Gubernur Edy Rahmayadi Tinjau RSUD Rujukan Pasien Corona di Sidimpuan

1989
Gubernur Edi didampingi Walikota Irsan tinjau RSUD Sidimpuan.

PADANGSIDIMPUAN-SUMUT, BERITAANDA – Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi meninjau RSUD Padangsidimpuan, Selasa (7/4/2020) pagi, sebagai salah satu dari 132 rumah sakit rujukan corona virus (Covid-19).

Gubernur tiba dan mendarat di stadion HM Nurdin Padangsidimpuan menggunakan helikopter milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Rombongan disambut Walikota Irsan Efendi Nasution dan langsung menuju RSUD.

Tiba di rumah sakit yang sedang mengisolasi seorang pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 itu, gubernur meminta semua yang hadir saling jaga jarak. Ia meminta jaga jarak bukan karena curiga, tapi menurutnya siapapun bisa terpapar virus corona.

Lebih jauh Edy mengajak, semua pihak untuk melawan virus ini dengan cara memutus mata rantai penularannya. Yaitu dengan cara tetap berada di rumah, jika terpaksa keluar harus pakai masker, hindari keramaian, jaga jarak dan jangan bersentuhan.

Selesai menuntaskan kebutuhan di luar rumah, segera pulang. Langsung cuci tangan pakai sabun, ganti pakaian dan kemudian berjumpa keluarga. Jika merasakan ada gejala corona, segera isolasi diri dan jaga kontak dengan keluarga alias jangan tulari mereka.

Kata gubernur, setiap orang yang terpapar Covid-19, masa inkubasi virusnya sekitar dua sampai tiga pekan baru bisa dirasakan ataupun dideteksi. Jika dalam rentang waktu itu semua orang tertular, maka tidak ada lagi orang yang bekerja dan akhirnya kelaparan melanda.

Kapolres Padangsidimpuan, Dandim 0212/Tapanuli Selatan, Danyonif 123/RW, dan semua aparatur negara, diinstruksikan gubernur untuk bubarkan keramaian. Imbau orang-orang yang berkumpul untuk segera pulang ke rumah.

“Saat ini ada satu orang yang diisolasi di RSUD Sidimpuan, lihat banyak orang sibuk saat ini. Bayangkan jika nanti pasien bertambah. Kita harus sadar dan jangan jadikan ini tontonan. Kenapa saya datang ke Sidimpuan, karena ini rumah sakit rujukan,” ujar Edy.

RSUD Sidimpuan punya sembilan kamar isolasi dan tiga sudah digunakan. Kepada pihak RSUD, gubernur ingatkan agar tidak merujuk pasien ke RSUP Adam Malik. Karena yang disiapkan adalah RS  G.L Tobing Tanjung Morawa untuk gejala ringan dan ke RS Marta Friska Medan untuk pasien gejala sedang dan berat.

“Hari ini Pemkab Tapanuli Tengah membawa PDP ke Rumah Sakit Pirngadi Medan, ditolak. Ini bukan sombong, tapi karena bersangkutan dengan virus dan ada SOP-nya. Bukan dokter tak manusiawi, tapi karena ikuti SOP,” ucapnya.

Gubernur juga mengingatkan, setiap orang yang mengganggu pencegahan dan penanganan Covid-19 itu bisa dipidana. Namun jika memang pasien harus dirujuk ke Medan maka segera lakukan.

“Dari 228 ribu jiwa warga Sidimpuan, satu PDP meninggal dan satu sedang diisolasi. Kenapa?, supaya tidak menularkan virus ke orang lain. Saya datang karena sayang pada rakyat, jadi tolong kalau saya datang lagi jangan berlebihan begini. Jangan gara-gara saya kalian tertular virus,” katanya.

Pada sesi dialog, seorang dokter yang menangani pasien Covid-19 mengatakan, RSUD Sidimpuan butuh masker bedah atau masker yang dipakai saat melakukan operasi. Karena dalam protapnya, petugas kesehatan harus pakai masker bedah dan bukan masker kain.

“Harga masker saat ini melambung tinggi, Rp400 ribu per 50 pices dan tentu perawat tidak mampu beli. Sedangkan masker N95 di ruang isolasi sudah terpakai semua,” katanya sembari menunjukkan contoh masker bedah kepada gubernur.

Untuk Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan di RSUD Sidimpuan, menurut dia, persedian sudah cukup. Karena terus-menerus diproduksi oleh UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Ketenagakerjaan Daerah.

Menjawab itu, Gubernur Edy Rahmayadi berjanji mengirimkan 2.000 masker bedah, 100 rapid tes, dan 75 baju APD untuk ruang isolasi. Sementara masker N-95, pemprov sudah pesan 100 ribu dan sedang dalam perjalanan. Rapid tes juga sedang dipesan 56.000 unit.

“Petugas kesehatan, polisi, beserta semua yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 ini harus dirapid tes setiap pekan. Kalian ini pahlawan dan jangan menyerah,” pinta gubernur.

Sementara Walikota Sidimpuan Irsan Efendi Nasution melaporkan, butuh tambahan APD di ruang isolasi. Sedangkan APD yang diproduksi BLK direkomendasi hanya untuk tenaga kesehatan di luar ruang isolasi dan di Puskesmas atau zona kuning. Rapid tes yang dimiliki, 100 bantuan provinsi, 40 Kemenkes, 150 beli sendiri, dan sebagian sudah digunakan.

Di ruang isolasi, ventilator sangat terbatas dan sangat butuh penambahan unit. Apalagi sesuai keputusan gubernur, RSUD ini mengampu wilayah Kabupaten Tapsel, Madina, Paluta, Palas, Tapteng, Kota Sibolga dan Sidimpuan sendiri.

Untuk bantuan sosial, Walikota Irsan berharap Pemprov Sumut ikut membantu masyarakat yang terdampak ekonomi akibat Covid-19. Apalagi masa-masa sekarang memasuki bulan suci Ramadhan. Agar masyarakat ekeonomi menengah ke bawah bisa terbantu.

Menjawab ini, gubernur mengakui semua daerah sama-sama mengalami masa sulit. Karena itu, dipesankannya agar Walikota Sidimpuan segera menuntaskan refocusing atau realokasi anggaran yang sekarang sedang berproses.

“Saya memikirkan untuk sektor kesehatan. Pak wali semaksimal mungkin memikirkan dampak lain dari virus corona ini. Saya pantau dan jika memungkinkan saya turun tangan langsung. Kalian akyat saya dan saya bertanggung jawab kepada kalian semua,” kata gubernur.

Kepada petugas kesehatan dan semua elemen yang terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan Covid-19, gubernur minta agar terus berjuang untuk rakyat.

“Allah maha tahu, tapi corona tidak mau tahu. Siapapun dan dari latar belakang apapun kalian, ayo bersatu hadapi corona dengan cara memutus mata rantai penularannya,” ajak Edy.

Terakhir, gubernur memimpin doa dan meminta semuanya untuk sama-sama mengaminkan. “Dalam waktu dekat, agama Islam menjalankan puasa Ramadhan. Insya Allah tidak ada gangguan dan kita diberi keberkahan serta kesehatan. Virus corona segera berlalu,” harapnya. (Anwar)

Bagaimana Menurut Anda