Konflik Gajah Tak Kunjung Usai, Bupati Ela Soroti Nasib Warga Sekitar Way Kambas

6

LAMPUNG TIMUR, BERITAANDA – Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah menyoroti kondisi masyarakat desa penyangga disekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang selama ini terdampak konflik antara manusia dan gajah.

Menurut Ela, konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut menyebabkan masyarakat menanggung berbagai kerugian, mulai dari kerusakan lahan pertanian hingga ancaman terhadap keselamatan.

“Selama ini masyarakat belum mendapat manfaat signifikan, tetapi justru harus menanggung dampak konflik yang panjang,” kata Ela di sela-sela Forum Rembuk Taman Nasional Way Kambas, Kamis (26/3/2026).

Ia menilai keberadaan kawasan konservasi seharusnya tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya.

Pemerintah saat ini tengah mendorong pengelolaan Way Kambas melalui pendekatan baru, yakni menggabungkan aspek konservasi, pembangunan desa, serta skema pasar karbon. Melalui skema tersebut, pendanaan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta dan masyarakat melalui mekanisme perdagangan karbon.

Ela menyambut baik rencana tersebut dan berharap program ini dapat menjadi solusi atas konflik berkepanjangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap program yang dijalankan, sehingga warga tidak lagi hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi.

Konflik manusia dan gajah di kawasan Way Kambas diketahui telah berlangsung lebih dari 40 tahun. Warga desa penyangga kerap mengalami gagal panen akibat tanaman mereka dirusak satwa liar.

“Keberhasilan program ini akan menjadi penentu arah baru pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, khususnya dalam menyeimbangkan kepentingan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Sejalan dengan komitmen tersebut, pemerintah pusat memastikan pembangunan pagar pembatas sepanjang 138 kilometer di kawasan Taman Nasional Way Kambas sebagai langkah konkret untuk mengakhiri konflik antara manusia dan satwa liar.

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni mengungkapkan, bahwa usulan awal pembangunan pagar pembatas hanya sepanjang 11 kilometer, yang diajukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat pada November 2025. Namun, setelah dilakukan kajian menyeluruh, Presiden Prabowo Subianto menilai panjang tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung lama.

“Kalau hanya 11 kilometer, konflik tidak akan selesai. Ini masalah yang sudah terjadi selama 43 tahun, menimbulkan korban jiwa, merusak lahan pertanian, dan menghambat pertumbuhan ekonomi desa,” ujar Raja Juli Antoni yang turut menghadiri forum tersebut. (*)

Bagaimana Menurut Anda