Puluhan Bus di Terminal Raja Basa Diberhentikan, Sopir dan Kernet Jalani Rapid Test

51

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Sebanyak 100 sopir bus antar kota antar provinsi (AKAP) dan sopir antar kota dalam provinsi (AKDP) menjalani rapid test di Terminal Raja Basa Bandar Lampung, Senin (21/9/2020).

Pemeriksaan ini dilakukan untuk deteksi dini peneluran wabah Covid-19 yang kini terus berkembang di Provinsi Lampung sebagai gelombang kedua penyebarannya. Para sopir tersebut langsung diarahkan menjalani rapid test begitu masuk dan keluar kawasan terminal.

Kegiatan ini sendiri diinisiasi oleh jajaran Direktorat Lalu Lintas Polda Lampung bersama stakeholder terkait seperti Jasa Raharja, Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, serta Bappeda Provinsi Lampung.

Para petugas Ditlantas dan Jasa Raharja mengarahkan para sopir menjalani rapid test oleh tim kesehatan yang telah disiapkan dari Bidokes Polda Lampung.

Direktur Lalu Lintas Polda Lampung Kombes Pol. Donny Sabardi H. Damanik mengatakan, pihaknya menyiapkan 100 rapid test bagi para sopir, kernet bus dan masyarakat, juga membagikan 500 masker.

Hal ini merupakan kegiatan dalam rangkaian Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-65. Dan bersyukur hingga terselesaikannya kegiatan tersebut tidak ada sopir, kernet ataupun masyarakat yang menjalani tes non reaktif Covid-19.

“Hasilnya semua non reaktif, baik sopir, kernet, maupun penumpang yang ikut rapid test. Dan kami bersama Dinas Perhubungan akan selalu memonitor segala perkembangan yang terjadi menyangkut pelayanan lalu lintas ini,” tegas dia.

Menurut dia, sopir bus menjadi salah satu yang berisiko terpapar Covid-19. Pasalnya, mereka berinteraksi dan mengangkut banyak penumpang dari luar kota atau luar provinsi. Terlebih di jalur lintas Sumatera dan Lampung sebagai penghubung lintas antara pulau Jawa dan Sumatera.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo menerangkan bahwa kegiatan semacam ini membantu para awak bus dalam upaya proteksi diri. Disamping itu pihaknya juga mengimbau kepada pemilik armada atau perusahaan bus untuk memperhatikan para pekerjanya yang menjadi aset yang utama. Jika sopir bus ini tidak diperdulikan kesehatannya, maka akan berdampak yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.

“Jadi sekalian deteksi dini, karena bus moda transportasi yang masih banyak digunakan masyarakat, dan para sopir ini yang secara langsung berinteraksi membawa penumpang dari seluruh wilayah, baik dari Jawa maupun sebaliknya,” ujar dia.

Tidak hanya pelaksanaan rapid test dan pembagian masker, kegiatan ini juga para petugas memberikan ratusan paket yang berisikan face shield, hand sanitaser dan brosur tentang protokol kesehatan dalam menanggulangi penyebaran Covid-19. [Katrine]

Bagaimana Menurut Anda