Gubernur Mirza: Literasi Pondasi Kemajuan Peradaban Bangsa

20

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal mengungkapkan pentingnya literasi sebagai fondasi utama peradaban suatu bangsa. Menurutnya, Indonesia pernah berjaya dalam bidang literasi. Namun kini, khususnya di Provinsi Lampung, tingkat literasi berada pada posisi terendah dibandingkan provinsi lain.

Dengan kemajuan teknologi yang pesat, literasi tetap menjadi roh dan garda terdepan agar masyarakat mampu mengikuti arus besar revolusi informasi yang kini telah memasuki era 5.0. Teknologi dan literasi, kata dia, harus saling menguatkan.

“Kita sudah berkeliling ke berbagai daerah di Lampung, mulai dari desa, sekolah, guru, pegawai, hingga sektor usaha, dan menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi dan informasi dapat menjadi acuan dalam penguatan literasi. Literasi adalah kunci kemajuan peradaban,” kata Mirza saat membuka acara Santiago Jurnalistik dan Kehumasan Bongkar Post Group, Sabtu (18/10/2025).

Menurut Mirza, literasi sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa dan perlu dibudayakan, terutama di kalangan generasi muda.

“Mengapa literasi begitu penting?. Apakah teknologi informasi yang ada saat ini tidak cukup?. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kerap muncul di masyarakat dengan tingkat pemahaman literasi yang masih rendah. Kita harus paham, salah satu ciri bangsa maju adalah tingginya tingkat literasi,” ujarnya.

“Literasi mampu meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan wawasan seseorang. Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang tegak lurus dengan kualitas bangsa. Para ahli menyebutkan, tingginya minat membaca seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan perilakunya,” tambahnya.

Selain itu, kecerdasan dan pengetahuan masyarakat menentukan kualitas suatu bangsa. Hal tersebut diperoleh dari seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki, dan ilmu itu bersumber dari informasi yang diterima, baik secara lisan maupun tulisan.

“Bagaimana kualitas suatu bangsa bisa baik jika kecerdasan masyarakatnya tidak terbentuk, pengetahuan dan wawasannya justru diperoleh dari informasi bohong (hoaks) akibat kemajuan teknologi informasi tanpa kemampuan menyaring karena rendahnya literasi?” terangnya.

Lebih lanjut, Mirza menyoroti kondisi literasi nasional. Berdasarkan sensus penduduk BPS tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa. Namun, fakta menunjukkan bangsa Indonesia masih memiliki tingkat literasi yang rendah di dunia.

“Menurut UNESCO, Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dalam hal literasi dunia. Artinya, minat baca masyarakat sangat rendah. Hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang gemar membaca. Dari 1.000 orang, hanya satu yang rajin membaca. Ini sangat memprihatinkan. Data juga menunjukkan, rata-rata masyarakat Indonesia membaca nol hingga satu buku per tahun, sangat jauh dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya,” katanya.

Mirza menambahkan, peningkatan literasi dapat dilakukan melalui kebiasaan membaca dan menulis secara teratur, memanfaatkan sumber daya seperti perpustakaan dan internet, serta melibatkan keluarga dan lingkungan yang mendukung.

“Perlu dilakukan kampanye sosial dengan menggalakkan gerakan gemar membaca melalui media sosial dan komunitas lokal untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi. Selain itu, perlu kolaborasi dengan sektor swasta melalui kemitraan dengan perusahaan untuk mendukung dan mendanai berbagai program literasi,” ujarnya. (*)

Bagaimana Menurut Anda