Gubernur Sumsel dan Bupati OKI Bermalam di Posko Karhutla, Semangati Petugas Pemadam

15

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDA – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki bermalam di tenda posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Ahad (11/10/2026) malam.

Kehadiran keduanya untuk memberikan dukungan moril kepada petugas yang masih berjibaku memadamkan api di tengah kemarau panjang dan kepungan asap.

Di posko, Deru dan Muchendi berdialog dengan personel satuan tugas (satgas) karhutla untuk mendengarkan perkembangan penanganan kebakaran, kendala di lapangan, serta kebutuhan yang diperlukan guna mendukung operasi pemadaman.

Deru mengatakan, keputusannya bermalam di posko merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap petugas yang bekerja dalam kondisi sulit. Selain memberikan dukungan moril, pemerintah juga menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya bagi personel di lapangan.

“Dengan begitu, mereka tahu kami juga memperhatikan dengan cara malam ini menginap di sini,” kata Deru.

Suasana akrab terlihat saat Gubernur dan Bupati makan malam bersama petugas di depan tenda posko. Dalam kesempatan tersebut, keduanya juga menyerap aspirasi personel terkait berbagai tantangan selama proses pemadaman.

Deru mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama dan gotong royong seluruh pihak. Kemarau berkepanjangan yang diperparah fenomena El Nino membuat upaya pemadaman tahun ini menghadapi tantangan lebih berat.

Menurut dia, Desa Jungkal sudah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir tercatat pada 27 Juni lalu. Kondisi tersebut menyebabkan sawah dan sumur mengering, debit air sungai menyusut, serta lahan dan vegetasi semakin rentan terbakar.

Kondisi lahan yang kering, terutama di kawasan gambut, menyulitkan petugas dalam mengendalikan api. Selain memadamkan kebakaran yang sudah terjadi, petugas juga harus mengantisipasi munculnya titik api baru yang berpotensi meluas akibat tiupan angin.

“Kita harus sikapi ini dengan teguh tapi sabar serta terus berikhtiar,” ujar Deru.

Ia mengimbau masyarakat untuk menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan guna mencegah munculnya titik api baru. Menurutnya, pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus meringankan beban petugas di lapangan.

“Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api,” katanya.

Deru juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai material kering, seperti ranting dan daun, yang mudah terbakar dalam kondisi cuaca panas dan lingkungan yang kering. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Desa Jungkal menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla di Kabupaten OKI. Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan, terdapat 47 titik panas (hotspot) dan sembilan titik api (firespot) di wilayah tersebut.

Deru menyebut OKI sebagai salah satu daerah dengan jumlah titik panas dan titik api terbanyak saat ini. Karakteristik geografis OKI yang memiliki kawasan lahan gambut turut meningkatkan kerawanan kebakaran.

Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, Desa Jungkal masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, terutama di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.

Muchendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas dampak asap yang ditimbulkan karhutla. Ia memastikan pemerintah kabupaten akan berupaya maksimal untuk menangani kebakaran dan mengurangi dampaknya.

“Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini,” ujar Muchendi.

Upaya pemadaman masih menghadapi kendala operasional. Helikopter untuk melakukan pengeboman air (water bombing) belum dapat mengudara akibat jarak pandang yang rendah. Padahal, dukungan pemadaman dari udara diperlukan untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Disisi lain, angin yang berembus ke arah utara membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Pergerakan asap tersebut memperluas dampak karhutla hingga ke luar wilayah kebakaran dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.

Pemerintah bersama petugas gabungan terus berupaya menangani kebakaran sekaligus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan selama kondisi kemarau masih berlangsung. (Iwan)

Bagaimana Menurut Anda