PALEMBANG, BERITAANDA – Pusat Penelitian Karet mengadakan konferensi nasional karet, Rabu (13/10/2022), di Hotel Novotel Palembang. Dihadiri oleh Direktur Utama PT. Riset Perkebunan Nusantara Dr Imam Yani Harahap, Komisaris Utama PT. Riset Perkebunan Nusantara Mahmudi dan Kepala Pusat Penelitian Karet Dr. Suroso Rahutomo.
Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara Dr. Imam Yani Harahap mengatakan, saat ini produksi karet terus turun sekitar 1 ton hektare. Sedangkan biaya produksinya semakin tinggi sementara harganya semakin turun.
“Pusat Penelitian Karet menggelar konferensi nasional karet dengan harapan bisa mendapatkan rumusan secara teknis, bisa berkontribusi untuk pusat penelitian melalui Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), juga bisa mencari solusi peningkatan produktivitas,” ujarnya.
“Dengan kondisi pasar global seperti ini, tentunya akan mempengaruhi kebutuhan secara global, sangat rendah. Kemudian produktivitas kita cukup rendah, itu yang jadi kendala untuk persaingan di pasar,” ungkapnya.
Imam juga mengatakan, masalah yang paling dominan membuat produksi karet turun dalam 5 tahun ini yakni penyakit gugur daun. Sebab, penyakit tersebut bisa menurunkan produktifitas 50 persen.
Kalau kondisi sudah seperti itu, kata dia, sudah tidak menguntungkan lagi untuk dilakukan proses penyadapan.
“Harapan kita semoga ada serapan yang tinggi di tingkat nasional, sehingga produksi karet bisa bergairah lagi. Sebab, serapan karet domestik cuma 20 persen saja dan sisanya di ekspor,” jelas dia.
“Kita mengusulkan bagaimana meningkatkan penggunaan karet dalam negeri. Kalau secara target belum ada. Yang pasti penggunaan aspal karet sudah kita lakukan. Produk-produk tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sudah kita lakukan, tinggal peningkatan volumenya saja,” terangnya lagi.
Sementara itu Ketua Umum Gapkindo Alex K. Eddy mengatakan, resesi di Eropa dikhawatirkan akan membuat pangsa pasar ekspor tergerus karena daya beli turun, sehingga mereka lebih memikirkan untuk makan dulu. Padahal Eropa penggunaan karet banyak.
“Ditambah lagi perang Rusia dan Ukraina, juga akan mempengaruhi permintaan gas, sebab Rusia menyetop pasokan gas ke Eropa, sedangkan saat ini musim dingin. Minimnya pasokan gas membuat pemerintah akan lebih memilih menggunakan gas untuk kepentingan rakyat dulu dibanding industri sehingga dikhawatirkan akan semakin banyak yang tidak beroperasi dan mengurangi potensi penjualan,” terangnya.
“Padahal pangsa pasar ekspor Indonesia saat ini banyak ke Eropa dan Amerika, jika resesi terjadi maka peluang ekspor kecil, belum lagi harus bersaing dengan Thailand yang juga menyasar pangsa pasar Amerika, juga pasca China stop membeli karet,” pungkas Alex.(Febri)






























