Harga Kopi Anjlok, Petani Menjerit

790
Ilustrasi.

MUARA ENIM, BERITAANDA – Dampak bencana non alam Covid-19 kian terasa, seperti halnya dikeluhkan para petani kopi di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Hal ini diakibatkan karena sepinya permintaan sehingga para pengusaha kopi pun sulit untuk memasarkan kopi, akibatnya harga kopi menjadi anjlok.

Hardianto, salah seorang petani kopi di Semende mengatakan, harga kopi saat ini mengalami penurunan, dimana saat ini dihargai Rp15-16 ribu perkilogram. “Itu harga kopi selang memang lebih rendah karena kualitasnya yang tidak sebaik kopi panen musim yang saat ini dihargai Rp18-19 ribu perkilonya,” ujarnya kepada awak media, Rabu (10/6/2020).

Harga itu jauh menurun jika dibandingkan harga normal, dimana biasanya kopi musim dihargai Rp21-23 ribu perkilonya. “Ini merupakan dampak dari Covid-19, dimana permintaan memang menurun drastis,” bebernya.

Mengenai pemasaran, lanjutnya, kopi Semende ini dijual ke daerah Lampung dan Palembang. “Biasanya memang dijual kesana, kalau sekarang untuk daerah Semende ini baru akan memasuki masa panen,” terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perkebunan Muara Enim, Mat Kasrun menambahkan, saat ini harga setiap komoditi mengalami penurunan, begitupun untuk kopi. “Harga turun karena permintaan yang memang turun, sehingga otomatis stok kopi melimpah,” terangnya.

Permintaan turun karena pengusaha kopi seperti cafe-cafe berhenti beroperasi dan tutup, sehingga kopi yang ada pun tidak bisa dijual. “Oleh karena itu, permintaan menjadi menurun. Tapi kopi tetap ada yang membeli, hanya saja harga jualnya yang tidak bisa dijamin stabil,” tuturnya.

Saat ini berdasarkan data yang dimiliki Dinas Perkebunan, harga kopi di tingkat petani adalah Rp15-16 ribu perkilo, dimana biasanya Rp20-21 ribu perkilo. “Itu untuk kopi robusta, tapi kalau arabika harganya stabil yakni Rp25 ribu, sementara yang olah basah Rp70 ribu perkilo,” bebernya.

Upaya yang sudah dilakukan Disbun yakni melakukan intensifimasi dengan membantu pemberian pupuk dan penanganan pasca panen. “Juga ada bantuan mesin pemecah kopi mobile yang diberikan kepada kelompok tani,” terangnya.

“Juga pemberian terpal agar para petani tidak menjemir kopi di pinggir jalan dan tidak terlindas kendaraan yang melintas. Kita berusaha meningkatkan kualitas dari kopi tersebut, sehingga harga jualnya juga diharapkan tetap stabil,” imbuhnya. (Angga)

Bagaimana Menurut Anda