mitra Adhyaksa terbukti efektif mengurangi kemiskinan dan kriminalitas berbasis ekonomi di pedesaan.

Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya melaporkan, panen musim kedua tahun ini mencakup lebih dari 4.000 hektare lahan dengan produksi sekitar 28,68 ton. Usai panen, 2.000 hektare lahan segera ditanami kembali. Program ini juga disertai bantuan alat dan sarana pertanian seperti traktor, combine harvester, pompa air, dan 50 ton benih padi.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda Intelijen Prof. Reda Mantovani menegaskan, Kejaksaan fokus pada tiga hal, yakni pendampingan hukum untuk melindungi petani dari mafia pupuk dan sengketa lahan, penguatan akses teknologi dan pemasaran digital, serta pembangunan ekosistem pertanian berkelanjutan berbasis kemitraan.

“Kami ingin memastikan manfaat program langsung dirasakan petani, bukan hanya tertulis di atas kertas. Pertanian harus menjadi kekuatan bangsa, dan petani adalah pahlawan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Kegiatan diakhiri dengan panen bersama oleh Menteri Desa, Gubernur Lampung, dan Jaksa Agung Muda Intelijen, sebagai simbol komitmen menjadikan Lampung garda terdepan ketahanan pangan nasional.

Ketua Gapoktan Manunggal, Agus (45) mengungkapkan, rata-rata hasil gabah kering panen mencapai 8 ton. Setelah diolah menjadi gabah kering giling, jumlah tersebut berkurang sekitar 15 persen, dan menghasilkan beras siap konsumsi sekitar 5,5 ton.

“Pupuk dan bibit mudah didapat, penjualan hasil panen juga lancar, dan harga gabah saat ini sangat menguntungkan petani,” pungkasnya. (Katharina)

Bagaimana Menurut Anda