Ghost in the Cell, Horor Komedi Karya Joko Anwar Bongkar Sistem Korup di Balik Jeruji

8

JAKARTA, BERITAANDA – Penikmat film layar lebar segera disuguhi tontonan seru bergenre komedi horor melalui film Ghost in the Cell karya Joko Anwar. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, setelah lebih dulu mencuri perhatian di Berlinale 2026 dan dipasarkan ke 86 negara.

Ghost in the Cell mengangkat kisah kehidupan di dalam Lapas Labuhan Angsana yang dipenuhi berbagai persoalan, mulai dari penindasan oleh oknum pejabat lapas hingga konflik dan kekerasan antar narapidana.

Ketegangan memuncak saat seorang napi baru masuk, diikuti serangkaian kematian misterius yang terjadi dengan cara mengerikan. Para penghuni lapas kemudian menyadari adanya sosok hantu yang membunuh berdasarkan aura atau energi negatif seseorang.

Kondisi tersebut memicu para napi berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga aura tetap positif agar selamat. Namun, hal itu tidak mudah dilakukan di lingkungan penjara yang sarat ketidakadilan dan tekanan.

Hingga akhirnya, mereka menyadari satu hal penting, bersatu menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Perlawanan pun muncul, tidak hanya terhadap penindas, tetapi juga terhadap teror yang tak kasat mata.

Film produksi Come and See Pictures ini merupakan hasil kolaborasi dengan RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A yang bertindak sebagai sales agent untuk distribusi global.

Dalam keterangan resminya, Joko Anwar menyebut film ini lahir dari realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Ghost in the Cell adalah film tentang kekuasaan, tentang sistem yang korup, dan tentang orang-orang kecil yang terjebak di dalamnya. Ini juga tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan saat akhirnya muncul ke permukaan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa respons internasional terhadap film ini di luar ekspektasi. Menurutnya, tema yang diangkat ternyata bersifat universal.

“Korupsi tidak punya kewarganegaraan. Ketidakadilan adalah bahasa universal. Itulah mengapa cerita ini bisa diterima di berbagai negara,” tambahnya.

Keberhasilan penjualan hak tayang ke 86 negara bahkan terjadi sebelum film ini resmi dirilis di Indonesia, menandakan kuatnya daya tarik cerita serta relevansinya di kancah global. (Febri)

Bagaimana Menurut Anda