Lampung Alami Deflasi Pada Februari 2025

22

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Lampung pada Februari 2025 mencatat deflasi sebesar 0,66% (mtm), meningkat dibandingkan Januari 2025 yang mengalami deflasi sebesar 0,71% (mtm).

Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan capaian nasional yang mencatat deflasi sebesar 0,48% (mtm). Secara tahunan, IHK di Provinsi Lampung pada Februari 2025 mengalami deflasi sebesar 0,02% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 1,04% (yoy), namun lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencatat deflasi sebesar 0,09% (yoy).

Penyebab Deflasi

Deflasi pada Februari 2025 terutama disebabkan oleh penurunan tarif listrik serta harga beberapa komoditas pangan antara lain:

  • Tarif listrik: -0,57% (mtm)
  • Cabai merah: -0,12% (mtm)
  • Tomat: -0,04% (mtm)
  • Bawang merah: -0,04% (mtm)
  • Susu cair kemasan: -0,03% (mtm)

Penurunan tarif listrik terjadi seiring pemberlakuan kebijakan diskon 50% bagi pelanggan rumah tangga PT PLN (Persero) dengan daya 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA selama Januari–Februari 2025.

Sementara itu, harga komoditas hortikultura menurun seiring periode panen, terutama panen bawang merah di Kabupaten Indramayu, yang menjadi pemasok utama untuk Provinsi Lampung.

Faktor yang Menahan Deflasi

Deflasi Februari 2025 tertahan oleh kenaikan harga beberapa komoditas seperti:

  • Emas perhiasan: 0,05% (mtm)
  • Bahan bakar rumah tangga: 0,03% (mtm)
  • Salak: 0,03% (mtm)
  • Bensin: 0,02% (mtm)

Kenaikan harga emas perhiasan dipengaruhi oleh tingginya harga emas dunia akibat ketidakpastian global. Sementara itu, harga bahan bakar rumah tangga naik karena kebijakan pemerintah menaikkan harga subsidi di awal tahun. Harga salak meningkat akibat curah hujan tinggi dan banjir, sedangkan harga bensin naik sejalan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi.

Proyeksi Inflasi ke Depan

Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung memperkirakan inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% (yoy) sepanjang 2025. Namun, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi seperti:

Inflasi Inti (Core Inflation):

  • Peningkatan permintaan akibat kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5%.
  • Kenaikan harga emas dunia akibat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
  • Peningkatan permintaan selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Inflasi Makanan Bergejolak (Volatile Food):

  • Peningkatan harga beras pada puncak musim tanam.
  • Risiko gagal panen akibat curah hujan tinggi dan bencana banjir.
  • Lonjakan permintaan bahan makanan selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Inflasi Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Price):

  • Kenaikan tarif listrik setelah berakhirnya potongan 50% dari PLN.
  • Kenaikan harga BBM non-subsidi.

Upaya Pengendalian Inflasi

Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung akan terus menjaga stabilitas harga melalui strategi 4K:

  1. Keterjangkauan Harga
  • Melakukan operasi pasar beras/SPHP secara terarah.
  • Memantau harga dan pasokan komoditas berisiko tinggi seperti beras, cabai, telur, dan ayam ras.
  1. Ketersediaan Pasokan
  • Memperluas implementasi Toko Pengendalian Inflasi di berbagai daerah.
  • Memperkuat kerja sama antar daerah untuk komoditas defisit.
  1. Kelancaran Distribusi
  • Meningkatkan kapasitas transportasi, termasuk penambahan volume dan rute penerbangan.
  • Memastikan keberlanjutan Mobil TOP (Transportasi Operasi Pasar) untuk kelancaran distribusi.
  1. Komunikasi Efektif
  • Mengadakan rapat koordinasi mingguan di tingkat kabupaten/kota untuk memantau harga dan pasokan.
  • Mengedukasi masyarakat melalui media untuk mencegah panic buying, terutama saat Ramadhan dan Idul Fitri.

(Siaran pers KPw Bank Indonesia Provinsi Lampung – Kepala Perwakilan: Junanto Herdiawan, Direktur Eksekutif).

Bagaimana Menurut Anda