Krisis Nilai di Era Digital, Mahasiswa Didorong Jadi Penjaga Arah Bangsa

8

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Generasi muda, khususnya mahasiswa, kini berada di titik krusial dalam perjalanan bangsa. Ditengah derasnya arus disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, serta krisis moral dan literasi, mahasiswa dituntut tidak sekadar cerdas, tetapi juga memiliki kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab.

Akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung Dr. Budiyono menegaskan pentingnya peran strategis mahasiswa di era digital saat ini. Menurutnya, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga berinteraksi. Namun, di sisi lain, perubahan yang begitu cepat juga memicu krisis nilai.

“Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan pada kecerdasan intelektual, melainkan pada kurangnya kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab,” ujar Budiyono di Bandar Lampung, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, banjir informasi tanpa filter telah menyebabkan disorientasi nilai serta melemahnya daya pikir kritis, yang pada akhirnya memicu maraknya pelanggaran, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Meski demikian, mahasiswa tidak boleh terjebak hanya dalam rutinitas akademik dan mengejar IPK tinggi. Lebih dari itu, mahasiswa merupakan kekuatan strategis bangsa.

“Mahasiswa adalah agen perubahan, kontrol sosial, sekaligus calon pemimpin masa depan. Mereka bukan penonton, melainkan aktor utama dalam sejarah bangsa,” tegasnya.

Budiyono juga mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan berbagai perubahan besar di Indonesia lahir dari gerakan mahasiswa yang berani dan visioner. Dalam konteks era digital yang penuh tantangan, kesadaran hukum menjadi fondasi utama dalam setiap gerakan mahasiswa.

“Kesadaran hukum adalah kombinasi dari kontrol diri dan tanggung jawab sosial. Tanpa itu, kebebasan bisa berubah menjadi kekacauan,” jelasnya.

Sebaliknya, dengan kesadaran hukum yang kuat, kebebasan dapat menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan yang positif dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa mahasiswa harus mampu bergerak secara utuh dalam empat lini utama, yakni intelektual, sosial, kepemimpinan, serta moral dan hukum.

Budiyono menambahkan, generasi muda saat ini juga dihadapkan pada berbagai tantangan internal, seperti distraksi digital, pola pikir instan, menurunnya kepedulian sosial, serta minimnya literasi hukum.

“Tantangan terbesar bukan pada teknologi, tetapi pada karakter,” ujarnya.

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, diperlukan kolaborasi lintas sektor, kepemimpinan yang visioner, kesadaran hukum, karakter yang kuat, serta sumber daya manusia yang unggul dan adaptif.

“Mahasiswa sejati bukan hanya pintar, tetapi juga bernilai dan berdampak. Mereka menggerakkan, bukan sekadar mengikuti arus,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pengurus BEM Universitas Lampung tahun 2026 bahwa pelantikan bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari amanah besar.

“BEM adalah laboratorium kepemimpinan sekaligus ruang pengabdian. Jabatan bukan prestise, tetapi tanggung jawab,” tambahnya.

Budiyono mendorong para pengurus untuk menjaga integritas, bekerja nyata, serta peka terhadap dinamika sosial dan hukum.

“Buktikan kepemimpinan bukan lewat kata-kata, tetapi melalui aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa dan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Bagaimana Menurut Anda