PALEMBANG, BERITAANDA – Penyediaan rumah murah atau rumah subsidi dikhawatirkan akan stagnasi jika harga rumah tidak segera direvisi.
Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sumsel, Syamsu Rusman mengatakan, harga rumah sudah 3 tahun belakangan atau sejak 2019 tidak naik, sedangkan harga material bangunan terus naik.
Syamsu mengatakan perbandingan harga material bahan bangunan pada 2019 lalu, semen masih dibandrol Rp 40 ribu per sak. Sedangkan saat ini harga semen Rp 60 ribu per sak atau naik 40 persen.
Belum lagi material lainnya seperti rangka baja, atap semen, batu bata, kayu, dan lainnya juga naik, sehingga membuat biaya produksi juga naik. Akibatnya pembangunan rumah MBR baru saat ini sangat sedikit dan lebih memaksimalkan stok yang sudah lama dibangun.
Dia menjelaskan, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, setiap tahun harga rumah naik 7 persen sesuai dengan inflasi Sumsel. Dan jika dibandingkan 7 persen kali 3 tahun plus dampak kenaikan harga BBM saat ini, idealnya harga rumah MBR naik 25 persen.
“Kalau harga tidak dinaikkan, dikhawatirkan pembangunan rumah murah akan stagnasi,” ujar Syamsu, Selasa (27/9/2022).
Wakil Ketua DPD Apersi Sumsel yang juga pelaku perumahan, Zulfitri mengatakan, material bahan bangunan saat ini naiknya tinggi dan sangat memberatkan pengembang.
Semen saja naik kini jadi Rp 65 ribu per sak, batu bata semula Rp 1.700-1.800 per buah naik jadi Rp Rp 2.300 per buah, sementara itu rangka baja juga naik Rp 7 ribu per buah, belum lagi nilai tukar rupiah terhadap Dollar juga naik saat ini dibanding 3 tahun lalu.
Dia berharap pemerintah bisa mengkoreksi harga rumah murah ini, sebab harga material bangunan tidak sebanding lagi dengan biaya produksi sekarang.
“Semoga pemerintah bisa mempertimbangkan kenaikan material ini sehingga bisa mengkoreksi harga rumah bersubsidi,” katanya. (Febri)






























