‘Bun, Jihan dan Adik Ikut Kurban Untuk Ayah Disana Ya!’

585

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – “Bun, boleh gak Jihan dan Adik ikut kurban, biar pahalanya mengalir sama ayah,” ucapan itu muncul dari mulut mungil Jihan Naysila Putri kepada seorang perempuan yang akrab ia panggil bunda.

Ainul Mardiah Piliang (33) hanya bisa terenyuh mendengar pertanyaan putri sulungnya. Ia tutupi kepiluan hatinya dengan tetap tegar sembari menjawab dan bernada kembali bertanya kepada putrinya, ‘uangnya Jihan untuk bisa ikut kurban dapat darimana?’.

Percakapan itu muncul diantara ibu dan anak ini pada tahun lalu, sepulang Jihan menemani neneknya Tiur Mahdalena (62), mengikuti prosesi penyembelihan hewan kurban di pemukiman mereka di Perumahan Sabungan Indah, Kelurahan Sabungan Jae, Sidimpuan Hutaimbaru.

Gadis belia berusia 10 tahun itu tinggal di rumah neneknya bersama saudaranya Muhammad Fauzan (8) dan juga bunda. Ayahnya, Rudi Hendrawan Sikumbang pada tahun 2017 lalu telah lebih dulu dipanggil Sang Maha Kuasa. Kini Jihan dan adiknya menjadi yatim.

Sang bundalah kini satu-satunya tulang punggung keluarga dalam menopang kehidupan mereka, termasuk membiayai keberlanjutan pendidikan. Itu diperoleh dengan hanya mengandalkan warung sembako kecil, persis di depan rumah.

Terkadang, rasa kerinduan mendalam terhadap sosok ayah yang telah tiada kerap menyandera batin Jihan. Alhasil, dinding bilah papan warung bundanya dijadikan sasaran. ‘Jihan merindukan Ayah’, coretan pilu itu ia tuangkan yang jejaknya masih bisa ditemukan kini.

Ditemui BERITAANDA, Selasa (30/7/2019), di rumahnya, siswi kelas V SD Muhammadiyah itu baru saja pulang sekolah, tampak disampingnya adiknya Fauzan siswa kelas III yang juga satu sekolah. Wajah keduanya terlihat sayu, dan boleh dibilang jauh dari sifat nakal layaknya seusia mereka.

Seraya tersipu malu, Jihan pun mulai bercerita kenapa dan darimana caranya ia dapat memenuhi nominal biaya yang dikenakan kepada setiap orang yang ikut berkurban di hari Idul Adha nanti. Dan terungkap, ternyata selain Jihan, adiknya juga ikut ambil peran.

Dimana diketahui, persatu ekor harga sapi kurban dibiaya atau dibagi menjadi tujuh orang. Masing-masing orang akan dikenakan membayar kewajiban sebesar Rp2.150.000, dari total harga satu ekor sapi kurban lebih kurang sebesar Rp15 juta. Disini Jihan dan adiknya patungan.

“Setelah dijinkan bunda, Jihan dan adik mendaftar ikut kurban satu bagian dan harus membayar Rp2.150.000. Uangnya, bersumber dari hasil bongkar celengan kami berdua setelah setahun lamanya menabung yang ternyata mencukupi bahkan masih berlebih Rp12 ribu,” kata gadis berwajah hitam manis itu.

Ditanya apa ia dan adiknya selalu diberi uang jajan berlebih oleh bunda mereka, keduanya kompak mengatakan tidak dan kalaupun ada sifatnya hanya jajan ala kadar saja di sekolah, namun boleh dikatakan itupun jarang sekali dipakai untuk jajanan dan memilih ditabung.

“Uangnya kami peroleh dari pemberian orang-orang. Mungkin, mereka tahu kalau kami ini anak yatim, jadi merasa iba dan sering mengasi kami uang. Dan, uang-uang itulah yang kami tabungkan tanpa dipotong sedikitpun, bulat-bulat masuk celengan,” ujar Jihan polos.

Sehingga, karena itulah om, kata Jihan ke BERITAANDA, kami merasa uang itu didapatkan dikarenakan ketiadaan ayah bersama kami. Karenanya kami ingin semua uang itu berpulang kembali ke ayah dengan harapan dapat menolong ataupun melapangkan kuburnya.

“Dengan cara seperti itulah, kami ingin tetap berbakti kepada ayah yang kami rindui. Semoga ayah berbahagia disana dan kami akan terus berjuang menjadi anak yang sholeh dan sholehah, biar ayah tenang disana,” urai Jihan dengan wajah memerah seolah menahan tumpahan air matanya.

Bila merunut kebiasaan yang ada dan lumrah terjadi dewasa ini, jangankan bocah berusia 10 tahun, orang berusia lanjut sekalipun kekinian masih banyak ditemui sama sekali belum atau tidak pernah ikut berqurban dari tahun ke tahun selanjutnya, padahal ia mampu.

Sementara itu, sang bunda menuturkan apapun yang terjadi ia bertekad tetap berjuang mati-matian demi kehidupan dan masa depan kedua anaknya. Meski pada dasarnya sulitnya perekonomian keluarga membuat ia sering mengenang almarhum suami.

“Harus diakui tak mudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anak. Namun, keteduhan hati anak saya Jihan dan Fauzan membuat saya tetap tegar dan sedaya mampu tetap optimis menatap hari esok yang lebih baik. Doakan kami ya Om,” harapnya mengakhiri pembicaraan. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda