Gelaran Gebyar Ramadan Keuangan Syariah di Provinsi Lampung

33

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) merupakan kampanye nasional yang bertujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat selama bulan Ramadan.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah, asosiasi, kementerian/lembaga, komunitas/organisasi, serta tokoh penggerak Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah (LIKS).

GERAK Syariah secara nasional dibuka pada 23 Februari 2025 oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, di AEON Mall BSD, Tangerang.

Di Provinsi Lampung, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI), Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), serta Industri Jasa Keuangan Syariah menggelar GERAK Syariah di Mall Boemi Kedaton (MBK) pada 7–9 Maret 2025.

Pre-Event dan Kolaborasi

Sebelum acara utama, telah diselenggarakan beberapa kegiatan pra-acara diantaranya pembukaan rekenin tabungan dan akun saham syariah bagi sekitar 650 santri, asatidz, dan alumni di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Kota Bandar Lampung, bekerja sama dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Bursa Efek Indonesia, Perusahaan Sekuritas, serta Pemerintah Daerah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Lampung.

Kemudian kerja sama dengan Dewan Dakwah Provinsi Lampung yang mencakup penyampaian ceramah bertema keuangan syariah dan kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal di masjid-masjid selama Ramadan.

Rangkaian Kegiatan GERAK Syariah

Selama acara berlangsung, dibuka berbagai booth dari OJK, BI, KDEKS, Dewan Dakwah, Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas), serta pelaku industri keuangan syariah.

Beragam lomba turut memeriahkan acara, seperti lomba da’i, lomba hadrah, lomba nasyid, lomba video reels instagram, training of trainers (ToT) bagi penyuluh agama dari Ikatan Mubaligh Lampung tentang prinsip dasar ekonomi dan keuangan syariah.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Provinsi Lampung, dr. Jihan Nurlela, M.M., yang menabuh alat musik tambur sebagai tanda dimulainya acara. Turut hadir tamu undangan seperti Dr. Ir. H. A. Junaidi Auly MM (anggota DPR RI Komisi XI), Dr. Ir. K.H. Abdul Hakim MM (Anggota DPD RI), Otto Fitriandy (Kepala OJK Provinsi Lampung), Junanto Herdiawan (Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung), serta Asrian Hendi Caya SE M.Si (Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah KDEKS Provinsi Lampung). Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan peluncuran Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2025.

Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, menyampaikan harapan agar GERAK Syariah dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas keuangan syariah masyarakat Lampung.

“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi awal yang baik bagi kesejahteraan daerah kita tercinta,” ujarnya.

Wakil Gubernur Lampung, dr. Jihan Nurlela MM, juga mengapresiasi OJK dan seluruh pihak yang berperan dalam penyelenggaraan GERAK Syariah. Ia berharap acara ini dapat terus diadakan secara rutin dengan sinergi dan kolaborasi yang berkelanjutan, tidak hanya pada bulan Ramadan.

Pertumbuhan Keuangan Syariah di Lampung

Kinerja industri perbankan syariah di Lampung menunjukkan tren positif pada Januari 2025 dibandingkan tahun sebelumnya:

Aset perbankan syariah tumbuh sebesar Rp1,09 triliun (16,01%), dari Rp6,84 triliun menjadi Rp7,93 triliun. Penyaluran pembiayaan meningkat 15,58% atau Rp0,84 triliun, dari Rp5,37 triliun menjadi Rp6,21 triliun.

Sementara itu, industri keuangan non-bank (IKNB) juga mengalami pertumbuhan:

Outstanding piutang pembiayaan pada kuartal III 2024 mencapai Rp9,83 triliun, naik 1,02% (Rp99 miliar) secara year-on-year.

Pembiayaan modal kerja tumbuh 131,41%, sedangkan investasi berbasis syariah meningkat 71,24%.

Piutang pembiayaan multiguna mengalami penurunan sebesar 182,60%.

Tiga sektor utama penerima pembiayaan adalah perdagangan besar dan eceran (33,57%), pertanian, kehutanan, dan perikanan (10,46%), serta transportasi dan pergudangan (7,85%).

Disisi lain, piutang pembiayaan dari perusahaan modal ventura mengalami penurunan Rp8 miliar (2,48%), menjadi Rp314 miliar pada September 2024 dibandingkan Rp322 miliar di tahun sebelumnya.

Aset Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Lampung tumbuh Rp4,79 miliar (0,13% yoy), dari Rp37,42 miliar pada Agustus 2023 menjadi Rp42,21 miliar pada Agustus 2024. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan dana pihak ketiga dari Rp11,47 miliar menjadi Rp12,62 miliar.

Sementara itu, jumlah penyaluran pinjaman oleh perusahaan pergadaian di Lampung tumbuh 18,31% atau Rp103 miliar, dari Rp710 miliar pada kuartal II 2023 menjadi Rp840 miliar pada kuartal II 2024.

Di sektor fintech peer-to-peer (P2P) lending, outstanding pembiayaan tumbuh 28,31% atau Rp232 miliar, mencapai Rp1,053 triliun pada kuartal II 2024. Jumlah lender meningkat 96,86% (36.793 akun), sementara jumlah borrower naik 22,38% (1.932.834 akun). Namun, tingkat risiko kredit agregat (TWP90) juga meningkat menjadi 3,01%. (Siaran Pers OJK Lampung)

Bagaimana Menurut Anda