TAPANULI SELATAN, BERITAANDA – Ditengah geliat pembangunan yang semakin kompetitif antar daerah, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) mencuri perhatian nasional.
Pada 2025, Tapsel resmi menyabet predikat Terbaik 1 Indonesia’s SDGs Action Award, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada daerah paling progresif dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
Bukan tanpa alasan Tapsel menduduki posisi jawara. Ada satu program yang menjadi sorotan dan dianggap sebagai lompatan besar dalam transformasi ekonomi masyarakat: Program 1000 Kolam.
Program tersebut merupakan sebuah inisiatif yang lahir dari visi kampanye Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, dan kini menjelma menjadi gerakan kolektif yang mengubah cara masyarakat memandang pangan, ekologi, hingga masa depan daerah.
Diawal masa kampanye, Gus Irawan sering berbicara tentang kemandirian pangan. Ia yakin, daerah yang kuat adalah daerah yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Visi itu kemudian berkembang menjadi ide besar, yakni menghidupkan kembali kolam-kolam rakyat, memperluas budidaya perikanan, dan memadukannya dengan tradisi lokal serta inovasi modern.
“Saya bersyukur bisa mewujudkan apa yang dulu saya janjikan,” ujar Gus Irawan, seraya menegaskan bahwa ketika niat baik dibarengi kerja bersama, hasilnya bisa luar biasa.
Kini, 1000 Kolam bukan lagi sekadar gagasan kampanye. Program itu telah menjadi ikon baru Tapsel, sebuah simbol transformasi sosial ekonomi yang membumi namun visioner.
Satu fakta menjadi pemantik percepatan program ini, kebutuhan ikan tawar masyarakat Tapsel mencapai 15.000 ton per tahun. Sementara produksi lokal baru memenuhi 7.500 ton saja. Sisanya harus didatangkan dari luar daerah.
Defisit ini bukan hanya persoalan angka. Ia berpengaruh pada harga, akses gizi, dan ketahanan pangan masyarakat. Di tengah kebutuhan tersebut, Program 1000 Kolam tampil sebagai solusi yang paling masuk akal dan berdampak.
Pemkab Tapsel tidak bekerja sendirian. Induk ikan mas disalurkan ke kelompok-kelompok budidaya, sementara pakan, peralatan, serta pendampingan teknis diberikan kepada desa-desa.
“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa pemerintah hadir secara nyata di tengah-tengah mereka,” kata Gus Irawan.
Hingga kini, 801 kolam telah berdiri lewat pendanaan APBD, APBDes, dan CSR. Namun angka yang paling impresif datang dari partisipasi warga.

Ketika pemerintah menyulut semangat, masyarakat merespons dengan membangun kolam secara swadaya. Kombinasi keduanya membuat jumlah kolam menembus 1.000 unit lebih.
Dalam waktu yang relatif singkat, belum sampai enam bulan, produksi ikan melonjak hingga 7.500 ton. Target berikutnya jelas, menembus 15.000 ton dan mencapai swasembada ikan. Bahkan jika target tercapai, Tapsel berpeluang menjadi pemasok bagi daerah tetangga.
Dibalik cerita 1000 Kolam, ada satu babak penting yang jarang terdengar, yaitu penguatan lubuk larangan, zona sungai yang dijaga bersama oleh masyarakat. Tradisi yang sudah lama hidup ini kini diberi sentuhan manajemen modern.
Tokoh adat, pemuda, pemerintah desa, hingga komunitas lokal bersatu menjaga kelestarian sungai. Hasilnya bukan hanya peningkatan populasi ikan, tetapi juga tumbuhnya kesadaran ekologis baru. Bagi Tapsel, ini bukan sekadar program, tetapi warisan budaya yang kembali mendapat panggung.
Salah satu aspek paling inovatif dari program ini adalah integrasinya dengan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Limbah sisa dapur tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah menjadi pakan tambahan ikan. Konsep ekonomi sirkular ini membuat biaya budidaya lebih efisien dan lingkungan tetap terjaga.
Inovasi semacam inilah yang membuat Tapsel dilirik para juri SDGs Award. Mereka melihat bahwa Program 1000 Kolam bukan hanya tentang produksi pangan, tetapi juga tentang pembangunan ekosistem yang benar-benar berkelanjutan.
Ketika penghargaan nasional itu diserahkan, Gus Irawan tidak menempatkannya sebagai trofi bagi pemerintah semata. Ia membuka ruang apresiasi bagi masyarakat luas.
“Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Tapsel. Terima kasih atas sinergi dan gotong royong yang terus hidup di tengah kita. Berkat kebersamaan ini, Tapsel bisa bangkit, bangkit ekonominya, bangkit pembangunannya, dan bangkit semangat masyarakatnya,” ucapnya.
Dalam majelis penjurian, Tapsel dipuji karena pendekatannya yang tidak hanya teknis, tetapi juga sosial dan kultural. Program 1000 Kolam telah menciptakan mata rantai perubahan yang menyentuh banyak tujuan SDGs sekaligus.
Jika banyak daerah berbicara tentang pembangunan berkelanjutan di atas podium, Tapanuli Selatan membuktikannya langsung di lapangan.

Melalui kolam-kolam rakyat, lubuk larangan yang hidup kembali, ekonomi sirkular yang berjalan, hingga gerakan bersama masyarakat, Tapsel menunjukkan bahwa inovasi sering lahir dari akar rumput.
Ketika Indonesia mencari model pembangunan daerah yang relevan, murah, dan berdampak besar, Tapanuli Selatan telah memperlihatkannya.
Dan semuanya bermula dari satu pertanyaan sederhana: bisakah kita membangun ketahanan pangan dari desa? Jawaban Tapsel kini bergema ke seluruh Indonesia. [Anwar]





























