Dua Kali Ditolak BRI, Kini Andreas Chandra Santoso Jadi Regional CEO di Tanah Kelahirannya

14

BANDAR LAMPUNG, BERITAANDA – Perjalanan karier Andreas Chandra Santoso hingga dipercaya memimpin Bank Rakyat Indonesia (BRI) Region 5 Bandar Lampung bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu sekitar 20 tahun bagi putra daerah Lampung itu untuk akhirnya bisa mengabdi di kampung halamannya.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) tersebut kini menjabat sebagai Regional Chief Executive Officer (CEO) BRI Region 5 Bandar Lampung. Jabatan strategis itu bahkan belum genap sebulan ia emban.

Dibalik pencapaiannya saat ini, ada kisah unik yang dialami Andreas diawal kariernya. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2002, ia ternyata pernah dua kali gagal saat melamar pekerjaan di BRI.

“Iya, dua kali lamaran saya ditolak oleh BRI dulu. Kalau dipikir-pikir memang lucu. Tapi mungkin memang begitulah takdir saya,” ungkap Andreas saat ditemui di kantornya beberapa waktu yang lalu, saat menerima kunjungan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, Wirahadikusumah.

Dihadapan Wira, Andreas memaparkan perjalanan karier perbankannya yang dimulai dari staf bagian kredit (credit officer) di kantor Cabang BRI Krekot, Jakarta Pusat. Dari sana, ia terus meniti karier hingga dipercaya bertugas diberbagai daerah di Indonesia.

Beberapa wilayah yang pernah menjadi tempat pengabdiannya antara lain Balikpapan, Kendari, Gresik, Payakumbuh di Sumatera Barat, Batam, hingga kembali ke Jakarta.

Pada awal Februari 2026, Andreas akhirnya mendapat amanah sebagai pucuk pimpinan BRI di Provinsi Lampung. Baginya, tugas tersebut bukan sekadar menjalankan bisnis perbankan, tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

“Tugas saya bukan sekadar menjalankan bisnis perbankan, tetapi juga harus punya andil dalam pembangunan Lampung. Terlebih saya putra daerah. Tentu tidak mudah, tapi saya menyukai tantangan ini,” tegasnya.

Saat ini, Andreas mengatakan pihaknya tengah fokus menyelaraskan program bisnis BRI dengan agenda pembangunan daerah yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Lampung. Salah satu rencana yang sedang dijajaki adalah pengembangan program Desa BRILiaN berbasis wisata, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung.

“Masih tahap penjajakan. Beberapa waktu lalu kami sudah bertemu dengan Kepala Disparekraf untuk membahas rencana ini,” jelasnya.

Selain itu, BRI juga telah menjalankan program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Beberapa komoditas yang menjadi fokus pengembangan antara lain kopi, tapioka, dan daging sapi. Melalui program ini, diharapkan petani dapat memperoleh harga jual hasil panen yang lebih baik, sementara pembeli mendapatkan pasokan barang secara lebih mudah.

“Dengan program ini, kehadiran BRI di tengah masyarakat akan semakin dirasakan manfaatnya. Petani sejahtera, pengusaha untung, dan kredit pun berjalan lancar. Itu tujuan kami,” pungkas Andreas, yang menempuh pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Lampung. (*)

Bagaimana Menurut Anda